Kunjungan Jurnalistik ke Merabu


 

Pesona Danau Nyadeng dan Sensasi Pendakian Gunung Ketepo

Pagi itu, Kamis (24/11) sekitar pukul 08.00 Wita  rombongan wartawan dan jajaran Biro Humas dan Protokol Setprov Kaltim bekeliling Kampung Merabu dipandu oleh Ketua Badan Usaha Desa Krema Puri, Arsani untuk melihat berbagai kegiatan usaha warga setempat.

Sejumlah usaha warga Merabu, yakni unit usaha peternakan sapi dan tanaman sayur-mayur serta penanaman rumput untuk ternak, selain itu juga kegiatan peternakan unggas berupa ayam kampung dan itik.

Rombongan juga bekesempatan melihat kegiatan usaha berupa pembenihan bibit buah-buahan dan karet sebagai usaha perkebunan dan tanama lindung di kawasan Kampung Merabu. Warga setempat juga membuat usaha pembesaran ikan lele, nila dan mas.

“Semua unit usaha ini merupakan upaya warga Merabu untuk membangun kemandirian pangan dan usaha ekonomi kerakyatan untuk masa depan lebih baik, sehingga mampu berdampingan dengan pelestarian alam, terutama kekayaan hutan karst.

Sebagaimana yang telah direncanakan, pagi itu rombongan telah berkumpul untuk mengunjungi Danau Nyadeng dan mendaki Puncak Gunung Ketepo yang tingginya mencapai 400 meter.

Sejumlah perahu kayu bermesin yang biasa disebut warga setempat “ketinting”  siap mengantar ke Danau Nyadeng melalui Sungai Lesan yang terlihat surut,  sehingga para penumpang harus menuju ke tengah sungai agar perahu tidak kandas. Satu persatu perahu ketinting yang mengangkut tiga hingga empat penumpang bergerak ke arah timur Kampung Merabu menuju Danau Nyadeng yang dikenal berair jernih dan sangat dingin.

Dari kampung Merabu ke Danau Nyadeng ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit, sepanjang pejalanan para penumpang disuguhi pemandangan alam berupa kawasan hutan yang masih lebat di sisi kiri dan kanan sungai.

Pengunjung,  sesekali juga bisa menyaksikan kumpulan monyet bermain di antara rimbunan pohon yang berdiri gagah di sepanjang tepian sungai.

Bukan itu saja, pengunjung juga disuguhi indahnya burung Enggang serta burung Elang dibalik pepohonan, sehingga tanpa terasa  perjalanan sekitar 30 menit berakhir dan sampailah di tepi sungai dan tampak di daratan tertulis papan nama “Selamat Datang di Danau Nyadeng”.

Tetapi jangan salah, ternyata itu baru sampai di papan namanya saja, karena untuk sampai ke Danau Nyadeng, kita harus berjalan sekitar 20 menit lagi menyusuri kawasan hutan yang asri

Sepanjang perjalanan, terdapat aliran sungai yang airnya sangat jernih, selain itu nampak jelas kawasan hutan tersebut adalah hutan karst, terlihat dari bebatuan kapur di kiri dan kanan jalan setapak yang dilewati, bahkan nampak terlihat gunung karst menjulang tinggi dibalik pepohonan hutan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,2 kilometer, akhirnya rombongan sampai ke lokasi Danau Nyadeng yang selama ini hanya mendengar cerita tentang keindahan danau di tengah hutan karst yang luasnya sekitar satu hektare.

Airnya yang begitu jernih, membuat kumpulan ikan di bawah permukaan danau terlihat jelas, salah satunya ikan sapan yang merupakan komoditas unggulan di kawasan itu. Bahkan nampak pula bebatuan di dasar danau.

Sejumlah anggota rombongan yang sudah menyiapkan pakaian ganti tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung terjun ke danau, ternyata airnya sangat dingin. Apalagi kondisi cuaca tampak mendung, membuat air danau semakin dingin.

Kawasan karst memang berfungsi untuk menangkap dan menyerap air hujan yang kemudian dialirkan ke dataran rendah atau aliran sungai. Sehingga keberadaan hutan karst sangat berarti bagi kawasan di sekitar, termasuk yang berada di Kampung Merabu, sehingga tidak sekedar sebagai tempat bersarangnya burung walet dan lokasi wisata.

