Gubernur Laporkan Persiapan GCF Task Force 2017 di Balikpapan, Menteri LHK Apresiasi Kaltim

Gubernur Awang Faroek Ishak dan Sekprov Rusmadi (dua dari kiri) saat bertemu Menteri LHK Siti Nurbaya, Senin (19/6). (ist/humasprovkaltim)

 

SAMARINDA - Komitmen pengelolaan hutan yang ditunjukkan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mendapat sambutan positif Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar. Apresiasi Menteri Siti Nurbaya juga terkait aktifnya Kaltim dalam forum Governor's Climate and Forest (GCF) yang beranggotakan 35 negara bagian dan provinsi dari negara Brazil, Kolombia, Indonesia, Pantai Gading, Meksiko, Nigeria, Peru, Spanyol dan Amerika Serikat.

 

Hal itu terungkap setelah Gubernur Awang Faroek bertemu Menteri Siti Nurbaya di Jakarta, Senin (19/6) di Jakarta. Kepada Menteri Gubernur menyampaikan berdasarkan hasil rapat tahunan GCF 2016 di Jalisco, Meksiko, Kaltim ditetapkan sebagai tuan rumah atau Chair GCF Task Force 2016-2017.

 

"Bu Menteri tadi menyampaikan, bahwa Kaltim sangat tepat menjadi tuan rumah GCF karena komitmen yang kuat dari Gubernur dan Sekda untuk pengelolaan hutan yang baik dan lestari. Bu Menteri bahkan menegaskan, Kaltim patut menjadi contoh provinsi lain di Indonesia," kata Gubernur Awang Faroek.

 

Sukses dan kepercayaan Kaltim ini tidak datang begitu saja. Kaltim membuktikan dengan banyak contoh pengelolaan hutan dan masyarakat sekitar hutan yang baik hingga menjadi perhatian dunia. Terbaru salah satu kawasan hutan Kaltim yang masih perawan dan lestari, yakni Kampung Merabu di Kabupaten Berau mendapat kunjungan pejabat pemerintah Norwegia dan Jerman.

 

"Bu Menteri juga memberikan apresiasi kepada Kaltim karena pemerintah Norwegia dan Jerman mau belajar tentang pengelolaan hutan lestari dan berkelanjutan ke Kampung Merabu," ungkap Awang.

 

Dijelaskan Awang, Kaltim sudah menjadi anggota GCF sejak 2008 dan aktif hadir di setiap rapat tahunan di berbagai negara anggota GCF. Sedangkan provinsi lain di Indonesia yang menjadi anggota GCF adalah Provinsi Nangro Aceh Darussalam, Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Papua Barat.

 

Rapat tahunan GCF di Kaltim rencananya dilaksanakan pada 25-29 September 2017 di Hotel Gran Senyiur dan Hotel Novotel Balikpapan. Peserta rapat tahunan terdiri dari bussiness meeting sebanyak 70 orang (masing-masing 2 delegasi dari 35 provinsi/negara bagian anggota GCF ditambah para gubernur yang hadir). Kemudian public meeting diperkirakan 300 hingga 400 orang yang terdiridari delegasi GCF, lembaga-lembaga internasional, komunitas donor, sektor swasta, masyarakat dan lain-lain.

 

Rapat tahunan nanti akan mengangkat tema "Membangun Ekonomi Hijau dan Inklusif : Pendekatan Keberlanjutan Yurisdiksional". Tema tersebut akan diterjemahkan dengan mendorong para produsen dan pemerintah daerah untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan tropis dalam skala yang subtantif dan mewujukan keberlanjutan berbasis yurisdiksi melalui pembangunan yang menyertakan berbagai jenis kemitraan publik.

 

Rapat ini juga akan fokus pada harmonisasi dan penyelerasan berbagai proses mewujudkan sertifikasi yurisdiksional, yurisdictional sourcing REDD+ dan kebijakan domestik. "Kami juga akan membangun kriteria kinerja sederhana bagi produksi komoditas berkelanjutan atau bebas deforestasi di tingkat yurisdiksi yang disepakati bersama. Kami juga akan membangun kemitraan di tingkat implementasi antara masing-masing yurisdiksi anggota GCF, para pelaku rantai pasok utama, lembaga donor dan pasar," kata beber Gubernur.

 

Format rapat tahunan ini akan dikemas dalam bentuk dialog tingkat tinggi, pertemuan umum tingkat tinggi dan sisi kerja dan diskusi panel. Rapat tahunan ini juga diharapkan menghasilkan satu keluaran pokok yakni "Piagam Balikpapan". Satu komitmen untuk menjaga dan melestarikan hutan serta memanfaatkan berbagai potensi dengan tetap memperhitungkan faktor kelestarian dan keberlanjutan hutan. (sul/es/humasprov)

Berita Terkait