Genjot Pembangunan Sektor Pertanian

Optimis Mampu Penuhi Kebutuhan Pangan Kaltim

 

SAMARINDA–Pemprov Kaltim terus fokus untuk pembangunan sektor pertanian dalam arti luas, khususnya pertanian padi sejumlah kabupaten/kota. Terlebih beberapa kabupaten/kota yang menjadi sentra produksi pertanian telah menjadi bagian dari Kaltara, sehingga Kaltim harus bekerja lebih keras dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan H Ibrahim mengatakan saat ini produksi lokal pertanian Kaltim dengan 10 kabupaten/kota yang ada hanya mampu memenuhi kebutuhan beras sektiar 74 persen, dan sisanya mendatangkan dari luar baik dari Jawa dan Sulawesi maupun daerah Kaltara.

“Tapi dalam waktu lima tahun kedepan akan kita genjot terus sektor pertanian. Karena dalam RPJMD 2014-2018 khususnya rencana strategis pembangunan pertanian di Kaltim, target pada 2018 adalah mampu memenuhi kebutuhan beras Kaltim diatas 92 persen. Namun bukan tidak mungkin kita sudah bisa mencapai swasembada beras dalam periode 2014-2018, jika memang program percepatan peningkatan hasil produksi berjalan dengan baik,” kata Ibrahim, Selasa (8/4).

Menurut dia, potensi lahan pertanian di Kaltim saat ini belum tergarap optimal dan infrastruktur pertanian juga masih belum mampu memenuhi kebutuhan petani. Bersama dengan instansi terkait lainnya, Dinas Pertanian akan mencoba memenuhi kebutuhan petani, seperti irigasi teknis yang ditangani Balai Wilayah Sungai, jalan usaha tani (Dinas Pekerjaan Umum), mekanisasi peralatan, hingga pasca panen/produksi (Disperindagkop dan UMKM).

“Yang jelas dengan saling bersinergi, kerja keras dan kebersamaan hal itu bisa kita wujudkan. Fasilitas infrastruktur akan dibangun sebaik-baiknya, sehingga petani bisa mengerjakan semuanya dengan baik, mulai dari musim tanam hingga masa panen dan pasca panen dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.

Ibrahim mengungkapkan ketergantungan petani terhadap musim hujan yang menyebabkan hanya dapat sekali panen dalam setahun sebenarnya dapat diubah jika irigasi teknis berjalan dengan baik. Jika hal itu bisa dilakukan, panen padi bisa dilakukan dua kali bahkan tiga kali dalam setahun. Belum lagi ditambah dengan mekanisasi peralatan pertanian, yang akan mempermudah kerja petani dan menghemat biaya serta waktu.

“Sebagai contoh di wilayah Penajam Paser Utara yang pertaniannya masih bergantung terhadap musim hujan, sehingga hanya bisa satu kali panen dalam setahun. Sedangkan produktifitasnya sudah sekitar 7 ton/hektare untuk sekali panen. Jika bisa ditingkatkan menjadi dua atau tiga kali panen, produksinya lebih besar lagi,” ungkapnya. (her/sul/es/hmsprov).

 

///FOTO : H Ibrahim

Berita Terkait