Kalimantan Timur
Gubernur Minta Pembebasan Lahan Segera di Selesaikan
Sukseskan Pembangunan Perekeretaapian di Kaltim SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak meminta kepada seluruh instansi terkait di lingkungan Pemprov Kaltim dan pemerintah kabupaten/kota yang dilintasi jalur kereta api kalimantan, yakni Kutai Barat, Paser, Penajam Paser Utara dan Balikpapan, agar dapat memberikan dukungan penuh dan mensukseskan pembangunan rel kereta api garapan Borneo Railways. “Ini jangan dilihat kerjasama antara Kaltim dengan Borneo Railways, tetapi antara Pemerintah Indonesia dengan Rusia. Ini kerjasama antar dua negara. Sehingga semua permasalahan terkait pembangunan rel kereta api sepanjang sekitar 192 kilometer ini harus diselesaikan secepat mungkin. Mari kita sukseskan pembangunan kereta api ini,” kata Awang Faroek dalam Rapat Rencana Pembangunan Perkeretaapian di Kaltim dengan Presdir PT Kereta Api Borneo bersama jajarannya di Ruang Tepian I Kantor Gubernur, Jumat (24/1). Menurut dia, semua permasalahan yang ada harus diinventarisir, terutama terkait pembebasan lahan yang selama ini kerap menjadi masalah utama dalam pelaksanaan proyek pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah Kaltim. Best practice yang dapat ditiru, sebut dia, seperti apa yang dilakukan Pemkab Kutai Timur, dimana untuk progres pembebasan lahan untuk pembangunan rel kereta api Muara Wahau-Lubuk Tutung (135 kilometer) sudah mencapai 95 persen. “Di Kutim sosialisasi kepada masyarakat sudah dilakukan, sehingga masyarakat berbondong-bondong mendatangi kantor lurah dan camat untuk mendapatkan kompensasi lahan mereka yang terkena jalur kereta api. Pembebasan lahan ini penting, jangan sampai menjadi masalah pada saat akan dimulai pembangunan proyek ataupun dikemudian hari,” sebutnya. Awang Faroek mengungkapkan kesiapan dari PT Kereta Api Borneo untuk pembangunan rel kereta api yang menghubungkan Kutai Barat-Paser-PPU-Balikpapan ini terus dipantau oleh Pemprov. Hal ini tidak lepas dari rencana peresmian dan ground breaking oleh Presiden SBY pada Juni mendatang untuk sejumlah proyek besar di Kaltim, seperti Bandara Sepinggan, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan, Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tenggarong dan Maloy Trans Kalimantan Economic Zone (MTKEZ). “Bertepatan dengan membuka pergelaran Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat nasional di Samarinda pada Juni nanti, Bapak Presiden juga akan meresmikan Bandara Sepinggan dan ground breaking proyek lainnya. Pembangunan rel kereta api Borneo juga harus disertakan,” ungkapnya. Terkait hal tersebut, Presiden Direktur PT Kereta Api Borneo Andrey Shigaev mengungkapkan progres proyek pembangunan perkeretaapian di Kaltim saat ini adalah pihaknya sedang fokus untuk mendapatkan ijin prinsipal dari pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Saat ini, sudah didapatkan rekomendasi dari Pemkab PPU dan Pemkot Balikpapan. Dan dalam waktu dekat diharapkan rekomendasi dari Paser dan Kutai Barat segera didapatkan untuk kemudian diserahkan ke gubernur dan segera menindaklanjuti dengan penetapan persetujuan prinsip oleh Pemprov. “Studi awal untuk akuisisi lahan dan sudah dilakukan survei udara dan studi engineering di lapangan. Persiapan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) secara menyeluruh sudah dilakukan, termasuk diantaranya untuk memperoleh ijin prinsip dan memastikan perencanaan tata ruang dapat mengakomodir kereta api, serta meperoleh ijin pinjam pakai untuk lahan,” ungkapnya. Menurut dia, rel kereta api sepanjang sekitar 200 kilometer yang melintasi empat kabupaten/kota di Kaltim ini merupakan pembangunan perkeretaapian untuk tahap pertama dengan estimasi biaya mencapai Rp1,7 triliun. Sebagai informasi, untuk Kutai Barat yang dilintasi rel kereta api sepanjang 80 kilometer, Paser (40 kilometer), PPU (70 kilometer) dan Balikpapan (10 kilometer). “Kita ingin mengoptimalkan penggunaan kereta api dipadukan dengan infrastruktur pendukung lainnya yang sedang dibangun Pemprov Kaltim seperti Jembatan Pulau Balang, jalan tol Balikpapan-Samarinda ataupun Bandara Sepinggan. Kita juga ingin Melak (Kutai Barat) terkoneksi dengan Balikpapan semudah terkoneksinya Balikpapan dengan Samarinda seperti saat ini,” jelasnya. Tak hanya itu, PT Kereta Api Borneo dalam pengembangan dan operasional perkeretaapian di Kaltim akan melibatkan tenaga lokal sekitar 60 persen dan tenaga asing 40 persen untuk tahun pertama. Dan secara bertahap hingga tujuh tahun berikutnya semua akan dikelola oleh tenaga lokal. Selain itu, PT Kereta Api Borneo bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kaltim juga akan melakukan pengembangan sumber daya manusia, melalui pemberian beasiswa ke Rusia bagi putra-putri Kaltim untuk menuntut ilmu tentang perkeretaapian di beberapa universitas hasil rekomendasi PT Kereta Api Borneo, diantaranya Moscow State University of Railways Engineering dan St Petersburg State University of Railways Transport. “Beasiswa dibiayai oleh Pemprov dengan dukungan PT Kereta Api Borneo, selanjutnya untuk pendidikan yang lebih tinggi pembiayaan dilakukan melalui kerjasama pemerintah Indonesia dan Rusia. Untuk tahun ini kita akan mulai untuk 50 orang,” sebutnya. Turut hadir pada kesempatan itu, Bupati PPU Yusran Aspar, Ketua Pengadilan Tinggi Samarinda I Made Ariwangsa, Kepala BPN Kaltim Made Ngurah Pariatna, Kepala Dinas Perhubungan Kaltim H Zairin Zain, Kepala Dinas PU Kaltim HM Taufik Fauzi, Kepala Dinas Perkebunan Hj Etnawati, Kepala Biro Humas dan Protokol Setprov Kaltim S Adiyat, perwakilan kabupaten/kota, serta perusahaan batu bara dan perkebunan di Kaltim. (her/hmsprov) ///Foto: SECEPAT MUNGKIN. Pertemuan Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak bersama jajaran PT Kereta Api Borneo dan para Kepala Daerah terkait Rencana Pembangunan Perkeretaapian (humasprov kaltim).
Berita Terkait