Kerbau Kalang Dapat Dikembangkan di Kolam Eks Tambang

SAMARINDA - Jajaran Pemprov Kaltim terus melakukan kajian terkait pemanfaatan kolam atau lahan bekas tambang batu bara, salah satunya untuk kegiatan peternakan kerbau kalang.
“Tahun lalu kita adakan kajian, hasilnya lahan eks tambang yang telah direklamasi secara proporsional, ternyata memiliki potensi ekonomi baru yang sangat baik untuk dikembangkan jadi usaha peternakan kerbau kalang,” kata Plt Kepala BPPMD Kaltim, Dachriadi, di Samarinda, Rabu (24/4).
Menuruit dia, lapisan top soil yang telah direklamasi dapat dikembangkan untuk usaha pertanian, perkebunan, maupun peternakan. Lahan eks tambang dapat dilakukan usaha budidaya peternakan sapi. Selain itu, kolam-kolam bekas tambang juga potensial untuk dikembangkan sebagai media usaha perikanan dan peternakan kerbau kalang.
“Kerbau Kalang, sebagai plasma nutfah khas Kaltim, punya potensi besar dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar daging Kaltim maupun  nasional,” kata Dachri.
Terlebih, tingkat konsumsi daging di Kaltim mengalami peningkatan tiap tahun, pada 2011 mencapai 49,534 ton dan dari angka tersebut, 16 persen masih didatangkan dari luar Kaltim yang mnerupakan peluang pasar.
Saat pembudidayaan kerbau kalang masih dilakukan tradisional, dibutuhkan investasi terutama pada teknologi inovatif serta manajemen yang profesional agar komoditi ini dapat berkembang sebagai komoditi unggulan daerah.
Diakui,  meski sektor tambang menjadi primadona dalam struktur APBD Kaltim, namun tidak dipungkiri aktifitas pertambangan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan.
Terkait hal itu, Badan Perijinan dan Penanaman Modal Daerah (BPPMD) Kaltim bekerjasama dengan sebuah konsultan melakukan kajian bagaimana lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan dan pada akhirnya mendorong masuknya investor.
“Investasi pada sektor pertambangan pada saat ini memang dominan, namun ke depan, sektor ini akan menemui fase anti klimaks. Karena itu, potensi investasi lain, terutama pada sumber daya alam terbarukan juga perlu diinventarisir, dikaji dan dikembangkan,” kata Dachriadi.
Dachriadi mengatakan, secara ekonomis, sektor pertambangan memang sangat menjanjikan. Tingginya permintaan hasil tambang baik untuk kebutuhan nasional maupun internasional, membuat cashflow untuk sektor ini selalu bergerak secara deras dan dinamis. Terlebih, dengan semakin menggeliatnya industrialisasi yang membutuhkan limpahan pasokan bahan bakar.
“Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan pertambangan masih menjadi primadona,” katanya.
Berdasarkan data, hingga tahun 2011 kondisi cadangan batu bara di perut bumi Kaltim lebih dari 8 miliar ton, sementara minyak bumi sebanyak 670 MMSTB (million metric standar ton barrel) yang setara dengan 11 persen cadangan nasional. Sedagkan gas bumi Kaltim tercatat 19,76 TSCF (trillion standar cubic feet), serta gas metana batubara (CBM) yang diperkirakan 108,3 TSCF atau kurang lebih 23 persen dari cadangan nasional.
Melimpahnya kekayaan bumi Kaltim tersebut membuat para pemodal tambang menaruh minat yang besar untuk berinvestasi di Kaltim. Meski sektor tambang menjadi primadona dalam struktur APBD Kaltim, menurut Dachri, tidak dipungkiri aktifitas pertambangan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan, di antaranya banjir, polusi, maupun biaya sosial yang tinggi sebagai akibat tidak langsung dari aktivitas tambang semisal jalan rusak akibat digunakan truk pengangkut batu bara yang bertonase besar.  
“Selain itu, banyak perusahaan tambang mengindahkan kewajiban reklamasi dan berakibat rusaknya vegetasi lahan pada lokasi-lokasi tambang yang berdampak menurunnya nilai ekonomis lahan,” tutur Dachri.
Menurut dia,  jika dikelola dengan baik, lahan bekas tambang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi lain yang tidak hanya meminimalisir dampak yang merugikan, tapi justru malah menghasilkan sumber penghasilan baru bagi masyarakat di sekitar lokasi eks tambang. (gie/hmsprov).

////Foto : Peotensi Budidaya Kerbau Kalang di Kaltim masih terbuka luas dengan memanfaatkan sejumlah danau atau kolam bekas galian tambang batu bara.(dok/humasprov kaltim
 

Berita Terkait
Bedah Buku Dr Drh H Soehadji
Bedah Buku Dr Drh H Soehadji

20 Desember 2013 Jam 00:00:00
Peternakan

Pengusaha masih Banyak Lalai
Pengusaha masih Banyak Lalai

12 Oktober 2019 Jam 23:19:46
Peternakan