Jadi Acuan Pelajar dan Mahasiswa

Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Kaltim

SAMARINDA - Pemprov Kaltim menginginkan adanya buku sejarah perjuangan rakyat Kaltim diterbitkan untuk dijadikan acuan bagi para pelajar dan mahasiswa Kaltim agar mengenal sejarah perjuangan di daerahnya sendiri.

"Bukan itu saja, buku itu nantinya juga bisa menjadi acuan muatan lokal dalam pelajaran di sekolah. Rakyat Kaltim perlu adanya pemahaman tentang nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan di kaltim dalam kerangka kesatuan NKRI," kata Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan seminar sejarah perjuangan pergerakan rakyat Kaltim di Pendopo Lamin Etam pada Kamis (17/12).

Menurutnya, dalam seminar yang dihadiri oleh sejumlah veteran pejuang, pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi maupun LVRI kabupaten dan kota, keluarga pejuang, Jajaran di lingkungan Pemprov Kaltim serta beberapa pihak terkait data dan informasi tentang perjuangan di kaltim akan dapat membantu tim penyusun buku yakni Johansyah Balham dan Hamdani dalam memperoleh fakta dan pendukung lainnya untuk melengkapi data dan fakta yang sudah banyak diperoleh dari beberapa referensi.

"Meskipun fakta dan data sejarah sudah banyak yang diperoleh. Namum, masih ada fakta dan data pendukung lainnya yang kemudian dapat melengkapi data dan fakta yang sudah ada. Dari seminar ini diharapkan muncul data dan fakta dari para peserta agar buku yang nantinya terbit itu dapat lebih lengkap dan obyektif," katanya.

Dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI di Kaltim telah tercatat beberapa figur diantaranya yakni Sultan Aji Muhammad Idris yang berjuang di Sulawesi Selatan melawan Belanda, Awang Long Ario Senopati yang berjuang melawan Inggris dan Belanda, Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang telah berhasil meletakkan pembangunan ekonomi rakyat Kaltim dengan membuka tambang batubara dan minyak di zaman penjajahan Belanda.

Selain itu tercatat nama Awang Ishak yang merupakan seorang Kepala Penjawat atau Asisten wedana Sanga-Sanga yang berani mengambil resiko jabatan untuk mendukung para pejuang Sanga-Sanga pada pra dan pasca peristiwa merah putih Sanga-Sanga pada 27 januari 1947 dan  Abdul Gani yang menjabat sebagai Kepala Penjawat Samboja yang berperan penting dalam pembentukan gerakan rakyat Kutai dan mendukung peristiwa merah putih Sanga-Sanga.

Masih ada sejumlah tokoh pejuang lainnya yang dari hasil seminar ini akan muncul gagasan atau usulan agar ada diantara para pejuang Kaltim yang diusulkan untuk menjadi Pahlawan Nasional.

"Usulan tersebut harus disertain dengan fakta yang meliputi data dan dokumen yang diakui keabsahannya. Pemprov Kaltim sudah mengupayakan agar diantara pejuang Kaltim bisa menjadi Pahlawan Nasional. Namun, belum ada respon yang baik dari Pemerintah Pusat," katanya.

Sementara itu, Sejarawan Nasional Anhar Gonggong mengatakan bahwa perjuangan rakyat kaltim itu bukan perjuangan lokal di kaltim saja. perjuangan rakyat Kaltim itu adalah perjuangan dalam merebut dan mempertahankan NKRI.

"Indonesia bukan hanya Jawa. Indonesia tidak ada tanpa Kaltim. Jadi tidak benar, Kalau dikatakan sejarah lokal karena semua berjuang dalam menegakan sebuah negara yang namanya Indonesia," katanya.

Mengenai belum ada muncul nama pahlawan nasional dari Kaltim, Anhar mengatakan bahwa terdapat sejumlah kriteria yang harus dicermati dalam mengangkat menjadi pahwalan nasional. "Jadi, kriterianya mungkin saja belum bisa menjadi pahlawan nasional," kata Anhar. (rus/hmsprov)

//Foto: SEGERA TERBIT. Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak bersama penulis dan narasumber buku sejarah perjuangan rakyat Kaltim. (humasprov kaltim).

 

 

Berita Terkait