GCF 2017 Lahirkan “Balikpapan Statement”

Gubernur Awang Faroek bersama para gubernur Anggota GCF lainnya. Gambar lain, GCF Project Leader, William Boyd memberi penjelasan jelang penutupan GCF 2017. Mereka menegaskan komitmen untuk mencegah deforestasi, degradasi dan mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat. (rosehan/humasprov kalti

 

BALIKPAPAN -  Seperti ditargetkan sebelumnya, Governors’ Climate and Forests Task Force (GCF) Annual Meeting 2017 akan mengunci pertemuan itu dengan pernyataan bersama yang mereka beri label “Balikpapan Statement”. Balikpapan Statement menjadi poin akhir dari pertemuan yang berlangsung sejak Senin (25/9) lalu yang diikuti gubernur dan perwakilan 38 provinsi dan Negara bagian pemilik hutan tropis dunia.

 

Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak didampingi GCF Project Leader, Willaiam Boyd  saat konferensi pers siang kemarin menjelaskan, Balikpapan Statement berisi tiga catatan penting. “Balikpapan Statement berisi kesepakatan untuk memperkuat kerjasama pemerintah sub nasional dan nasional. Juga memperkuat kerjasama dengan sektor swasta dan organisasi masyarakat adat dan komunitas lokal dalam organisasi masyarakat sipil di setiap Negara agar deforestasi dan degradasi bisa kita cegah,” ungkapAwang.

 

Konferensi juga bersepakat untuk melindungi dan mengakui hak-hak masyarakat adat atas tanah dan hutan. Indonesia sendiri telah memiliki Peraturan Menteri Kehutanan yang mengatur  terkait hutan desa dan hutan adat.  Kesepakatan ini akan lebih memperkuat kekuatan regulasi nasional tersebut, kata Awang.

 

Poin ketiga, konferensi yang digelar secara marathon dan simultan berhasil mendorong dan mengidentifikasi mekanisme pendanaan untuk memberikan insentif  bagi provinsi dan Negara bagian Anggota GCF yang berhasil dalam menjalankan program ekonomi hijau menuju pembangunan rendah emisi. “Kita bersyukur telah menghasilkan kesepahaman yang jauh lebih baik. Sudah mendengarkan masing-masing komentar dan tanggapan dari para gubernur dan wakil gubernur serta stake holder lainnya,” kata Awang.

 

Gubernur juga menyampaikan apresiasi tinggi atas dukungan tiga komunitas global, AMAN, Coica dan AMPB untuk Balikpapan Statement. “Saya sangat setuju dengan AMAN. Yang terpenting saat ini adalah action plan.  Bukan hanya komitmen di atas kertas. Bagaimana setiap Negara Anggota GCF bisa menikmatilanjuti hasil konferensi GCF dalam bentuk nyata di wilayah masing-masing,” tegas Gubernur.

 

Kaltim sendiri lanjut Awang, sudah lama bertekad menjaga kelestarian hutan.  dengan keragaman hayati di dalamnya. Setelah GCF ini,  dia berjanji akan segera membuat instruksi kepada bupati dan walikota dan semua stake holder di Kaltim untuk melaksanakan poin-poin Balikpapan Statement dengan kemitraan yang lebih baik. 

 

Gubernur juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam sukses kegiatan ini. Terkhusus untuk WilliamBoyd, GCF Project Leader. “Terima kasih juga kepada Pemerintah Norwegia yang telah menegaskan komitmen untuk menyumbang U$ 25 juta untuk semua Anggota GCF melalui UNDP,” ucap Awang.  

 

Apresiasi disampaikan kepada para penggiat lingkungan dan komunitas masyarakat adat dunia, AMAN, AMPB dan Coica. Gubernur berharap kolaborasi yang baik ini terus berlanjut di masa-masa mendatang. Kegiatan ditutup dengan closing dinner malam tadi, dan kunjungan peserta GCF Annual Meeting 2017 ke Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kunjungan tim lainnya diarahkan ke Asuri–ITCI. (sul/ri/humasprov)

Berita Terkait