Empat Langkah Strategis Capai Swasembada Beras

SAMARINDA–Upaya untuk mencapai swasembada beras di Kaltim dilakukan dengan empat langkah strategis yaitu dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, rehabilitasi lahan dan diversifikasi pangan di masyarakat.
"Tahun 2012 Kaltim masih kekurangan beras sebanyak 78.150 ton. Dengan empat langkah yang disiapkan, diharapkan akhir 2013 atau maksimal tahun 2014 Kaltim sudah dapat mencapai swasembada beras," ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, H. Ibrahim didampingi Kepala Bidang Produksi Pangan, Gunawan Wibisono, Senin (13/5).
Dijelaskan, langkah intensifikasi dilakukan agar lahan yang tersedia dapat meningkat produksinya dengan cara pemberian teknologi pertanian, dukungan bibit dan pupuk serta peralatan pertanian.
Sedangkan untuk langkah ekstensifikasi, yaitu dengan cara perluasan lahan pertanian yang telah tersedia diantaranya dengan pemilihan 50 kecamatan potensi pertanian untuk menyiapkan masing-masing 100 hektare serta dukungan pada program rice dan food estate.
Dua langkah lainnya, lanjut dia, yaitu dengan cara rehabilitasi dan pemulihan lahan yang telah rusak agar dapat ditanami kembali dengan bahan pangan. Sedangkan cara terakhir adalah langkah diversifikasi dengan cara mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi nasi dengan bahan pangan pengganti lainnya.
Diterangkan, berdasarkan data 2011, lahan pertanian di Kaltim yang tersedia (existing) seluas 137.876 hektare dengan masa tanam satu hingga dua kali per tahun. Sementara lahan padi ladang yang tersedia antara 50-60 ribu hektare.
Untuk mencapai swasembada beras, Kaltim harus mampu memproduksi padi minimal sebanyak 695.262 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau jika dijadikan beras menjadi 436.207 ton. Dengan demikian diharapkan minimal dapat mencukupi kebutuhan pangan penduduk Kaltim yang rata-rata mengkonsumsi 113 kilogram per kapita per tahun.
"Ini adalah target dengan pertumbuhan penduduk 2,2 persen dan jumlah penduduk yang mengkonsumsi berdasarkan pada hasil Sensus Penduduk 2010 dengan jumlah penduduk sebanyak 3,8 juta jiwa," tegasnya.
Diingatkan, bahwa untuk mencapai swasembada beras ini diperlukan kerja seluruh pihak, bukan tanggungjawab Dinas Pertanian semata termasuk partisipasi masyarakat untuk mengurangi konsumsi nasi dan menggantinya (konversi) dengan bahan pangan lainnya.
Diakui, bahwa penduduk asli Kalimantan tidak memiliki tradisi dan budaya makan selain nasi, seperti halnya budaya masyarakat Jawa yang mampu mengganti nasi dengan bahan pangan yang berasal dari ubi kayu atau singkong. Atau pada masyarakat Indonesia timur yang mampu mengandalkan sagu sebagai bahan pangan selain nasi.
"Untuk mengganti nasi dengan bahan pangan lain di masyarakat memang memerlukan kesabaran dan kesadaran masyarakat. Misalnya kesadaran untuk mengurangi waktu makan nasi dari tiga kali sehari menjadi satu kali saja dan mengganti dengan buah atau sayuran," ujarnya. (yul/hmsprov).

///Foto : Kaltim terus meingkatan produktifitas padi untuk mencapai swasembada beras melalui perluasan lahan dan peningkatan produksi gabah.(dok/humsprov kaltim)


 

Berita Terkait