Kemarau Pengaruhi Pengembangan Rusa Sambar Kaltim

SAMARINDA - Musim kemarau yang juga melanda Kaltim baru-baru ini bukan hanya berdampak pada terjadinya kebakaran hutan hingga menyebabkan bencana asap, tetapi juga mempengaruhi perkembangan budi daya Rusa Sambar Kaltim yang berada di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Pembibitan dan Inseminasi Buatan (BPIB) Api-Api Kecamatan Waru Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Peternakan Kaltim Dadang Sudarya didampingi Kepala UPTD BPIB Api-Api Ngurah Setiawan di penangkaran Rusa Sambar. Menurut Dadang, musim kemarau sangat mempengaruhi perkembangan populasi Rusa Sambar di penangkaran tersebut. Selain dipengaruhi kebutuhan pakan, zat asam di Kalimantan sangat rendah, sehingga setiap 2 tahun sekali harus dilakukan rehab rumput di penangkaran tersebut.

“Karena kondisi alam yang tidak menentu, ini juga sangat mempengaruhi pengembangan rusa di sini. Termasuk musim kemarau, juga sangat mempengaruhi. Karena, pakan yang digunakan ditanam sendiri di lahan yang ada di area ini. Karena, kondisi kemarau, maka pakan yang diberikan diambil dari hasil limbah perkebunan masyarakat, yakni limbah jagung,” kata Dadang Sudarya di UPTD BPIB Api-Api Kecamatan Waru, PPU, Selasa (3/11).

Sebagai ikon obyek wisata di Kaltim, khususnya di Kabupaten PPU, Rusa Sambar serta ternak tambahan, yakni sapi dan kambing yang ada di area seluas 50 hektar tersebut memerlukan pakan setiap hari sebanyak 5,6 ton.  

Karena itu, musim kemarau sangat mempengaruhi perkembangan ternak rusa. Meski demikian, dengan adanya sektor perkebunan dan pertanian di daerah itu, maka perkembangan peternakan rusa dapat bertahan dengan baik, termasuk ternak yang lain, yakni sapi dan kambing.

“Jadi, kami sangat bersyukur adanya sektor perkebunan dan pertanian. Sebab, jika sektor tersebut meningkat, maka peternakan juga akan meningkat. Karena limbah dari perkebunan itu bisa untuk menjadi pakan ternak,” jelasnya.

Selain itu, peternakan rusa tersebut hingga saat ini sudah dikembangkan menjadi produk unggulan, yakni kapsul ranggah muda atau velvet Rusa Sambar asli Kaltim. Produk tersebut telah diketahui sejak zaman nenek moyang bangsa Korea dan Cina. Ini dipercaya mempunyai khasiat tersendiri bagi kesehatan  manusia.

Keistimewaan velvet, yakni meningkatkan metabolisme tubuh hingga meningkatkan kualitas sel spermatozoa atau mani encer. “Peternakan ini juga menjadi obyek wisata masyarakat PPU setiap hari libur. Saat liburan, pengunjung bisa mencapai ribuan orang yang berkunjung ke daerah penangkaran ini dan itu juga kami tarik retribusi untuk anak-anak Rp1.000  dan orang tua Rp2.000.  UPTD ini juga menjadi pusat penelitian para mahasiswa, baik S1 dan S2. Sementara untuk jumlah tenaga kerjanya, terdiri dari PNS sebanyak 24 orang dan non PNS 60 orang,” ungkap Dadang. (jay/sul/es/humasprov)

Foto : Rusa Sambar menjadi salah satu obyek wisata saat liburan. Saat kemarau kehidupan rusa-rusa ini pun ikut terganggu, salah satunya terkait soal ketersediaan pakan. (jaya/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation