Food dan Rice Estate Bangkitkan Semangat Pembangunan Pertanian

YOGJAKARTA  -  Pembangunan sektor pertanian di Kaltim kini  bangkit dan lebih bersemangat dengan adanya Program Food Estate dan Rice Estate dengan tujuan  menjadikan Kaltim sebagai lumbung pangan nasional. 
Semangat untuk membangun pertanian ini tidak saja dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov Kaltim tetapi juga didukung oleh instansi terkait yaitu Balai Wilayah Sungai III Kalimantan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Demikian dikatakan Kelapa Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, H  Ibrahim saat membuka Capacity Building Water Recources Management (CBWRM) 2013 di Yogyakarta, Senin malam (15/4).
“Jadi program food estate dalam waktu dekat minimal dapat memenuhi kekurangan beras di Kaltim yang hingga akhir 2012 mencapai 87 ribu ton.  Sementara jangka panjangnya adalah menjadikan Kaltim sebagai lumbung pangan nasional,” jelasnya.
Dijelaskan Ibrahim, untuk mengatasi kekurangan beras ini, pihaknya telah menyusun dan mendata 50 kecamatan strategis dan potensial di Kaltim yang memikili kemampuan dalam peningkatan produksi beras.
“Kita bertekad pada 2014 Kaltim sudah dapat swasembada beras karena menurut perhitungan  hingga 2013,  terdapat kelebihan beras sebanyak 1.047 ton,” ujarnya.
Dijelaskannya dari 50 kecamatan terpilih untuk peningkatan produksi beras dan pangan tersebut, 41 titik diantaranya  telah terdata memiliki potensi air dan irigasi serta ketersediaan lahan pertanian dan petani penggarap.
Dengan adanya kegiatan CBWRM diharapkan semua instansi dapat bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas, tidak saling menyalahkan dan terus berkoordinasi demi satu tujuan yaitu ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh masyarakat Kaltim dan Indonesia pada umumnya.
Ibrahim juga mengucapkan terima kasih kepada Balai Wilayah Sungai Kalimantan III yang begitu peduli terhadap keberadaan irigasi-irigasi di seluruh Kaltim.
Menurutnya, ketersediaan air mutlak menjadi faktor peningkatan produksi pangan karena keinginan petani sebenarnya sederhana saja yaitu jika mereka ingin tanam padi maka ketersediaaan air harus siap dan tersedia.
“Ketersediaan air ini yang harus kita perhatikan. Jadi kita tidak perlu membangun irigasi berskala besar tetapi irigasi yang mampu menyediakan air saat petani akan tanam padi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, Irawan Hartono menjelaskan pihaknya sangat mendukung pembangunan sektor pertanian dalam upaya swasembada beras dengan memberikan kontribusi bagi pengelolaan irigasi  di Kaltim
“Kaltim yang sangat luas memiliki potensi  sebagai lumbung pangan baru bagi Indonesia melalui optimalisasi lahan, pengelolaan fasilitas irigasi dan penyediaan peta serta data yang akurat,” ujarnya.
Dipilihnya kota Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan CBWRM dikarenakan banyak irigasi besar yang telah dibangun dan lahan pertanian yang sukses memanfaatkan irigasi tersebut.
Selain belajar di ruangan, peserta juga akan diajak berkunjung ke Sabudam Kalikuning di Kabupaten Sleman, Waduk Sirmo Kabupaten Kulon Progo, dan kunjungan ke pantai Glagat Kabupaten  Bantul yang memiliki area pertanian lahan pasir pantai. (yul/hmsprov).

////Foto :Gubernur Kaltim, Dr H Awang Faroek Ishak bersama Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementrian Pertanian, Gatot Irianto ditengah sawah hasil dari program Food dan Rice Estate (doc Humasprov Kaltim).
 

 

Berita Terkait