Mari Tamasya dan Jelajahi Bumi Etam

Wisata menelusuri Sungai Mahakam dengan Kapal Wisata, kian dilirik dan digemari (foto istimewa)

SAMARINDA. Menyadari akan pentingnya transformasi ekonomi yang tidak lagi bergantung SDA, sektor wisata pun menjadi  prioritas dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2013-2018Pemprov Kaltim  melalui Dinas Pariwisata Kaltim  menjawab tantangan tersebut  dengan  menggali dan  mengembangkan potensi wisata di Kalimantan Timur. Khususnya melalui berbagai obyek wisata unggulan yakni wisata seni dan budaya daerah, dan ekowisata /wisata alam. 


Ada 5 Kapal Wisata yang siap melayani Rute Reguler dan Sistem Sewa (foto istimewa)

Arah kebijakan pun digariskan, yakni mendorong 10 Kabupaten/Kota terus mengembangkan obyek wisata agar menjadi tujuan wisata nasional dan internasional. Hal lainnya, dengan mengajak berbagai mitra dan agen perjalanan untuk membuat paket wisata yang murah dan menarik. Kerjasama dengan pihak perhotelan juga terus digalakkan, dan memberikan pembinaan sumber daya manusia, pembinaan  kepada kelompok sadar wisata serta kelompok Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan).

Salah satu hasil nyata yang bisa dinikmati adalah Cruise Mahakam atau wisata air menelusuri Sungai Mahakam. “ Cruise Mahakam harus didukung semua pihak untuk dikembangkan, karena dapat menjadi pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim serta dapat menyerap tenaga kerja.” Ujar Awang Faroek, Gubernur Kalimantan Timur,  pada launching Cruise Mahakam tahun lalu. Kapal wisata pertama resmi  menjelajah Sungai Mahakam 7 Pebruari 2017 lalu. 


Penumpang yang  memulai perjalanan melalui Dermaga Pasar Pagi (foto istimewa) 

 

Kini, wisata sungai tersebut terus dilirik dan kian digemari. Dulunya hanya satu kapal wisata, kini Pesut Kita tidak sendiri, telah ada yang 4 kapal lain yang menemaninya yakni, Pesut Mahakam, Pesut Etam, Patin Mahakam dan terakhir, kapal wisata terbesar dengan kapasitas 175 penumpang,  Pesut Bentong.  Wisatawannya bukan lagi terbatas dari Kota Samarinda saja, namun juga sudah dari Jakarta, Surabaya dan Sulawesi.  Diresmikannya bandara APT. Pranoto diharapkan mendongkrak jumlah wisatawan yang akan menghabiskan liburan di Kota Samarinda dan sekitarnya.

Menelusuri kembali awal ide Kapal Wisata ini, Kepala Dinas Pariwisata Prov Kaltim, H. Syafruddin Pernyata mengisahkan, awal mula tercetus ide kapal wisata kala dia sempat menulis novel yang judulnya Juleha. Di dalam novel itulah tertulis ide membuat kapal menelusuri sungai Mahakam yang diberi nama Pesut Kita.


Kapal Wisata yang bisa didekor sesuai keinginan (foto istimewa)

“Ketika saya dipindah ke pariwisata, saya cari pemilik kapal. Kemudian kita diskusi kapal-kapal ke hulu Mahakam yang sudah tidak digunakan lagi atau sudah jarang disewa orang ke hulu Mahakam karena sudah tembus jalan darat. Mereka ternyata bersedia dan berani mencoba untuk mengganti kapal penumpang dan barang ke Hulu Mahakam menjadi kapal wisata,” tutur Syafruddin saat ditemui di Lamin Etam, Samarinda, Jumat (22/6).

Dia menambahkan, kapal wisata ini tidak menggunakan dana APBD sama sekali. Pengusaha kapal hanya dirangkul dan didorong serta disemangati. Dampaknya tentu sangat banyak. Tak hanya bagi pengusaha kapal saja. Pedagang sekitar juga turut mendapatkan keuntungan dari datangnya wisatawan. Apalagi kalau sampai ada wisatawan dari luar daerah yang menginap. Banyak keuntungan yang didapatkan. Artinya, wisata Kapal menelusuri Sungai Mahakam ini mampu menggerakkan roda perekonomian.


Kapal Wisata yang bisa digunakan untuk berbagai acara, bahkan pernikahan (foto istimewa)

 

Jalur kapal wisata ini ada yang reguler dan sistem sewa.  Rute perjalanan kapal wisata untuk yang reguler dimulai dari Dermaga Pasar Pagi atau depan Kantor Gubernur menuju Jembatan Mahakam lalu ke Jembatan Mahkota dan kembali lagi ke Dermaga. Sedangkan kalau sewa kapal, rutenya bisa disesuaikan dengan yang menyewa kapal.

Selain reguler, kapal ini juga banyak dimanfaatkan oleh komunitas, kantor atau perusahaan, sekolah, kampus, baik untuk acara family gathering, arisan, rapat, ulang tahun, reuni, bahkan hingga acara pernikahan. Fasilitas yang ada di dalam kapal yang memadai menjadi penunjangnya, misal pelampung keselamatan (life jacket) setiap penumpang, live music, karaoke, dan juga kantin mini. Kuliner tradisional juga kerap disajikan, seperti soto banjar, nasi kuning dan lontong sayur. 

Jadwal reguler pada hari Sabtu dan Minggu dimulai pukul 08.00 pagi hingga malam. Tarif reguler Rp. 50.000,- dengan rute seputaran Kota Samarinda, Rp.  115.000,- untuk  tujuan ke Pulau Kumala dan cukup membayar Rp. 80.000,- untuk tujuan Desa  Kutai Lama. Kedepan akan ada  rute baru  dikembangkan, yang diharapkan dapat menghubungkan Samarinda dengan destinasi wisata bernilai sejarah, seperti desa Loa Kulu dengan jelajah pertambangan Belanda dan Jepang, dan rute ke Kota Bangun.  (Yuv/Ni-TimHumas Prov)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation