Infrastruktur Dukung Percepatan Pengembangan Kawasan Pertumbuhan Ekonomi

Kaltim Summit II 2013 Dalam Mewujudkan Visi Kaltim 2030 (11)

Konektivitas merupakan kunci pertumbuhan suatu wilayah dan menjadi salah satu faktor penting penentu pertumbuhan ekonomi dan daya saing. Menko Perekonomian Hatta Rajasa pada Rakernas Bappeda keempat 2013 menyampaikan bahwa kondisi infrastruktur di Indonesia belum terlalu buruk, namun percepatan perlu segera dilakukan jika tidak ingin tertinggal.  
Posisi indonesia saat ini adalah pada tahap "balooning" atau dalam kondisi dimana ketersediaan mulai meningkat namun angka permintaan masih lebih besar. Oleh karena itu diperlukan percepatan persediaan untuk selanjutnya perlahan-lahan masuk dalam tahapan peningkatan kualitas.
Menyadari pentingnya infrastruktur dalam mendorong daya saing dan pertumbuhan ekonomi, Kaltim menetapkan infrastruktur sebagai salah satu prioritas dalam transformasi ekonomi menuju Visi Kaltim Maju 2030.
Peletakan infrastruktur sebagai dasar transformasi ekonomi di Kalim sudah dimulai sejak 2009 (Periode Inisiasi). Periode ini merupakan kesempatan untuk melakukan investasi pembangunan infrastruktur sehingga pada periode dimana sektor industri telah menjadi sektor unggulan, infrastruktur tidak lagi menjadi penghambat daya saing.
Investasi infrastruktur Indonesia secara konsisten meningkat sekitar empat hingga lima persen dari PDB. Nilai ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan pengalaman negara-negara berkembang yang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur yakni berkisar tujuh hingga sembilan persen dari PDB.
Untuk Kaltim, investasi infrastruktur pemerintah sejak 2009 juga terus meningkat, namun nilainya belum mencapai satu persen dari PDRB. Penguatan konektivitas nasional yang efisien dan efektif merupakan salah satu strategi dalam pelaksanaan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Indonesia terletak pada klaster negara-negara dengan konsentrasi populasi yang cukup tinggi, yakni 50 persen dari populasi dunia serta menjadi konsentrasi pasar global. Disamping itu, Indonesia memiliki keunggulan geografis dalam lingkungan regional dan global. Posisinya yang diapit oleh dua benua dan dua samudera, menyebabkan Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki keuntungan dalam arus perdagangan internasional.
Pulau Kalimantan, sebagai Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang serta Lumbung Energi Nasional berbatasan langsung dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi, yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.
Keunggulan geografis yang dapat menguntungkan aspek konektivitas ini, belum dimanfaatkan secara optimal. ALKI II masih belum dikembangkan untuk menjadi pintu gerbang konektivitas inter-koridor bahkan untuk skala global.
Pemanfaatan ALKI II diharapkan dapat menjadi instrumen pendorong dan penarik keseimbangan ekonomi wilayah yang tidak hanya mendorong kegiatan ekonomi menjadi merata ke seluruh wilayah Indonesia, namun juga mendukung kemandirian dan daya saing ekonomi nasional yang lebih solid.
Konsep penguatan konektivitas dalam MP3EI, fokus penguatan konektivitas koridor Kalimantan adalah konektivitas intra koridor ekonomi, diantaranya dengan meningkatkan jalan akses lokal antara pusat-pusat pertumbuhan dengan fasilitas pendukung (pelabuhan dan energi). Meningkatkan dan membangun jalan/pelayaran lintas di Koridor Kalimantan.
Selanjutnya, meningkatkan dan membangun sarana dan prasarana perkeretaapian sebagai alat angkut komoditas. Merevitalisasi angkutan penyeberangan, pelabuhan lokal, serta optimalisasi pelayaran perintis. Meningkatkan pelayanan angkutan udara dan penerbangan perintis.
Fokus lainnya pada konektivitas inter koridor ekonomi, yaitu dengan memperlancar arus pengiriman barang dan jasa secara efisien dan efektif antar koridor ekonomi untuk daya saing regional dan global. Menurunkan biaya logistik dan ekonomi biaya tinggi untuk pengiriman barang dan jasa antar koridor ekonomi.
Penetapan dan peningkatan kapasitas pelabuhan dan bandara utama sebagai pusat koleksi dan distribusi dengan menerapkan manajemen logistik yang terintegrasi (integrated logistic port management). Pengembangan interkoneksi antara pelabuhan utama (pusat koleksi dan distribusi) dengan pelabuhan lokal dan pelabuhan "hub" internasional.
Konektifitas intra dan inter Koridor Kalimantan saat ini terus dipacu pembangunannya, baik dari matra darat, laut, maupun udara. (bersambung/heru rinaldi/hmsprov)

//Foto: INVESTASI INFRASTRUKTUR. Pembangunan jalan di Kutai Timur. (dok/humasprov kaltim).
 

Berita Terkait
Government Public Relation