Masyarakat Lokal Harus Lebih Kenal Obyek Wisata Daerah

SAMARINDA - Meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke obyek wisata di daerah tidak sulit, asalkan masyarakat memiliki keinginan kuat untuk melestarikan kebudayaan dan potensi wisata daerah dengan cara lebih mengenal obyek wisata di sekitar mereka.  

 

Obyek wisata maupun kebudayaan yang dimiliki sebaiknya dikenalkan lebih dulu kepada anak-anak, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi. Sebab, apabila anak-anak tidak suka mengunjungi wisata di daaerah mereka sendiri, maka pengembangan budaya dan pariwisata di daerah itu pasti akan tertinggal dari daerah lain.

 

“Karena itu, diharapkan obyek budaya dan wisata daerah hendaknya dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Sehingga pengembangan obyek wisata tersebut dapat kenal lebih dekat sejak dini atau dikenal lebih dulu oleh masyarakat lokal,” kata pimpinan tim rombongan juri Panji Keberhasilan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Tingkat Provinsi Kaltim, Azhari di Kabupaten Paser, Kamis (5/11).

 

Menurut dia, apabila anak-anak tidak menyukai obyek budaya dan wisata daerah, bahkan lebih suka ke Jawa atau daerah lain tentu sangat merugikan. Contoh di Samarinda, ada banyak obyek dan agenda wisata maupun budaya. Misal, Festival Mahakam, Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) dan Kampung Tenun Samarinda Seberang serta Taman Tepian Sungai Mahakam. Belum lagi obyek wisata yang lain, yakni Pulau Derawan di Kabupaten Berau dan Museum Kesultanan Sadurangas Paser.

 

Semua itu, obyek wisata yang patut diketahui masyarakat lokal terlebih dulu. Karena itu, pengetahuan tentang obyek budaya dan pariwisata ini harus ditanamkan sejak usia dini dari bangku sekolah.

 

“Karena tidak ada penanaman kecintaan obyek budaya dan wisata daerah, maka mereka tidak merasa memiliki. Padahal, mereka memiliki obyek budaya dan wisata yang tidak kalah menariknya,” jelas Ashari.

 

Tidak adanya rasa memiliki tersebut, obyek wisata itu kemudian kurang diminati atau dikunjungi. Berharap wisatawan nusantara dan mancanegara, tentu tidak bisa sepenuhnya, karena wisatawan tersebut sifatnya berpindah-pindah atau sebentar saja.

 

Karena itu, saat ini pemerintah berupaya bagaimana mengemas obyek-obyek wisata tersebut dalam dunia pendidikan, sehingga sasarannya mulai anak usia dini. Dengan demikian, budaya maupun wisata di daerah tidak hanya dikenal masyarakat luar tetapi masyarakat lokal.

 

“Artinya, ini juga bagian dari promosi yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat, sehingga masyarakat yang memiliki keluarga di luar daerah setempat dapat menyampaikan informasi tersebut. Dengan begitu obyek yang dimiliki semakin dikenal dan diminati,” jelasnya.

 

Bahkan, untuk lebih mengenal obyek yang dimiliki, diharapkan pihak sekolah dapat mengajak peserta didik ke obyek-obyek wisata tersebut. Jika perlu ke obyek yang menjadi ikon daerah tersebut, sehingga anak-anak mengenal lebih dekat. Saat  berkunjung, anak-anak juga diberi tugas untuk mencatat nilai-nilai sejarah yang ada di obyek wisata tersebut.

 

“Jadi, dengan pengetahuan yang diterima anak-anak tentang obyek wisata di daerah, mereka merasa memiliki. Selanjutnya, bahkan untuk membuang sampah di sembarang  tempat, mereka merasa malu. Ini yang diharapkan dapat tertanam dalam masyarakat lokal kita,” jelasnya.

 

Hal yang sama disampaikan Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim H Zulkifli. Menurut dia, yang terpenting dari pengembangan obyek wisata ini ada tiga hal yang harus diperhatikan yakni pertama manajemen informasi teknologi (IT). Kedua, manajemen destinasi dan ketiga manajemen promosi.

 

Manajemen IT dimaksud agar pengembangan obyek wisata didukung pemanfaatan IT. Hal ini perlu dilakukan, agar masyarakat mengetahui obyek wisata yang dimiliki daerah, antara lain menggunakan facebook maupun tweeter. Selain itu, manajemen destinasi. Manajemen ini lebih mengedepankan adanya sektor budaya dan wisata yang diunggulkan, sehingga lebih dikenal masyarakat. Sedangkan manajemen promosi, yakni adanya promosi secara terus menerus, contoh melalui brosur maupun baliho sehingga masyarakat maupun wisatawan nusantara dan mencanegara dapat mengenal budaya dan obyek wisata yang dimiliki daerah. (jay/sul/es/humasprov)

 

Foto : Museum Sadurangas Paser

Berita Terkait