Karawanan Pangan Kaltim Berisiko Kecil

SAMARINDA – Kerawanan pangan di Kaltim saat ini termasuk kategori rata-rata berisiko kecil jika dibanding provinsi lain di Indonesia. Diakui Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kaltim H Fuad Asaddin, dalam fokus prioritas nasional untuk penanganan kerawanan pangan, Benua Etam tidak menjadi prioritas pemerintah pusat.

“Pemerintah pusat tidak memasukan Kaltim dalam fokus prioritas penanganan kerawanan pangan. Itu artinya, kita bukan termasuk daerah rawan,” kata Fuad Asaddin.

Demikian pula, indikator prevalensi anak umur dibawah 5 tahun dengan tinggi badan kurang. Skor untuk Kaltim berada pada 20-30 atau prevalensi sedang dan kondisi ini dinilai lebih baik dari provinsi lain.

Sementara kondisi nrmatif terhadap produksi dibandingkan provinsi lain, Kaltim dinilai lebih baik. Rasio konsumsi normatif penduduk terhadap produksi berada pada kisaran 0,50-0,75 atau surplus sedang.

Misalnya, terdapat di daerah-daerah sentra produksi seperti Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Sedangkan surplus rendah pada Kabupaten Paser.

“Walaupun demikian ada beberapa daerah yang mengalami defisit sedang. Yakni, Kabupaten Kutai Timur, Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu),” jelas Fuad.

Disebutkannya, secara umum ketersediaan pangan Kaltim setiap tahunnya cukup terutama untuk pemenuhan semua kebutuhan penduduk.

Meski demikian, Fuad mengakui sumbangan hasil pertanian lokal hingga saat ini masih terbatas. Dimana sebagian pasokan pangan masih harus didatangkan dari Pulau Jawa dan Sulawesi.

“Komoditi lain yang didatangkan dari daerah lain diantaranya beras, jagung, kedelai, gula, daging sapi, minyak makan, gandum, buah-buahan dan sayuran,” ujar Fuad Asaddin. (yans/sul/es/hmsprov).

 

Berita Terkait
Government Public Relation