Ibrahim: Perlu Dukungan SKPD Terkait

Atasi Permasalahan Pembangunan Pertanian

 

SAMARINDA – Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim H Ibrahim mengatakan misi pembangunan pertanian Kaltim 2013-2018 adalah meningkatkan produksi dan nilai tambah tanaman pangan dan hortikultura, serta meningkatkan penanganan pemasaran hasil-hasil pertanian.

Untuk sektor pertanian dan tanaman pangan, ada empat komoditi yang diharapkan dapat mencapai swasembada hingga 2018, yakni beras, kedelai, jagung dan singkong (ubi kayu).

Hal ini juga tidak lepas dari upaya Pemprov untuk membangun ketahanan pangan di Kaltim, sesuai dengan komitmen Gubernur Kaltim bersama 10 gubernur provinsi lainnya dihadapan Presiden pada rapat koordinasi ketahanan pangan di Bukit Tinggi Sumatera Barat, pada Oktober 2013.

“Arahan Bapak Presiden tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan rapat kerja membangun komitmen bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan Kaltim pada 20 Januari 2014 di Balikpapan. Dan kemudian ditindaklanjuti lagi dengan penandatanganan komitmen bersama 55 instansi baik dari lingkup Pemprov, kabupaten/kota, instansi vertikal, TNI/Polri dan masyarakat untuk membangun ketahanan pangan di Kaltim,” jelas Ibrahim, Selasa (28/1).

Khusus untuk komoditi beras, kondisi di Kaltim sejak 2009, sebut Ibrahim, terus mengalami fluktuasi baik untuk produksi dan kebutuhan konsumsi. Tetapi secara garis besar mengalami peningkatan jumlah produksi, namun hal itu juga diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk yang tentu saja berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan konsumi.

Kondisi terakhir, pada 2013 berdasarkan Angka Ramalan II (Aram II) dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, dengan jumlah penduduk sekitar 3,8 juta jiwa, produksi beras siap konsumsi sebesar 359.928 ton, kebutuhan konsumsi 434.737 ton. Dimana masih kekurangan sekitar 74.809 ton beras. Angka tersebut dihitung berdasarkan standar konsumsi beras 113 kilogram/kapita/tahun.

“Kita optimis dengan gencarnya kegiatan insentifikasi dan ekstensifikasi, serta berbagai program dan terobosan yang dilakukan oleh Pemprov dan kabupaten/kota, pada 2014 Kaltim tidak lagi kekurangan ketersediaan beras, tetapi sudah bisa surplus beras,” ucap Ibrahim.

Berdasarkan komitmen Rakor di Bukit Tinggi, Sumbar, jelas Ibrahim, sasaran produksi padi nasional pada 2014, yaitu luas panen (14,31 juta hektare), produktivitas (53,50 kuintal/hektare) dan produksi (76,56 juta ton). Sedangkan sasaran Kaltim berdasarkan sasaran nasional, yaitu luas panen (157.177 hektare), produktivitas (42,96 kuintal/hektare) dan produksi (675.221 ton).

Untuk mewujudkan hal itu, ujar Ibrahim, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim terus berusaha mengatasi permasalahan utama pembangunan pertanian tanaman pangan di Kaltim yang sudah teridentifikasi, yakni keterbatasan sistem pengairan (waduk, bendungan, jaringan irigasi) dan belum optimalnya infrastruktur penunjang (jalan usaha tani, akses jalan pedesaan ke lokasi pemasaran).

Selanjutnya, masih kurangnya ketersediaan sarana produksi pertanian (benih, pupuk, pestisida dan alsintan), luas tanam dan luasan panen yang belum optimal, terbatasnya sumber daya manusia (SDM) petani, penyuluh dan petugas, serta masih rendahnya produktivitas sawah.

“Untuk mengatasi masalah utama pembangunan pertanian itu, kita juga memerlukan dukungan SKPD terkait, yaitu Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Dinas Perhubungan hingga perbankan. Kita juga melaksanakan empat strategi, yaitu peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, pengamanan produksi, penguatan kelembagaan dan pembiayaan,” pungkasnya. (her/hmsprov).

//Foto: Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim H Ibrahim pada rembuk ketahanan pangan. (johan/humasprov kaltim).

Berita Terkait