Kerbau Kalang Wujudkan Peternakan Berdaulat


“Terus pacu target kontribusi lokal produk pangan asal ternak, terus tingkatkan agar bisa mandiri dan berdaulat” (H. Hadi Mulyadi - Wakil Gubernur Kaltim)

 

Peternakan Kaltim punya potensi besar. Jumlah populasi hewan ternak pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain sapi yang terus dikembangkan, provinsi ini juga memiliki hewan ternak plasma nutfah, yakni Kerbau Kalang atau Kerbau Kalimantan Timur.

Kerbau Kalang sangat potensial untuk dikembangkan di diwilayah Kaltim, terutama pada daerah dengan geografis yang didominasi rawa dan danau. Seperti dim Kabupaten Kutai Kartanegara, Kerbau Kalang sudah dibudidayakan secara turun temurun sejak 1918, khususnya di Kecamatan Muara Muntai dan Muara Wis. Populasi Kerbau Kalang di dua kecamatan tersebut sekitar 1.500 ekor.

Diperlukan kurang lebih empat jam menempuh perjalanan melalui jalur darat dan sungai dari Kota Tepian, Samarinda, untuk mencapai lokasimpeternakan Kerbai Kalang di Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis.

Kerbau Kalang sangat unik. Tergolong hewan penjelajah, karena mampu menembus hutan dan rawa di areal danau hingga 75 kilometer persegi. Dilepaskan begitu saja oleh peternaknya. Ketika musim banjir, barulah kerbau rawa ini dinaikkan ke kalang atau kandang kayu tak beratap.

Kandang ini memiliki tinggi kurang lebih 2-3 meter dari permukaan tanah. Terdiri dari dua sampai tiga tingkatan, yang bisa menjaga kerbau untuk tetap kering meskipun musim banjir. Kandang kerbau kalang pernah terbakar pada 2002 dan dibangun kembali di tahun itu juga. Dengan sumber dana hasil patungan dari petenak.

Menurut Ketua Kelompok Ternak Lebak Singkil di Desa Melintang, Alkan, Pemprov Kaltim pernah memberikan bantuan dana senilai 150 juta rupiah untuk penambahan kandang. Dengan luasan 75x8 meter persegi pada tahun 2008. Selain itu juga pernah diberikan bantuan bibit.

Di 2019, populasi Kerbau Kalang di Desa Melintang sekitar 380 ekor. Mereka terus berkembang biak secara alami. Kerbau ini terbagi dalam dua kelompok besar dan hidup bebas di sekitar wilayah Danau Melintang yang habitatnya masih alami. Dipenuhi pepohonan dan rerumputan subur. Menjadi sumber makanan sehat bagi kerbau yang kuat berenang hingga tiga jam ini.

Dengan habitat tersebut, tidak heran kerbau ini memiliki bobot tubuh yang subur. Dengan rataan berat sekitar 500-570 kilogram/ekor. Untuk harga jual di kisaran Rp15-20 juta/ekor. Pembeli kebanyakan dari Banjarmasin-Kalimantan Selatan dan Samarinda. Yang memang sudah sejak lama menjadi pelanggan membeli kerbau di Desa Melintang ini.

Cukup sulit menemukan kelompok/gerombolan kerbau kalang ketika air danau surut. Bahkan hampir setahun belakangan kerbau-kerbau ini tidak pernah kembali ke kandangnya. Surutnya air danau menjadi kendala yang dihadapi peternak untuk menjual kerbau mereka. Meskipun permintaan dari pembeli terus ada melalui telepon peternak. Namun karena kondisi tersebut, maka permintaan tidak dapat dipenuhi.

Ketika musim banjir datang kerbau kalang bisa kembali digiring atau digembala ke kandangnya. Untuk pakan rumput dicarikan peternak.

Kerbau Kalang ditetapkan sebagai plasma nutfah (sumber daya genetik hewan asli Kaltim) pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2843/Kpts/LB.430/8/2012 tentang Penetapan Rumpun Kerbau Kalimantan Timur, yang ditandatangani Menteri Pertanian saat itu, Suswono.

Kerbau Kalang memiliki ciri tanduk horizontal, melengkung berputar sejalan dengan bertambahnya umur, bobot dewasa kerbau jantan 570±5,20 kg dan betina dewasa 502±6,50kg, jarak kelahiran satu dengan kelahiran berikutnya adalah satu tahun dan umur produktif mencapai 10–12 tahun.

Daging kerbau memiliki karakteristik yang mirip dengan daging sapi. Namun, daging kerbau memiliki serat yang lebih kasar dibanding dengan daging sapi. Tekstur dagingnya pun lebih liat dari daging sapi yang lebih empuk. Dengan warna yang lebih merah pekat dan cenderung gelap, menjadi lebih mudah membedakan daging kerbau dengan daging sapi yang berwarna merah pucat.

Daging kerbau memiliki lemak yang lebih rendah dari daging sapi sehingga sangat baik untuk di konsumsi. Sumatera Utara, Sumatera Barat dan beberapa wilayah di pulau Jawa, masyarakatnya sudah sedari dulu mengkonsumsi daging kerbau yang proteinnya lebih tinggi dari daging sapi.

Untuk itu, Pemerintah melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian telah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi daging kerbau. Sebagai upaya diversifikasi pangan di masyarakat yang selama ini lebih suka mengkonsumsi daging sapi. 

Pemprov Kaltim melalui Wakil Gubernur Kaltim H Hadi Mulyadi dalam Rapat Koordinasi Teknis Daerah Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Timur 2019, Februari lalu, juga mengatakan perlunya pembangunan peternakan yang berdaulat dalam penyediaan produk peternakan seperti daging, telur dan susu.

“Jajaran peternakan di Kaltim perlu memacu agar target kontribusi lokal produk pangan asal ternak yang saat ini baru mencapai 79 persen dapat terus ditingkatkan dan akhirnya kita bisa mandiri dan berdaulat,” kata Hadi Mulyadi.

Tonton Juga :

 

 

Penulis : Heru Rinaldi

Editor : Hadri

Fotografer : Heru Rinaldi

Kameramen : Heru Rinaldi

Editor Video : Fathur

Info Grafis : Arief Murthada

 

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong