Kunjungan Jurnalistik ke Kampung Merabu, Warga Merabu Lestarikan Hutan untuk Masa Depan


 

Selasa pagi (22/11), sekitar pukul 09.30 Wita, empat kendaraan yang ditumpangi rombongan wartawan dari media cetak dan elektronik didampingi sejumlah Staf Biro Humas dan Protokol Setprov Kaltim yang dipimpin Kasubag Perpustakaan Hairil Anwar bergerak dari halaman Kantor Gubernur menuju Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Berau.

Perjalanan panjang yang diperkirakan mencapai 10 jam ini diberi nama “Ekspedisi Merabu” yang merupakan salah satu program dari Biro Humas dan Protokol Setprov Kaltim, yakni Kunjungan Jurnalistik yang melibatkan jajaran awak media untuk melakukan liputan di sejumlah kawasan di Kaltim, baik berupa hasil pembangunan maupuan berbagai potensi ekonomi dan wisata di daerah ini.

Tahun ini Kampung Merabu di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau menjadi pilihan, karena warga setempat yang mencapai 250 jiwa ini mampu menjaga hutan karst dan memanfaatkan potensi di dalamnya untuk membangun kehidupan masyarakat.

Kembali ke rombongan kecil kunjungan jurnalistik yang mulai bergerak sekitar pukul 9.30 wita dari Kantor Gubernur Kaltim perlahan bergerak meninggalkan Kota Samarinda menuju jalan poros ke Kota Bontang dan selanjutnya ke Sangatta Kutai Timur. Agar perjalanan lebih cepat rombongan memotong jalan melalui Rantau Pulung dan selanjutnya ke Muara Wahau dan masuk ke Desa Merapun.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam dari samarinda, akhirnya  sekitar pukul 20.00 Wita rombongan sampai di dermaga Kampung Merabu dan nampak Kampung Merabu berada di seberang Sungai Lesan.

Malam itu Sebagian Kampung Merabu nampak gelap, karena salah satu generator set (Genset) rusak sehingga sebagian rumah warga tidak diterangi lampu. Setelah menunggu beberapa saat, dari seberang sungai nampak perahu ketinting menjemput rombongan secara bertahap.

Sesampainya di Kampung Merabu, rombongan media dan Humas   diterima Kepala Desa Merabu, Frenly Oley di Aula Lembaga Krema Puri yang merupakan lembaga yang dibentuk dalam pengelolaan usaha desa tersebut.

Dalam kesempatan itu, Frenly mengatakan warga Desa Merabu pada mulanya memiliki mata pencarian berupa pemetik sarang burung, pencari madu, bertani dan mencari gaharu, dengan memanfaatkan kawasan hutan batu kapur (karst).

Namun, belakangan potensi sarang burung yang terbatas, justru  menyebabkan bibit konflik, antara warga maupun dengan masyarakat lain di sekitar kawasan karst yang memiliki goa sarang burung.

Melihat kondisi tersebut, BLH Kaltim bersama Pemkab Berau dan jajaran TNC berupaya melakukan pendampingan kepada warga Merabu untuk mencari alterntif ekonomi lain, seiring dengan potensi di kawasan tersebut.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan memberikan pengetahuan pada warga untuk melihat potensi ekonomi dan pemetaan wilayah serta pengelolaan yang berwawasan lingkungan, sehingga pembangunan desa berjalan berkesinambungan dan terus menerus.

“Terkait dengan hal itu, kami telah menerima bantuan 8.000 bibit buah-buahan dari pemerintah, yakni berupa mangga, rambutan, lai dan durian yang kemudian ditanam dalam satu hamparan, sebagai aset Kampung Merabu,” kata Frenly.

Sementara itu, Kepala Kampung Merabu, Franly Oley menyatakan sangat terbantu dengan upaya TNC, BLH Kaltim dan Pemkab Berau untuk memberikan kesadaran kepada warga Merabu akan pentingnya pelestarian alam untuk kemakmuran masyarakat pada masa kini dan masa depan.

Dia mengatakan, Kampung Merabu dikelilingi kawasan hutan karst yang di dalamnya terdapat sejumlah goa-goa yang menarik untuk dikunjungi dan salah satunya adalah Goa Beloyot yang menyimpan peninggalan sejarah purbakala, berupa gambar telapak tangan yang diperkirakan berusia lebih dari 5.000 tahun.

Dia mengatakan, kampung Merabu terdiri atas kawasan Hutan Lindung 10.800 ha, Hutan Produksi 12.200 ha dan kawasan karst mencapai 7.500 ha. Dengan potensi tersebut Kampung merabu telah memperoleh izin dari Kementrian Kehutanan pada Januari 2014, yakni pengelolaan hutan desa mencapai 8.245 ha.

“Warga Merabu yang sebagian besar adalah etnis Dayak Lebok, tidak bisa dipisahkan dengan kawasan hutan, karena itu kami menyadari hutan harus dilestarikan, termasuk kawasan karst,” ujarnya.

Terkait dengan rencana tata ruang desa, warga Merabu sepakat setiap KK mendapat jatah dua ha dan kini sudah 80 persen ditanami, berkat bantuan 10.000 bibit karet dari Pemkab Berau  dan diharapkan sisanya segera ditanam, seiring dengan kegiatan pembibitan karet yang dibuat warga desa.

Selanjutnya menjaga kawasan hutan, termasuk karst untuk tetap lestari, karena di dalamnya berfungsi sebagai penampung dan air yang menjadi sumber air baku untuk kebutuhan air bersih yang potensinya mencapai 5,3 kubik perhari yang dapat melayani kebutuhan 1,3 juta orang perhari.

Selain itu, warga Merabu juga dikenal sebagai penghasil madu lebah, dengan kualitas terbaik. Setiap tahun rata-rata produksi madu alam dari kampung ini mencapai 3.000 liter yang habis terjual ke Tanjung Redeb.

Selanjutnya potensi wisata yang juga tidak kalah menarik adalah kawasan hutan yang masih asri, goa karst dan sejumlah danau air tawar serta potensi ikan air tawar yang cukup melimpah, termasuk pengembangan pertanian ladang dan persawahan.

Warga Merabu juga sedang mengembangkan peternakan sapi yakni  dikelola dalam satu kawasan yang luasnya mencapai 25 hektare. Dari luasan tersebut dikembangkan untuk kadang dan penanaman rumput untuk ternak serta sayur-mayur yang rencannya di jual ke kawasan sekitar.

Guna memastikan kegiatan peternakan itu berhasil, khususnya untuk pengembangan pakan ternak dan tanaman sayur-mayur, warga Merabu minta bantuan kepada pihak yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pertanian.

“Kami menyewa seorang yang memang memeliki pengalaman dalam soal pertanian dan untuk pengembangan pakan ternak dan tanaman sayur-mayur, dengan harapan usaha ini akan berhasil, sekaligus secara bertahap warga kami juga belajar dan pada akhirnya bisa mandiri,” kara Frenly. (eko susanto/humasprov).

Berita Terkait
Government Public Relation