Karena itu, pemerintah sangat berkepentingan memberi dukungan bagi warga Kampung Merabu untuk mempertahankan kawasan hutan karst di daerah tersebut. Selain sebagai penyimpan air, hutan karst juga menjadi tempat tinggal satwa liar, antara lain orangutan, burung enggang, kera, burung walet dan lain-lain.

Selain itu gunung karst juga menyimpan kekayaan berupa goa-goa yang di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit yang dapat menjadi daya tarik wisata di daerah ini. Sehingga daerah bisa membuat paket wisata berupa khasanah budaya yang dimiliki warga yang tinggal di sekitar  kawasan karst  dan penelitian serta berbagai goa di gunung karst.

Demikian juga halnya dengan Danau Nyadeng selain jernih, ternyata air danau tersebut berdasarkan penelitian bisa langsung diminum. Sehingga ke depan akan menjadi salah satu alternatif usaha air mineral kemasan oleh warga Kampung Merabu.

“Air Danau Nyadeng ini bisa langsung diminum, sehingga nantinya akan kita jadikan usaha air mineral kemasan,” kata Ketua Lembaga Krema Puri, Arsani.

Benar saja, rombongan wartawan Ekspedisi Merabu mencoba untuk merasakan air Danau Nyadeng yang memang segar dan bisa langsung diminum. Bahkan air yang diambil dan dimasukan ke dalam botol kemasan air mineral langsung mengembun karena begitu dingin.

Mendaki Gunung Ketepo

Sesuai rencana semula, setelah menikmati Danau Nyadeng rombongan mencoba sensasi dan tantangan untuk mendaki Gunung Ketepo yang berada di balik bukit karst yang jaraknya sekitar 200 meter dari Danau Nyadeng.

Informasi dari pera pemandu,  Gunung Ketepo tingginya  mencapai 400 meter dan untuk mendaki gunung kapur itu perlu tenaga ekstra karena kemiringan gunung sekitar 45 drajat dan untuk mendaki hanya mengandalkan jalur pendakian alam.

Mendaki puncak Ketepo hanya mengandalkan jalur alam yang telah ada dan tidak ada bantuan berupa tali-temali, tetapi hanya mengandalkan pepohonan dan akar-akar pohon yang menjalar di sekitar jalur pendakian.

Mendengar informasi tersebut, hanya sebagian rombongan yang memutuskan untuk mencoba tantangan itu dari 20 anggota rombongan hanya 11 orang  dan dibantu oleh 4 pemadu yang siap mencoba sensasi pendakian Gunung Ketepo.

“Mumpung kita di sini, kapan lagi bisa menikmati sensasi pendakian Gunung Ketepo. Sebaiknya kita coba untuk mencapai puncak Ketepo,” kata Koordinator Rombongan Hairil Anwar didampingi salah satu anggota rombongan Haris Yustianto.

Sementara itu sebagian rombongan lebih memilih menunggu di Danau Nyadeng, karena merasa lelah saat melakukan pendakian di Goa Bloyot dan dan Bukit Lungun sehari sebelumnya.

Setelah menyusuri belukar di balik bukit kapur, sekitar lima menit terlihat jalur pendakian untuk menuju gunung Ketepo yang nampak landai dan licin, karena menurut pemandu, sebelumnya sudah ada yang mendaki, yakni para pekerja pemetik sarang burung di kawasan tersebut.

Peserta anggota Ekspedisi Merabu yang terdiri dari para wartawan serta jajaran Humas dan Protokol Setprov Kaltim mulai mendaki puncak Ketepo. Saat awal pendakian  memang medan yang ditempuh masih landai sehingga terlihat mudah.

Namun setelah menadaki sekitar 15 menit pendakian mulai terasa menanjak dan tegak ditambah dengan medan yang kian terjal sehingga mengharuskan setiap pendaki lebih berhati-hati karena jalur yang ditempuh kian licin dan berbahaya.

Karena itu, para pendaki diharuskan menggunakan sepatu bergigi atau sepatu gunung atau sepatu yang mampu menahan badan agar tidak mudah tergelicir. Hal ini sangat dianjurkan karena berkaitan dengan kemudahan dan keselamatan pendaki.

Apalagi saat jalur pendakian kian terjal, para pendaki harus ekstra hati-hati karena pada jalur ini para pendaki hanya mengandalkan bantuan dari akar-akar pohon atau pepohonan kecil yang berada di sisi kiri dan kanan jalur pendakian  sebagai alat bantu.

Disarankan pula kepada setiap pendaki agar tidak memaksakan diri untuk segera sampai di puncak gunung. Lebih baik menyesuaikan diri dengan kemampauan fisik, apabila merasa lelah, lebih baik beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga agar konsentrasi tetap terjaga.

Konsentrasi pada saat pendakian sangat penting karena di sisi kanan dan kiri jalur pendakian merupakan jurang terjal dan penuh dengan batu-batu tajam yang sangat membahayakan keselamatan pendaki apabila salah melangkah atau tidak tepat memilih pijakan.

Pendakian yang dilakukan rombongan Ekspedisi Merabu di Gunung Ketepo dilakukan secara bertahap dan selalu mengikuti petunjuk para pemandu agar berjalan sesuai rencana. Termasuk memilih pijakan  pada jalur pendakian yang tepat.

Para pendaki harus berhenti beberapa kali, karena pendakian dirasakan kian sulit karena tenaga juga kian terkuras, apalagi sebagian anggota ekspedisi membawa peralatan kamera yang cukup berat dan cadangan air minum yang sangat penting, sehingga jadi beban  yang cukup merepotkan.

Walaupun secara bertahap namun pasti,  rombongan Ekspedisi Merabu terus bergerak naik untuk mendaki Gunung Setepo. Setelah sekitar dua  jam mendaki dengan penuh hati-hati dan sangat menguras tenaga, sampailah rombongan di dalam goa di Gunung Ketepo.

Goa ini merupakan lokasi paling tepat untuk beristirahat bagi para pendaki, setelah melakukan pendakian penuh sensasi yang menguras tenaga, Sehingga setiap pendaki akan beristirahat cukup lama untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Ketepo.

Stelah beristirahat sekitar 30 menit, anggota rombongan Ekspedisi Merabu melanjutkan perjalanan ke Puncak Ketepo. Agar sampai ke Puncak Ketepo, para pendaki harus melewati lorong goa dan berjalan keluar goa selanjutkan mendaki ke puncak gunung.

Mencapai Puncak Ketepo ini, para pendaki sudah disuguhi dengan pemandangan alam yang luar biasa  saat dilihat dari atas ketingian. Namun harus diingat para pendaki harus lebih berhati-hati lagi karena untuk menuju ke puncak gunung harus melewati medan yang juga tidak kalah terjal dengan rute yang penuh bebatuan tajam.

Apalagi saat pendakian lanjutan ini, berada di kawasan terbuka karena pepohonan yang tumbuh di sekitar Puncak Ketepo hanyalah tanaman liar yang tindak tinggi, sehingga sinar matahari terasa menyengat.

Setelah mendaki sekitar 15 menit rombongan Ekspedisi Merabu akhirnya sampai di puncak Ketepo. Seluruh anggota merasa terharu dan bangga karena berhasil mencapai puncak gunung yang tingginya yang mencapai 400 meter itu.

Berbagai ekspresi dilakukan para pendaki, antara lain dengan berteriak sekeras mungkin sambil memegang bendera merah putih yang telah dipasang para pendaki sebelumnya. Ada pula peserta yang menangis dan menghubungi orang tua melalui telepon genggam, karena dari puncak gunung itu, terdapat signal untuk menghubungi sanak, keluarga  kerabat dan para handai tolan.

Di puncak gunung ini pula para wartawan mengabadikan berbagai momen luar biasa yang memang sangat langka diperoleh. Hamparan gunung dan bukit kapur yang bejajar sepanjang mata memandang bagaikan pagar raksasa yang menjaga hijaunya kawasan hutan karst,  begitu indah dan memesona dari ketinggian.

Demikian juga dengan jajaran Humas dan Protokol Setprov Kaltim yang telah menyiapkan kamera drone, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengabadikan keberhasilan tersebut melalui kemera udara agar mendapat gambar lebih sempurna.

Ketua Rombongan Ekspedisi Merabu, Hairil Anwar menyatakan puas setelah berhasil mencapai Puncak Ketepo. Menurut dia, dari pucak gunung ini setiap orang bisa merasakan betapa besar kekuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa  dan dengan cara inilah setiap manusia bisa menyadari betapa pentingnya melestarikan alam, khusunya kawasan hutan.

“Mari kita jaga alam agar tetap lestari, termasuk menjaga Hutan Karst, sebagaimana yang dilakukan oleh warga Kampung Merabu. Banyak manfaat luar biasa yang bisa kita dapat, jika kita mampu hidup berdampingan dengan alam yang lestari, sebagaimana yang  sudah dibuktikan warga Merabu,” kata Hairil Anwar. (Eko Susanto)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation