ktifitas Sektor Pertambangan Menurun PDRB Kaltim Meningkat

ktifitas Sektor Pertambangan Menurun  PDRB Kaltim Meningkat

 

SAMARINDA - Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim 2014 mengalami peningkatan Rp26,93 triliun, yakni  dari Rp518,7 triliun  pada 2013 menjadi Rp519,93 triliun pada 2014.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, meningkatnya PDRB Kaltim disebabkan oleh semua sektor perekonomian di Kaltim yang mengalami peningkatan. Hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan, yakni dari Rp286,099 triliun pada 2013 menjadi Rp259,169 triliun pada 2014.

  "Sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi. Sektor industri pengolahan berada urut kedua dengan sumbangan PDRB mencapai Rp101,3 triliun," kata Kepala BPS Kaltim Aden Gultom.

Lebih lanjut, Aden menambahkan, PDRB didominasi daerah-daerah penghasil dan industri migas serta batu bara, yaitu kabupaten Kutai Kartanegara sebesar 29 persen, Kutai Timur dengan 19 persen, Balikpapan 14 persen dan Bontang 11 persen.

"Sedangkan daerah lain, yakni Samarinda 9 persen, Paser 8 persen, Berau 5 persen, Kutai Barat 4 persen dan PPU  menyumbang satu persen," katanya.

  Sementara itu, mengenai sektor lainnya, Aden mengungkapkan, sektor kontruksi berada di posisi ketiga dengan angka mencapai Rp39,3 triliun, kemudian dilanjutkan dengan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang menyumbang sebesar Rp36,025 triliun.

"Sektor pengadaan listrik dan gas menjadi penyumbang terkecil. Angkanya Rp198 miliar dan terkecil berikutnya pengadaan air Rp118 miliar," katanya.

  Kendati meningkat tipis, Aden menambahkan, PDRB Kaltim tahun 2014 masih menjadi penyokong perekonomian di Kalimantan sebesar 56 persen. Persentase ini lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya, yakni Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat masing-masing 14 persen serta Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara  masing-masing 10 persen dan 6 persen.

"Penyokong PDRB Kalimantan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hanya 9 persen. Dominasi PDB masih di Jawa dan Sumatera yang masing-masing 57 persen dan 23 persen," katanya. (rus/sul/es/hmsprov)

 

Berita Terkait