Karst Sangkulirang Mangkalihat Diusulkan Jadi Warisan Dunia

SAMARINDA - Karst Sangkulirang Mangkalihat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diusulkan menjadi peninggalan warisan dunia (first step to the world heritage). Kawasan ini merupakan bentang alam kompak dan tidak terpisahkan di 13 Kecamatan dan 100 desa.   
Sesuai pendekatan melalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Kabupaten Berau dan Kutim, luas kawasan karst tersebut mencapai 1.867.676 hektare. Kemudian berdasarkan pendekatan sistem lahan batu gamping luasan mencapai 505.000 hektare. Dari jumlah luasan batu gamping, diperkirakan 350.257 hektare merupakan bentang alam karst.  
“Kami berharap Karst Sangkulirang Mangkalihat bisa menjadi warisan dunia. Sehingga menjadi obyek wisata dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar karst tersebut. Contohnya Candi Borobudur,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kaltim H Riza Indra Riadi, di Kantor BLH Kaltim, Rabu (25/9).  
Peninggalan yang masih bisa ditemukan di karst tersebut, yakni adanya peninggalan purbakala antara lain, goa, telapak tangan, tulang-tulang dan gigi mahluk purbakala. Namun saat ini ada juga yang sudah diamankan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim).  
Usulan tersebut akan disampaikan Pemprov Kaltim bekerjasama dengan Pemkab Kutim dan Berau ke Unesco yang merupakan lembaga yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Pemprov Kaltim telah berupaya melakukan pengamanan kawasan tersebut, termasuk menjaga ekosistem di sekitar karst.   
“Langkah tersebut kami lakukan sesuai Peraturan Gubernur Nomor 67 Tahun 2012 tentang perlindungan dan pengelolaan kawasan karst. Kami yakin, apa yang dilakukan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dengan Pergub tersebut sebagai langkah awal guna melindungi keberadaan karst,” jelasnya.  
Selain itu, guna mendukung pelestarian karst tersebut dan agar lebih dikenal masyarakat,  infrastruktur akan dibangun di kawasan menuju karst tersebut. Mulai dari Sangatta, Wahau dan Berau terus dibangun, sehingga transportasi menuju kawasan tersebut lebih mudah dikunjungi.  
Selain peninggalan purbakala, di sini juga ada sumber air yang tidak kunjung kering, yang mampu menghasilkan jutaan liter air untuk beragam kehidupan flora dan fauna serta manusia.    
Kawasan tersebut merupakan hulu dari lima sungai utama di Berau dan Kutai Timur, yaitu Sungai Tabalar, Sungai Lesan, Sungai Pesab, Sungai Bengalon dan Sungai Karangan yang merupakan sumber air utama bagi masyarakat.  
“Kawasan karst ini menopang lebih dari 100.000 jiwa yang tinggal di hampir 100 kampung, 13 kecamatan di dua kabupaten,” jelasnya.
Kawasan tersebut terbentang di Kecamatan Kelay, Biatan, Talisayan, Batu Putih, dan Biduk-Biduk Kabupaten Berau. Juga meliputi Gunung Kulat yang berada di perbatasan antara Berau dan Kutim. Di Kutim, kawasan tersebut terbentang di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Kombeng, Bengalon, Karangan, Kaubun, Sandaran, Sangkulirang dan Kecamatan Kaliorang.  
“Sesuai hasil ekspedisi biologi pada 2004 oleh The Nature Conservancy (TNC) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengidentifikasi terdapat 120 jenis burung, 200 jenis serangga, satu jenis kecoa raksasa, 400 jenis flora dan 50 jenis ikan. Bahkan dari kawasan tersebut tepatnya di Gunung Beriun terdapat habitat orangutan,” jelasnya. (jay/hmsprov).

///FOTO : Kawasan Kars Sangkulirang Makalihat yang akan diusulkan menjadi salah satu peninggalan warisan dunia. (Ist)


 

Berita Terkait