Mari Menanam di Pekarangan


"Berdiam di rumah bukan berarti tidak produktif. Kami mengajak masyarakat memanfaatkan perkarangan dengan menanam aneka tanaman"
Dadang Sudarya selaku Plt. Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan Hortikultura Kaltim.

 

Kawanan virus corona bersorak girang, kala sukses membuat penduduk bumi bergetar dalam kepanikan. Bukan  hanya mengancam kesehatan masyarakat, virus asal Wuhan, China itu juga melumpuhkan hampir semua sendi kehidupan. Pemerintah pun memberi anjuran agar masyarakat tak beringsut. Tetap di rumah. Bekerja dan beribadah di rumah. Begitu pula  pelajar, belajar di rumah. Stay at home.  

Di sisi yang lain, virus corona telah mengganggu kelancaran distribusi pangan dan membuat terbatasnya akses ekonomi terhadap pangan. Kondisi ini tentu berpotensi mengganggu ketahanan pangan keluarga dan  masyarakat.

Baca Juga : Hadapi Corona DPTPH Kaltim Kembangkan P2L

Palingkan ingatan, sejenak menoleh. Sekira tahun 2017, harga jual cabai ketika itu sempat menembus angka Rp200 ribu per kilogram. Penyebabnya, cabai yang masih didatangkan dari Jawa dan Sulawesi, gagal panen. Karena pasokan langka, pemasok pun menari dengan harga cabai selangit.

Pandemi Covid-19 bukan tidak mungkin menyebabkan kondisi serupa, hingga harga kebutuhan sehari-hari melambung tinggi.  Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika di masa pandemi Covid-19 ini, dengan anjuran pemerintah agar tetap berada di rumah, masyarakat bisa memaksimalkan waktu untuk meningkatkan produktivitas ruang dan lahan pekarangan yang masih tersedia. 

Baca Juga : UPTD BBIH Lakukan Okulasi Ribuah Bibit Buah

Misal dengan menanam cabai dan sayuran.  Selain berguna untuk mengisi waktu selama penerapan work from home (WFH), aktivitas ini juga akan sangat bermanfaat demi penciptaan ketahanan pangan keluarga dan masyarakat. Jika pun terjadi lonjakan harga cabai dan sayuran, maka masyarakat akan tetap tenang di masa pandemi ini, karena mereka sudah menanam di rumah. 

Sebenarnya, kampanye dan inovasi menciptakan ketersediaan pangan keluarga ini sudah dimulai sejak tahun 2010 lalu oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian dalam bentuk kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Namun sejak 2020, berubah menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L).  

Tahun ini saja, untuk pelaksanaan P2L tahap penumbuhan menyasar 1.500 kelompok yang tersebar di 31 provinsi. Sedangkan untuk tahap pengembangan mencakup 2.100 kelompok yang tersebar pada 34 provinsi.

Baca Juga : Vicon Dengan Mendagri. Sa'bani Sebutkan Pangan Kaltim Stabil

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan telah mengamanatkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal guna mewujudkan hidup sehat, aktif dan produktif.

Kalimantan Timur dalam program kecukupan pangan ini mendapat jatah 60 kelompok yang tersebar di 10 kabupaten dan kota. Namun, sebelum terjadi pandemi virus corona ini, prioritas diarahkan pada kabupaten dengan angka stunting tinggi.

"Lokasi desa dengan stunting tinggi terdapat di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Kutai Timur," kata Plt Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan Hortikultura Kaltim Dadang Sudarya.

Namun diakuinya, pada masa pandemi saat ini, pihaknya tetap intensif melakukan pembinaan. Sebab, ada daerah yang sudah dikategorikan kelompok mandiri, sehingga tidak diberikan dukungan dan bantuan.

"Di Bontang ada. Tapi sudah tahap mandiri sehingga sudah tidak dapat alokasi dana. Tapi masih terus berjalan dan tetap kita bina," sebutnya.

Yang penting ungkap Dadang, kegiatan P2L bisa memberi dampak untuk masyarakat terutama di saat wabah pandemi ini melanda.

Baca Juga : Malaysia Lockdown, Pisang Kepok Tetap Ke Kuala Lumpur

Pelaksanaan program P2L adalah meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan untuk rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Selain itu, kegiatan ini berimplikasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga melalui penyediaan pangan yang berorientasi pasar.

Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi Kaltim sangat berkomitmen mengembangkan program nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.  Terlebih program P2L sangat sesuai dikembangkan saat ini. Seiring kebijakan pemerintah selama pandemi agar masyarakat sebaiknya beraktivitas di rumah atau tidak bekerja di kantor sebagai upaya mengantisipasi dan mengurangi penyebaran virus corona.

"Berdiam di rumah bukan berarti tidak produktif. Kami mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan dengan menanam aneka tanaman," ajak Dadang.

Untuk mencapai tujuannya, P2L dilakukan melalui pemberdayaan kelompok masyarakat, yaitu kegiatan budidaya berbagai jenis tanaman dengan memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah atau lahan kosong yang tidak produktif melalui pengembangan rumah bibit, demplot, pertanaman dan pasca panen serta pemasaran.

"Masyarakat bisa menanam semua jenis sayuran. Bahkan tanaman buah yang bisa ditanam di pekarangan. Ada juga yang pelihara ternak dan ikan," ujar Dadang.

Dadang menjelaskan BKP melalui Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan sejak 2010 sampai 2019 telah melaksanakan kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). 

Dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan, pada tahun 2020 kegiatan KRPL diubah menjadi P2L.  

Baca Juga : Potensi Kedelai di Kembang Janggut

Kegiatan P2L dilaksanakan untuk mendukung program pemerintah dalam penanganan daerah prioritas intervensi stunting dan penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan atau pemantapan daerah tahan pangan.

"Kegiatan ini dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi rumah tangga, serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga," ungkap Dadang.

Bantuan berupa dana yang diberikan pemerintah kepada kelompok digunakan atau dibelanjakan untuk keperluan tanam, mulai dari rumah bibit sampai pengelolaaan untuk pertanaman.

Bantuan pada P2L difokuskan untuk pemberdayaan kelompok masyarakat dalam pengembangan rumah bibit, demplot, dan pekarangan keluarga.

Pembangunan P2L diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga, sehingga mengurangi biaya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, khususnya berkaitan dengan pangan selama masa pandemi hingga pasca pemulihan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.

P2L dimaksudkan untuk membudayakan masyarakat mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) dari pekarangan.

Bahkan P2L tidak hanya untuk menjaga ketersediaan pangan, tetapi membantu dalam pelestarian lingkungan, seperti penghijauan maupun pemanfaatan limbah plastik yang digunakan sebagai medianya.

"Kita terus lakukan pembinaaan di seluruh kabupaten dan kota. Terlepas ada dana di tahun ini atau tidak. Kita ingin masyarakat kalau perlu sayuran, tinggal petik di pekarangan rumah," ucap Dadang. 

Jika kita mau menanam di sekitar pekarangan rumah, maka setidaknya di masa pandemi virus corona ini, kita tidak perlu pusing memikirkan harga cabai yang bisa saja melambung tinggi atau beberapa sayuran yang mungkin tak terbeli. Karena semua sudah ada di sini, di pekarangan kita. 

 

Penulis : Masdiansyah

Editor  : Samsul Arifin

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong