Kaltim Kaji Industri Hilir Produk Unggulan Daerah

Kaltim Kaji Industri Hilir Produk Unggulan Daerah

 

SAMARINDA - Mendukung pengembangan produk unggulan daerah melalui industri hilir, Pemprov Kaltim terus mengkaji produk unggulan daerah apa saja yang mampu mendukung pengembangan ekonomi masyarakat melalui industri hilir yang dibangun.

Karena itu, tahun ini kajian tersebut dilakukan melalui pendekatan one village one product (OVOP) dengan tujuan mengidentifikasi produk unggulan daerah, mengidentifikasi potensi pasar produk unggulan daerah dan identifikasi strategi pengembangan dan strategi pemasaran produk unggulan daerah. 

“Kami terus berupaya dengan berbagai analisa tertentu yang diharapkan dapat mengidentifikasi produk-produk unggulan apa yang bisa dikembangkan di daerah. Artinya, pengembangan ini mengarahkan pada sektor hilirnya. Sesuai dengan keinginan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak agar produk unggulan daerah dapat dikembangan melalui industri hilirnya,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim Dwi Nugroho Hidayanto didampingi Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Juraidi di Kantor Balitbangda Kaltim usai seminar hasil kajian inventarisasi produk unggulan daerah di Kaltim, Kamis (29/10).

Balitbangda melakukan kajian di delapan daerah, yakni Kutai Barat, Paser, Panajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, Berau, Balikpapan dan Bontang. Pendekatan ini cakupannya sangat luas, diantaranya produk makanan olahan dan aneka minuman berbasis hasil pertanian dan perkebunan, produk hasil tenun tradisional dan konveksi berbasis seni dan budaya khas lokal, produk kebutuhan rumah tangga, produk dekoratif atau interior, produk cinderamata berbasis seni dan budaya khas lokal, produk herbal dan aromatik, minyak khas budaya masyarakat lokal.

“Kajian ini diharapkan mampu meningkatkan potensi daerah baik dalam hal pengembangan daerah ditinjau dari segi ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Hasil kajian akan disampaikan kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait agar pengembangan industri hilir dengan pemanfaatan produk unggulan daerah mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Selain itu, program OVOP disesuaikan dengan kompetensi daerah, dengan ciri produk yang unik dan khas di daerah tersebut, untuk selanjutnya menjadi produk kelas global.

Kriteria yang harus dimiliki bagi lokasi pengembangan program OVOP dalam rangka pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) yang berdaya saing tinggi di pasar nasional dan global.

“Untuk melaksanakan pengembangan IKM melalui pendekatan OVOP sebagaimana diamanatkan dalam peraturan dan perundang-undangan maka Balitbangda Kaltim melakukan pengkajian tentang sebaran klaster produk-produk unggulan, strategi pemasaran dan potensi pasar serta program-program pengembangan produk unggulan di tiap-tiap sentra industri,” jelasnya.

Dari kajian tersebut dapat disimpulkan, yakni produk unggulan yang memiliki klasifikasi OVOP di kabupaten/kota di Kaltim, antara lain kategori makanan ringan stik kepiting yang berasal dari Balikpapan, dengan klasifikasi OVOP Bintang 1. Kategori minuman sari buah nanas dan buah naga yang berasal dari Kota Balikpapan, dengan klasifikasi OVOP Bintang 1. Kategori tenun, tenun ikat ulap doyo (Kubar) dan kain ulap doyo (Kukar), dengan klasifikasi OVOP Bintang 3. Kategori batik, batik motif burung enggang (Kutim), motif lembuswana (Kukar) dan kuntul perak (Bontang), dengan klasifikasi OVOP Bintang 1. Kategori anyaman, anyaman rotan (Kubar) dan anyaman purun (Kukar), dengan klasifikasi OVOP Bintang 2.

Sementara, produk unggulan dengan klasifikasi OVOP di kabupaten/kota di Kaltim, yang memiliki potensi pasar besar untuk dikembangkan adalah produk unggulan dengan kategori minuman sari buah dan sirup buah, yaitu sari buah bawang tiwai yang berasal dari Paser. (jay/sul/hmsporv)

//Foto: Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak memperhatikan batik Kaltim yang menjadi produk unggulan daerah. (dok/humasprov kaltim).

 

 

Berita Terkait
Government Public Relation