Hubungan Kekerabatan Raja Kutai dan Raja Pasir (2) Habis

Aji Mohammad Muslehudin dan Berdirinya Kota Tenggarong

Setelah beberapa lama berada di Wajok Negeri Paniki, Aji Doya bergelar Aji Puteri Agung (permaisuri Sultan Aji Mohammad Idris) yang hamil tua merasa akan melahirkan. Seketika turun angin rebut, petir sambung menyambung dan halilintar menguncang bumi.

Namun tiba-tiba angin ributpun reda, hujan rintik-rintik dan suara guruh di kejauhan serta anginpun sepoi-sepoi dan sepasang bianglala lalu membelit mega, tanda anak raja akan lahir dan dari dalam istana terdengar tangisan seorang bayi ternyata Aji Doya melahirkan seorang putera yang kemudian diberi nama Aji Imbut untuk mengingatkan kelahirannya diawali angin rebut.

Tahun 1739 itu Sultan Aji Mohammad Idris telah gugur di Anung Kawangnge sebagai sekutu La Maddukelleng dalam perang melawan Belanda dan diberi gelar La Derisek Daenna Parisi Arung Kutek Petta Matinu Ri Kawanne.

Menjelang ajalnya Sultan Aji Mohammad Idris menitipkan Keris Buritkang (Pusaka kerajaan Kutai) kepada La Barru dan berpesan agar keris tersebut disampaikan kepada Aji Puteri Agung di Tanah Kutai kelak diserahkan kepada puteranya yang berhak menjadi raja.

Dengan bantuan Pua Ado La Tojang Daeng Ripetta dan pasukan Bugisnya di Mangkujenang membawa Aji Imbut (Sultan Aji Mohammad Muslehuddin 1780-1816) dari Wajok ke Tanah Kutai. Aji Imbut sampai dewasa tinggal di Wajok (Sulawesi) diasuh Matoa Wajok La Maddukelleng yang mempunyai pengalaman luas mengarungi samudera.

Selama di  Pemarangan Aji Imbut gelisah dan merasa tertekan disamping karena sering diganggu bajak laut dari Solok Filipina, sehingga ibukota kerajaan sudah tidak aman lagi dan kehilangan apuahnya.

Sultan berkeinginan mencari tempat baru untuk menjadi ibukota kerajaan, sehingga bermusyawarah dengan para pembesar kerajaan dan menceritakan mimpinya tiga malam berturut-turut melihat ular naga berenang di Sungai Mahakam bermain dengan kemala. Maka ditelusurilah Sungai Mahakam ke sebelah hulu  dan tidak lama ditemukan sebuah pulau (sekarang Pulau Kumala) yang berada di muara sebuah sungai (sekarang Sungai Tenggarong) yang selama itu dihuni Suku Kedang Lampong.

Dalam musyawarah itu Pua Adok mengusulkan kota yang akan dibangun sebaiknya diberi nama Tangga Arung (Tangga/ Rumah Raja) yang kemudian memperoleh persetujuan Sultan yang akhirnya menjadi cikal bakal Kota Tenggarong saat ini. Sultan Aji Mohammad Muslehuddin yang lebih dikenal dengan nama Aji Imbut membangun Kota Tenggarong pada 28 September 1782 memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tenggarong.

Sebelumnya pernah terjadi pemindahan ibu kota kerajaan pada masa pemerintahan Sultan Kutai Pangeran Dipati Tua (1700-1710)  yang meindahkan pusat pemerintahan dari Kutai Lama ke Pemarangan, kemudian masa pemerintahan Aji Imbut memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Kota Tenggarong.

Setelah Raja Kutai bergelar Aji Imbut wafat pemerintahan dilanjutkan putera mahkota bernama Sultan Aji Muhammad Salehuddin (1816-1845) dan selama pemerintahan Raja Kutai ke-17 ini kerajaan terus bergolak karena terjadi peperangan dengan pihak Belanda.

Jiwa patriotis yang telah mengakar dalam diri Sultan Aji Muhammad Salehuddin membuat pihak kerajaan selalu berseteru dengan kolonial Belanda dan akhirnya jatuh sakit dan wafat pada 1 Juli 1845 atau setelah kurang lebih sembilan bulan menandatangani perjanjian 11 Oktober 1844.

 

Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman

 

Pengganti Sultan Aji Muhammad Salehuddin adalah puteranya bernama Aji Muhammad Sulaiman yang naik tahta pada 1850 atau setelah masa Dewan Perwalian (1845-1850) karena pada waktu itu putera mahkota selaku pewaris tahta masih belum dewasa.

Pemerintahan kerajaan dipangku oleh Dewan Perwalian terdiri dari Pangeran Mangkubumi, Pangeran Dipati dan Pangeran Senopati. Namun setelah dewasa Aji Muhammad Sulaiman memegang tampuk pemerintahan (1850-1899) dan diberi gelar Sultan Aji Muhammad Sulaiman Al Adil Chalifatul Amirul Mukminin Fibilade Kutai.

Sosok Sultan AM Sulaiman menurut pandangan seorang naturalist dan explorer Carl Bock (1845-1932) asal Norwegia menyimpulkan bahwa sultan berprilaku sederhana, murah hati dan dekat serta dicintai rakyat.

Selama memerintah itu Sultan AM Sulaiman  memiliki sifat demokratis yang dilandasi musyawarah dan mufakat serta berpegang teguh pada hukum syara’ dan adat budaya leluhur sebagaimana tersurat dalam Kitab Panji Selaten (Undang-Undang Dasar Negara Kutai Kartanegara).

Karena keperihatinan terhadap hak-hak manusia sejak tahun 1873 melarang perdagangan manusia sebagai orang tebusan dan menghapuskan perbudakan di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara dan memerintahkan perbaikan nasib para budak tersebut.

Pada 1874 pembangunan Masjid Jamik atas perintah Sultan AM Sulaiman telah selesai sebagai pengganti Mesjid Agung yang dibakar Belanda pada 6 April 1844 sewaktu armada t’Hooft menyerang Kota Tenggarong.

Selain itu, setiap tahun menyediakan dana yang besar untuk memberangkatkan rakyatnya ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bahkan mambangun Asrama Haji di Suadi ASrabia untuk memberikan pelayanan bagi jemaah haji dari tanah air.

Pada waktu Perang Banjar pada 1859-1863, Sultan AM Sulaiman telah memberi perlindungan bagi para pangeran Banjar yang melarikan diri dari pembantaian yang dilakukan kolonial Belanda kemudian menetap di Muara Pahu dan Kota Tenggarong.

Sementara itu, terkait dengan peningkatan ekonomi rakyat. Beberapa tindakan Sultan AM Sulaiman, yakni tahun 1882 diberikan konsesi pertambangan minyak di Sangasanga kepada perusahaan JH Manten dan Balikpapan kepada perusahaan Mathilda dan tahun 1886 diberi konsesi pertambangan batu bara di Loa Kulu kepada Oost Borneo Maatschappij (OBM).

Kemudian  tahun 1896 kedua konsesi ini dilebur menjadi Nederlandsche Industrie en Handel Maatschappij Amsterdam. Tahun 1894 diberikan konsesi pertambangan minyak di Balikpapan kepada Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang setelah Indonesia merdeka menjadi PN Pertamina (perusahaan milik negara).

Termasuk diberikan konsesi untuk penebangan kayu dan perkebunan karet dan kelapa  kepada NVD BPM serta di bidang pertanian diberikan lahan seluas 3.119,44 hektare di Sungai Pinang dan Karang Asam kepada pemegang konsesi Landbouw (pertanian).

Sedangkan upaya pelestarian lingkungan hidup, Sultan AM Sulaiman menetapkan kawasan Hutan Lindung Marga Satwa di Bontang seluas 306.000 ha. Namun pada tahun 1982 saat diresmikan menjadi Taman Nasional Kutai oleh Pemerintah Indonesia luasannya hanya mencapai 200.000 ha dan saat ini tersisa 198.629 ha akibat kepentingan pertambangan dan industri.

Demikian juga dengan pelestarian ikan air tawar ditetapkan larangan untuk mengambil ikan di Danau Batu Bumbun yang disebut Kenohan Aji. Kemudian pada tahun 1910 didatangkan bibit ikan Biawan dari Kalimantan Selatan dan akhirnya menjadi komoditas komersil hidup di Sungai Mahakam dikembangbiakkan ke Sulawesi dan memenuhi Danau Poso.

Tenggarong merupakan kota pertama di Kaltim yang memperoleh penerangan listrik saat beroperasinya Samarinda Tenggarongsche Electris Maatschappij di Loa Kulu yang mampu menyuplai listrik untuk Samarinda dan Tenggarong. (HAB Abdur Rachim bergelar Pangeran Ratu Kesuma/hms/hmsprov).

Berita Terkait
Government Public Relation