Kasus Terorisme Menurun

Kewaspadaan Harus Tetap Dilakukan

SAMARINDA - Direktur Pencegahan Terorisme Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin mengatakan pada 2015, kasus terorisme relatif menurun. Meski demikian, bukan berarti tidak ada potensi serangan terorisme pada masa-mendatang, sehingga kewaspadaan harus tetap dilakukan.

“Terjadi perubahan fenomena, Kalau dulu pendekatan yang dilakukan  kelompok terorisme untuk merekrut anggota baru,  hanya dengan pendekatan agama.  Sekarang, selain agama juga dengan pendekatan ekonomi," kata Hamidin pada dialog  kebangsaan dan pencegahan radikalisme dan terorisme berbasis kegamaan yang dilaksanakan  Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltim yang dilaksanakan di Ruang Serba Guna Kantor Gubernur Kaltim, Senin (21/9).

Hal itu lanjut Hamidin, bisa dilihat dari apa yang dilakukan oleh gerakan ISIS   (Islamic State of Iraq and Syria). Mereka mengajak masyarakat ekonomi sangat lemah dengan tingkat keagamaan yang kuat. Para pengangguran juga menjadi target kelompok ini. Kelompok- kelompok masyarakat  seperti itulah yang direkrut.

Biasanya  dijanjikan pekerjaan atau dibawa untuk beribadah umroh serta kegiatan keagamaan lain. Awalnya, jihad seolah ditempatkan paling bawah. Tapi pada saat sudah bergabung dalam kelompok ISIS, jihad dibalik menjadi posisi paling atas.

"Pola-pola seperti itulah yang mereka lakukan untuk merekrut anggota baru.  Karena itu, dengan adanya dialog kebangsaan ini sangat penting karena melibatkan tokoh-tokoh agama. Diharapkan  mereka bisa menyentuh masyarakat," paparnya.

Dikatakan,  kalau  melihat perkembangan teroris  sebelumnya telah  membagi  beberapa wilayah-wilayah, seperti yang telah dilakukan oleh kelompok Jamaah Islmaiah dalam pedoman umum perjuangan Islamiah yaitu wilayah satu  untuk wilayah ekonomi meliputi negara Singapura dan Malaysia.  

Wilayah II untuk Sumatera sampai perbatasan Indonesia Timur. Wilayah III meliputi Filipina Selatan, Sulawesi tengah sampai ke beberapa wilayah Kalimantan termasuk Kaltim. Wilayah IV meliputi Australia dan Indonesia bagian timur. 

Sementara itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltim Yudha Pranoto mengatakan,  aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal dan aksi teroris yang mengatasnamankan agama di Indonesia khususnya, sering menimbulkan persinggungan dengan masyarakat maupun kebijakan pemerintah.

"Terorisme itu sangat mengganggu ketenangan, keamanan dan ketertiban masyarakat," kata Yudha.    

Kondisi ini harus disikapi secara bijaksana. Tidak terkecuali oleh  kalangan tokoh agama yang selama ini sangat dekat dengan umat dan kehidupan umat beragama pada umumnya.

"Saya percaya, para tokoh agama memiliki pandangan yang jelas tentang paham-paham keagamaan dan memiliki cara atau kiat-kiat tertentu dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme melalui pandangan agama," papar Yudha. (mar/sul/es/adv)

/////Foto: Sejumlah peserta dialog  kebangsaan dan pencegahan radikalisme dan terorisme berbasis kegamaan.(fajar/humasprov kaltim)

 

Berita Terkait
Government Public Relation