KOMITMEN MENJAGA BUMI, DARI SEBUAH DESA BERNAMA MUARA SIRAN

Desa Muara Siran, di Kecamatan Muara Kaman Kab Kukar. Kampung di atas air ini melalui tata ruang dan tata wilayahnya optimis mampu menurunkan emisi gas rumah kaca melalui pengelolaan, pelestarian dan perlindungan lahan gambut.

“Dari desa kecil Muara Siran, kita belajar harmonisasi manusia dan lingkungan. Desa ini sukses memadukan kepentingan antarsektor dan masyarakat setempat, melalui penataan ruang wilayah yang seimbang.”

 

 

www.kaltimprov.go.id - “Di Thailand, tidak ada lahan gambut. Namun penataan ruang di desa ini bisa kami tiru,” Ratana Lukanawarakul memberi catatan. Ratana adalah salah seorang Direktur di Kementerian Lingkungan Hidup, Thailand. Dia memimpin rombongan tim Thailand  yang berjumlah 16 orang menyambangi Desa Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, 18 September 2018 lalu.  

Mereka ingin belajar dari kehidupan sebuah desa kecil bernama Muara Siran,  tentang bagaimana mengimplementasikan program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD.

Mendengar pernyataan tersebut, rasanya Kaltim memiliki harta yang begitu berharga. Sebagai bangsa yang masih memiliki lahan gambut, tentulah bangsa kita berperan besar dalam menjaga iklim dunia. Besarnya kemampuan lahan gambut dalam mengikat karbon, sangat potensial dalam menekan efek rumah kaca.

Kaltim dalam hal ini Desa Muara Siran dipilih sebagai tujuan pembelajaran karena dianggap berhasil mengelola kawasan hutan gambut yang dilakukan sejak 2011.

“Lahan gambut di sini tidak ideal untuk dijadikan lahan sawit,” ujar Ahmad Wijaya, peneliti senior Bioma. Ahmad Wijaya menjadi narasumber yang paling sering dimintai pengalamannya dalam mendampingi penduduk Muara Siran. Ia lalu menunjuk sisa tanaman kelapa sawit di perbatasan desa, dimana akarnya membusuk karena diterpa musim penghujan yang merendam lahan.

Alasan lainnya, lahan gambut membuat keberadaan ikan sebagai mata pencarian penduduk tak terganggu. Sumber penghidupan warga yang sebagian besar nelayan inipun terus terjaga.

Ahmad Wijaya melanjutkan, Desa Muara Siran sangat istimewa karena telah memiliki perencanaan tata ruang wilayah. Dimana tata ruang ini disiapkan sebagai upaya untuk memadukan dan menyerasikan kepentingan antarsektor dan masyarakat setempat dalam pemanfaatan ruang. Tata ruang ini terlihat sebagai penataan yang terbaik dalam menjaga harmonisasi manusia dan lingkungan. Ratana dan kawan-kawannya pun kagum dengan hal itu. (lihat desain grafis)

Kunjungan studi tim Thailand saat itu juga didampingi petugas dari Dinas Kehutanan Kaltim, Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI), Bioma, GGGI, dan FCPF Kaltim serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tim berkunjung ke beberapa lokasi antara lain hutan agroforestri, hutan gambut, dan hutan yang ditanam ulang oleh warga Muara Siran pasca kebakaran hutan.

Berawal dari pencanangan Deklarasi Kaltim di tahun 2009 yang dilanjutkan dengan program Kaltim Green pada 2010, Kalimantan Timur telah mencanangkan program-program pengurangan emisi dan mitigasi yang diintegrasikan ke dokumen pemerintah daerah di seluruh kabupaten/kota di Kaltim,” papar Ketua Harian DDPI Kaltim Daddy Ruhiyat saat menjamu Ratana dan kawan-kawan di Samarinda pada 20 September 2018 atau dua hari setelah kunjungan ke Muara Siran.

Dalam presentasinya Daddy Ruhiyat tak menampik bahwa pembangunan ekonomi sejak tahun 1970-an masih bergantung pada sumber daya alam, seperti minyak, gas, dan batu bara. Sementara itu, Kaltim disebut sebagai daerah emitor karbon dengan sumber emisi terbesar disebabkan deforestasi dan degradasi hutan.

Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, Kalimantan Timur telah berupaya keras memperbaiki kualitas lingkungan hidup melalui kebijakan dan program pembangunan rendah emisi. Dewan Daerah Perubahan Iklim Kaltim mempunyai beberapa kebijakan dan program untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Diantaranya meliputi Deklarasi Kalimantan Timur Hijau, Rencana Aksi Daerah (RAD) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Provinsi Kaltim, hingga Deklarasi Green Growth Compact yang salah satu tujuannya adalah memperkuat komitmen para pihak dalam pelaksanaan program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) Carbon Fund Kaltim 2019-2024.

Kalimantan Timur adalah pilot province untuk FCPF Carbon Fund yang sudah pada tahap penulisan draf ERPD Emission Reduction Project Dokumen untuk FCPF Carbon Fund (bandingkan dengan Thailand yang baru pada tahap readiness). Peran development partner baik WWF, TNC, Yayasan Bioma, Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman dan GGGI tak bisa dipandang sebelah mata. GGGI sendiri, sejak awal turut menfasilitasi penulisan draf ERPD Emission Reduction Project Dokumen untuk FCPF Carbon Fund.

Pada pertemuan kali inipun Daddy  berbagi ilmu tentang Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Berbasis Lahan yang dia presentasikan sebagai berikut :

Berkunjung ke Desa Muara Siran dan mengikuti presentasi keesokan harinya, meyakinkan Ratana dan timnya, bahwa Indonesia salah satunya warga Desa Muara Siran memiliki tekad nan kuat.  Tidak ada kata mundur untuk aksi perubahan iklim. Sebuah desa di  atas air yang 80 persen tanahnya selalu terendam air ini, peneliti dalam dan luar negeri bisa menimba manfaat melestarikan lahan gambut. Desa Muara Siran  menjadi inspirasi, agar tak mudah silau dengan tawaran industri ekstraktif. Menjaga gambut, maka sama dengan menjaga masa depan untuk tetap bekerja sebagai nelayan dengan sumber mata pencaharian yang lestari. (*)


Tonton Juga:

Penulis : Inni Indarpuri

Editor : Samsul Arifin

Desain grafis : Ahmad Riandi

Foto : Yuvita Indrasari

Video : Ahmad Riandi

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation