Gubernur Minta Kepala Daerah Fokus Kembangkan Pertanian

Wujudkan Ketahanan Pangan Kaltim

SAMARINDA – Dalam upaya bersama mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan menuju kedaulatan pangan baik di daerah bahkan nasional, maka setiap kepala daerah harus fokus pada pengembangan pertanian di daerah masing-masing.

Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek mengharapkan agar para bupati dan walikota memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan pertanian dalam arti luas di daerahnya, terutama disesuaikan dengan keunggulan dan potensi wilayahnya.

Kebijakan yang dibuat  para kepala daerah harus mengarah pada peningkatan serta pemberdayaan pelaku utama baik petani maupun nelayan serta pelaku usaha di sektor pertanian lainnya di daerah.

Apalagi ujar Gubernur, potensi lahan yang dimiliki Kaltim sangat besar untuk pengembangan kegiatan pertaian dalam arti luas. Namun, kendala yang dihadapi saat ini adalah semakin menurunnya pelaku utama serta terjadi alih fungsi lahan.

Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian para kepala daerah sekaligus melakukan langkah-langkah antisipasi guna mengurangi terjadinya alih fungsi lahan pertanian pada kegiatan usaha yang belum tentu memberikan imbas positif bagi masyarakat.

“Sekarang ini bagaimana kita semua baik pemerintah (bupati/walikota) perguruan tinggi didukung privat sektor (swasta) fokus dan satu semangat serta satu tekad untuk bersama-sama mengembangkan pertanian di daerah,” ujar Awang Faroek Ishak baru-baru ini.

Awang menjelaskan kemandirian atau ketahanan pangan tidak semata diukur pada kemampuan mensuplai kebutuhan pangan domestic atau tidak tetapi minimal bagaimana komoditi pangan atau kebutuhan pokok masyarakat selalu tersedia.

Diakuinya, saat ini Kaltim masih kekurangan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Diantaranya, kebutuhan pokok berupa beras hanya mampu dipenuhi (ketersediaan) sekitar 81,41 persen atau kekurangan 80.836 ton.

Sebab produksi gabah Kaltim  pada 2013 sebesar 564.075 ton GKG sementara beras (siap konsumsi)  353.901 ton dari kebutuhan  434.737 ton.

Jagung mampu diproduksi sekitar 5.804 ton dan siap konsumsi mencapai 4.991 ton atau 27,13 persen dari kebutuhan 18.390 ton atau terjadi kekurangan 13.999 ton.

Produksi kedelai 1.486 ton dengan siap konsumsi sekitar 1.345 ton atau ketersediaan 5,06 persen dari kebutuhan 26.546 ton atau terjadi kekurangan sebesar 25.251 ton. 

Sementara potensi lahan yang dimiliki Kaltim sangat besar namun belum dikelola secara maksimal, terutama dari segi kebijakan di tingkat kabupaten dan kota yang belum menjadikan program pertanian dalam arti luas sebagai program prioritas daerah.

Ke depan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) khususnya kabupaten dan kota baik bupati/walikota, akademisi (perguruan tinggi) serta swasta harus menyatukan komitmen dan memberikan perhatian pada pengembangan pertanian dalam arti luas.

“Jangka panjang kita berharap semua komponen selain petani dan nelayan juga bupati dan walikota mampu menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi dan swasta untuk  mendukung pengembangan pertanian di daeranya,” harap Awang.

Gubernur menambahkan pertanian dalam arti luas selain potensial dikembangkan tetapi diharapkan menjadi lokomotif ekonomi di Kaltim. Sebab, penunjang pertumbuhan ekonomi daerah masih bergantung pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Sementara itu jumlah maupun kualitasnya setiap tahunnya semakin menurun bahkan pada saatnya nanti akan habis baik minyak bumi dan gas maupun batubara. Sehingga, pemerintah daerah harus mempersiapkan pengganti lokomotif ekonomi terbarukan.

“Tidak ada pilihan lain, maka pertanian dalam arti luas sebagai sumber daya alam yang dapat diperbarui harus dikembangkan sejak saat ini yang pada saatnya nanti mampu menggantikan migas dan batubara yang akan habis,” ungkap Awang Faroek Ishak.(yans/hmsprov)

Berita Terkait
Government Public Relation