Kampanyekan Sekolah Ramah Anak

Kampanyekan Sekolah Ramah Anak

SAMARINDA-Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Timur (BPPKB) Kaltim akan terus mengkampanyekan pentingnya sekolah ramah anak di Kaltim dan Kaltara. Keberadaan sekolah ramah anak tersebut terkait erat dengan upaya pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), khususnya dari sisi pendidikan bagi anak.

Terkait hal tersebut, Kepala BPPKB Hj Ardiningsih menjelaskan, sekolah ramah anak yang dimaksud, bukan hanya tentang bangunan fisik sekolah yang harus nyaman untuk anak, tetapi juga menyangkut perilaku antara guru dan anak serta perilaku antara anak dan anak. Sekolah ramah anak memiliki orientasi yang sangat jelas untuk membangun lingkungan sekolah yang nyaman bagi semua, terutama nyaman bagi anak.

"Sekolah ramah anak dibangun dengan konsep pembangunan pendidikan holistik yang terintegrasi. Penerapan konsep ini pasti tidak akan mudah.  Tetapi paling tidak di setiap kabupaten dan kota harus ada sekolah ramah anak yang bisa dijadikan contoh. Itu target kami saat ini," kata Ardiningsih usai membuka Rapat Kerja Tehnis (Rakernis) Kabupaten/Kota Layak Anak se-Kaltim dan Kaltara di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur, Rabu (26/3).

Sekolah ramah anak akan menjadi media pendidikan berkelanjutan yang seharusnya bisa dinikmati oleh semua anak. Sekolah ramah anak harus menjadi media pendidikan yang tepat, aman dan nyaman untuk membangun karakter generasi-generasi yang andal dan berakhlak mulia.  

Ardiningsih memberi contoh praktek sekolah ramah anak bisa dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Misalnya, setiap hari menjelang jam masuk sekolah, anak-anak disambut oleh para guru dengan ucapan salam di pintu masuk sekolah disertai aktifitas lain yang selalu mengajarkan kesantunan dan penghargaan terhadap anak.

"Soal fasilitas fisik  dan layanan di dalam sekolah, saya yakin secara otomatis akan mengikuti. Jika mindset kita berubah, maka urusan fisik itu akan mudah mengikuti. Misal soal ruang kelas yang nyaman, taman bermain, toilet yang nyaman, UKS yang memadai dan lain sebagainya pasti akan baik," jelas Ardiningsih.

Rakernis kali ini diantaranya juga menargetkan terjadinya perubahan mindset dari seluruh pemangku kepentingan daerah untuk kemudian diaplikasikan di daerah masing-masing dengan tetap melakukan koordinasi dengan Gugus Tugas KLA yang sudah terbentuk di kabupaten/kota.

Dia mengungkapkan, koordinasi untuk KLA dan sekolah ramah anak di dalamnya diintensifkan dengan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda), Dinas Pendidikan dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.  

Diharapkan, melalui Gugus Tugas KLA yang sudah terbentuk program kerja tim bisa disatukan.  Ardiningsih mengakui, untuk daerah-daerah pengembangan KLA, sudah ada perubahan yang sangat baik terhadap permasalahan anak karena mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar karena sudah menjadi kabupaten/kota pengembangan KLA.

"Memang tidak mungkin sekaligus. Tapi minimal, setiap kota sudah harus memiliki contoh yang bisa ditiru sekolah lain," tegas Ardiningsih.

Saat ini, 8 kabupaten dan kota sudah ditetapkan menjadi KLA, yakni Kabupaten Berau, Paser, Kutai Kartanegara, Bulungan dan Kota Tarakan, Balikpapan, Samarinda dan Bontang. 

Untuk melihat contoh pengelolaan sekolah ramah anak, maka Kamis hari ini, peserta Rakernis akan diajak untuk mengunjungi SDN 018 Kutai Kartanegara di Tenggarong yang dengan sangat baik menerapkan pola ini. (sul/hmsprov)

////FOTO : Hj. Ardiningsih

Berita Terkait