Gantikan Sektor Migas dan Batu Bara Sebagai Penunjang Perekonomian

 

Sektor Pertanian dan Pariwisata Terus Dikembangkan

SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengungkapkan proyeksi pendapatan Kaltim akan mengalami penurunan selama lima tahun ke depan. Hal itu disebabkan adanya penurunan dana perimbangan yang diberikan oleh pemerintah pusat.

Awang Faroek menyebutkan, pada dana perimbangan dari hasil bagi pajak, pemicu penurunan adalah penurunan penerimaan bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sedangkan untuk dana perimbangan dari hasil bukan pajak, pemicu terbesarnya berasal dari bagi hasil sektor migas dan batubara.

“Untuk lima tahun ke depan kita akan terus berusaha meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dengan menggali semua potensi yang ada, sehingga kontribusi PAD terhadap APBD semakin meningkat. Dan tentu saja dengan meningkatnya kontribusi PAD dalam APBD maka struktur APBD Kaltim akan semakin bagus,” ungkap Awang Faroek dalam Rapat Paripurna ke-13 DPRD Kaltim, Selasa (20/5).

Awang Faroek mengatakan sebagai contoh adalah proyeksi pendapatan pada 2014 ditetapkan sebesar Rp10,33 triliun yang terdiri dari komponen PAD (pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah) sebesar Rp5,519 triliun.

Selanjutnya, dana perimbangan dari bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak dan dana perimbangan lainnya sebesar Rp4,44 triliun. Lain-lain pendapatan daerah yang sah (pendapatan hibah dan dana penyesuaian otonomi khusus) sebesar Rp367,12 miliar.        Salah satu faktor menurunnya pendapatan berasal dari bagi hasil sektor migas dan batu bara, hal ini berkaitan dengan pembatasan ekspor batu bara mentah ke luar negeri. Kaltim sebagai salah satu daerah penghasil batu bara sudah menyiapkan sejumlah program untuk mengatasi hal itu. 

“Kita telah membangun sejumlah kawasan industri yang didalamnya terdapat pabrik pengolahan batu bara menjadi produk turunan, sehingga nilai ekonominya semakin meningkat dan tentu saja meningkatkan daya saing produk tersebut ketika dijual ke luar negeri,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, Pemprov Kaltim juga terus mengembangkan sektor pertanian dalam arti luas (pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan) dan pariwisata sebagai lokomotif baru perekonomian Kaltim menggantikan peran migas dan batu bara yang merupakan sumber daya alam tak terbarukan.

“Kita memiliki potensi lahan dan kelautan yang sangat luas untuk pengembangan sektor tersebut. Demikian juga dengan sektor pariwisata, banyak objek wisata di Kaltim yang bisa diperkenalkan dan dipromosikan kepada wisatawan lokal dan mancanegara. Kita harus bisa, untuk itu kita terus membangun infrastruktur penunjangnya,” pungkasnya. (her/sul/es/hmsprov)

 

///FOTO :  Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak melakukan panen sawit. Pengembangan perkebunan sawit menjadi salah satu unggulan dalam pembangunan pertanian dalam arti luas di Kaltim.(dok/humasprov)

 

Berita Terkait
Government Public Relation