JANJI AWANG FAROEK TERBAYAR : TAK MENANGIS LAGI

Kondisi Jalan Samarinda - Bontang di bukit yang dulu menangis yang sekarang menjadi bukit tersenyum

 

JANJI AWANG FAROEK TERBAYAR : TAK MENANGIS LAGI

 

Jika melakukan perjalanan Samarinda ke Bontang, tepat pada Jalan Poros Samarinda-Bontang Kilometer 32, penumpang akan disuguhi pemandangan indah, sebuah gunung dengan jalanan mulus dan ruas jalan yang lebar, diapit oleh pepohonan rindang pada sisi kiri kanan jalan, membuat pengendara mobil ke arah Bontang atau sebaliknya, melonggokan kepala ke arah jendela. 

 

Tentulah, bagi mereka yang dulunya kerap melewati tanjakan ini sangat lega dan bahagia karena tak lagi melewatinya dengan perasaan ‘was-was.’ Termasuk Gubernur kesayangan kita, H. Awang Faroek Ishak, yang dulunya sepuluh tahun mengabdi sebagai Bupati Kutai Timur, hampir setiap bulan melewatinya. Tidak jarang dia meminta supir menunggu di bawah tanjakan ketika berbarengan dengan truk pengangkut barang. Rasa was-wa kerap mendera, takut truk tidak kuat menanjak apalagi jika termundur. 

 

Yup, tentu kita pun pernah merasakan kondisi yang sama. Puncak gunung begitu tinggi dengan grade tanjakan hampir 21 persen. Lebar jalan 6-8 meter dan banyak lubang. Padahal, di sisi jalan ada jurang yang curam. Belum lagi sering terjadi longsor di sisi kiri atau kanan jalan. Kondisi jalan yang terjal dan tinggi, menyulitkan kendaraan yang mendakinya. Terutama kendaraan besar, misalnya bus, truk pembawa barang atau kendaraan besar lainnya.

 

Saking tingginya, mesin kendaraan pun bekerja sangat keras. Apalagi saat kendaraan banyak lewat, kondisi yang ramai semakin sulit untuk menanjak. Jantung penumpang berdebar, tak sabar ingin segera lolos melewati gunung ini. Kecelakaan lalu lintas yang telah terjadi pun sudah tak bisa dihitung dengan jari lagi. “Kalau naik gunung itu, pakai gigi satu pun masih sulit menanjak. Kendaraan sangat pelan sekali berjalannya. Apalagi bagian atas gunung jalannya bergelombang sehingga makin menyulitkan dalam berkendara. Mobil besar sering termundur gara-gara tidak kuat. Itulah rata-rata penyebab kecelakaan yang kerap terjadi,” ujar Samsul Arifin, warga Perangat Selatan, saat diwawancarai pada Jumat (16/3). Samsul melalui gunung tersebut ketika akan bepergian ke Bontang.

 

Selain itu, cerita mistik pun mengiringi kecelakaan yang kerap terjadi, dikatakan bahwa di gunung tersebut terdapat penunggunya yang konon bertampang menyeramkan,  yang kerap menjadikan supir lengah sehingga terjadi kecelakaan. Bahkan dulunya supir kendaraan carteran, enggan  melewati poros jalan ini pada malam hari, mereka lebih memilih melewatinya pada siang hari.  

 

Namun, 30 November 2016, kondisi jalan telah berubah. Gunung sudah tidak terlalu tinggi karena telah dipangkas. Jalanan telah mulus disemen sehingga tidak berlubang lagi. Badan jalan lebar hingga muat beberapa kendaraan berjajar. Di sisi dekat jurang pun ada pagar pembatas yang semakin membuat aman pengendara. Melalui gunung ini tak akan membuat menangis lagi. Justru menyenangkan karena pemandangan sisi kiri kanan jalan yang menyejukkan. “Sekarang, lewat gunung itu sudah mulus dan lancar. Bawa kendaraan menggunakan  gigi tiga pun bisa sampai puncak,  dan tak ada lagi suara deru mesin mobil ‘nggeeengg ngeeenggg’,  seperti menangis sebagaimana asal usul nama gunung ini dulunya.”Tutur Samsul menambahkan.

 

Yah, jalan mulus ini diperbaiki oleh Pemprov Kaltim dengan dukungan APBN. Grade tanjakan berhasil diturunkan hingga menjadi 13 persen dan perkerasan jalan rigid dengan lebar 11-14,5 meter. Longsor di kedua sisi juga sudah diatasi dengan baik dengan dinding penahan tanah. “Alhamdulillah, janji saya sudah lunas. Janji saya untuk memperbaiki tanjakan terjal Gunung Menangis itu sudah terwujud. Namanya bukan Gunung Menangis, tapi Bukit Tersenyum atau Smiling Hill.” Kata Awang, kala berkesempatan meninjau poros jalan Samarinda Bontang beberapa waktu yang lalu, sekaligus pemberian nama barunya, “Bukit Tersenyum.” (yuv/Ni/Humasprov)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation