Forum Kebijakan Ekspor Impor


SAMARINDA - Produk fashion Kaltim nampaknya cukup diminati pasar Timur Tengah. Namun sayang, pelaku usaha Kaltim justru masih menghadapi banyak kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar masyarakat Semenanjung Mediterania, Teluk Persia dan Semenanjung Sinai tersebut.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Perindagkop) dan UMKM Kaltim, Hj Elfina usai mewakili Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kaltim, H Ichwansyah membuka Forum Kebijakan Ekspor Impor di Hotel Horison Samarinda, Selasa (29/3). 

Beberapa permasalahan yang masih menjadi kendala utama pelaku usaha Kaltim adalah berkaitan dengan pemenuhan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produk. Selain itu, harga produk-produk Kaltim juga masih sulit bersaing.  

"Karena itu, para pelaku usaha sangat berharap pemerintah dapat melahirkan berbagai kebijakan yang mampu membangun kekuatan para pelaku usaha untuk melakukan ekspor dan memenuhi permintaan pasar luar negeri," kata Elfina.

Beberapa pekan lalu, salah satu pelaku usaha Kaltim yang bergerak di bidang fashion menjadi peserta misi dagang Indonesia ke Kairo, Mesir dalam fasilitasi Kementerian Perdagangan RI.

Elfina mengungkapkan, produk fashion Kaltim sebenarnya sangat diminati masyarakat Mesir, Syiria, Nigeria, Turki dan beberapa negara lain di Timur Tengah. Sayangnya hal ini belum mampu digarap dengan baik.  

Pasar Mesir, Syiria, Turki dan Nigeria nampak sangat  tertarik dengan kemeja yang dilapis dengan motif sarung Samarinda dan batik sutra halus khas Kaltim. Namun harga produk fashion Kaltim dinilai masih cukup tinggi sehingga kurang mampu bersaing dengan produk negara lain. Harga tinggi produk fashion Kaltim disebabkan bahan baku pembuatan produk yang hanya bisa diperoleh dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Elfina mengungkapkan, para pelaku usaha sangat berharap agar selain memberikan kebijakan ekspor yang pro rakyat, para pelaku usaha juga sangat menunggu  dukungan infrastruktur jalan dan jembatan serta pengembangan yang serius untuk kawasan-kawasan industri. Sehingga ke depan, bahan-bahan penting untuk pembuatan produk-produk fashion Kaltim itu bisa diproduksi di Kaltim agar harga produk Kaltim bisa lebih berdaya saing.

"Jadi tidak benar kalau produk kita dianggap tidak berkualitas atau tidak diminati. Bahkan salah distributor di Ismailiyah, Mesir siap memesan dengan syarat minimal 500 lusin dalam sekali pengiriman. Nah, ini kesulitan pengusaha kita. Sulit memenuhi  kuantitas dan kontinuitas serta harga produknya masih tinggi," kata Elfina.

Karena itu, Disperindagkop dan UMKM Kaltim berinisiatif menggelar Forum Kebijakan Ekspor Impor agar para pelaku usaha bisa mendapat pengetahuan tentang berbagai kebijakan ekspor impor, sehingga mereka memiliki keyakinan yang lebih tinggi dengan pemahaman yang benar saat menggeluti bisnis yang bermuara pada ekspor dan impor.

Forum kebijakan ini merupakan kegiatan pertama yang melibatkan kerjasama antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan sehingga diharapkan, penjelasan dari berbagai sisi terkait bisa diterima lebih lengkap oleh sekitar 100 peserta forum yang berasal dari pelaku usaha, ekspor impor dan instansi teknis terkait di kabupaten dan kota. 

"Kita akan terus dorong peningkatan ekspor produk non migas non batubara. Hal ini penting untuk menutupi menurunnya ekspor dari pertambangan batubara yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini," kata Elfina. (sul/es/hmsprov)

Berita Terkait
Government Public Relation