Melalui Integrasi Sapi dan Sawit serta Bekas Lahan Batu Bara

Wujudkan Swasembada Daging di Kaltim  

Program pertanian dalam arti luas khususnya pada subsektor peternakan yang diintegrasikan dengan subsektor perkebunan terkait kegiatan sapi sawit sangat potensial, terutama dalam upaya mewujudkan swasembada daging sapi di Kaltim.
Dalam program perkebunan atau Sejuta Hektare Sawit akan terwujud dan integrasi kegiatan ternak sapi sawit, apabila dalam setiap kawasan atau petani pekebun memelihara dua hingga tiga ekor sapi perhektare, bisa dikembangkan  jutaan ekor ternak sapi di daerah ini.
“Gubernur Awang Faroek telah menetapkan program integrasi sapi dan lahan sawit. Diharapkan setiap petani memelihara minimal tiga ekor sapi dalam setiap hektare sawit. Maka, dalam Sejuta Hektare Sawit terdapat tiga juta ekor sapi,” kata Kepala Dinas Peternakan Kaltim H Dadang Sudarya.
Walaupun, potensi yang dapat dikembangkan petani pekebun minimal dalam setiap hektarenya lima ekor sapi ataupun hewan ternak lainnya. Sehingga, program pencapaian swasembada daging sapi di Kaltim dapat terwujud.
Sementara itu populasi ternak sapi Kaltim dari tahun ke tahun semakin meningkat sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan Gubernur Awang Faroek Ishak dalam program pertanian dalam arti luas untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Selain itu, dalam mengoptimalkan lahan atau kawasan eks tambang maka Gubernur Awang Faroek telah menetapkan program integrasi ternak sapi eks lahan tambang. Kegiatan tersebut diperkirakan atau ditarget untuk ternak dua juta ekor sapi  yang akan dilaksanakan pada 2014-2018.
Kegiatan dapat dilakukan kelompok tani maupun masyarakat sekitar perusahaan pertambangan batu bara yang memiliki lahan tersebut. Bahkan, kegaitan ternak ini dapat dilakukan keluarga PNS lingkup Pemprov serta kabupaten dan kota maupun TNI/Polri di Kaltim.
Pada 2011 populasi ternak sapi sekitar 98.699 ekor tersebar di 14 kabupaten dan kota, kemudian meningkat  pada 2012, yakni 108.648 ekor dan diprediksikan pada 2013 ini mencapai 116.797 ekor.
 Dengan penyebaran per wilayah pada 2011 ke 2012 untuk Kabupaten Kutai Kartanegara 23.464 ekor menjadi 25.467 ekor dan Kutai Timur 15.022 ekor menjadi 15.983 ekor serta Kabupaten Paser 12.189 ekor menjadi 15.398 ekor.
Kemudian Penajam Paser Utara 10.440 ekor menjadi 10.879 ekor dan Berau 8.426 ekor menjadi 9.763 ekor. Kutai Barat 6.236 ekor menjadi 6.999 ekor serta Nunukan 6.553 ekor menjadi 7.102 ekor dan Samarinda 5.681 ekor menjadi 3.671 ekor.
Selanjutnya Kabupaten Bulungan 5.181 ekor menjadi 5.387 ekor dan Malinau sebanyak 1.574 ekor meningkat 1.814 ekor. Tarakan 1.064 ekor meningkat 1.683 ekor dan Balikpapan 1.652 ekor meningkat 2.944 ekor dan Tana Tidung 716 ekor menjadi 934 ekor serta Bontang 501 ekor menjadi 624 ekor.
Sementara itu untuk produksi ayam terus mengalami peningkatan secara signifikan bahkan terjadi surplus. Baik ayam ras, ayam buras (bukan ras/kampung) maupun ayam ras petelur sebesar 48.998.228 ekor.
Dalam periode 2011 untuk ayam buras sekitar 5.684.150 ekor meningkat pada 2012 menjadi 6.154.992 ekor dan diperkirakan pada 2013 meningkat menjadi 6.278.092 ekor.
Sementara ayam ras pedaging pada 2012 sekitar 41.255.740 ekor dan diprediksi meningkat pada 2013 menjadi 42.080.855 ekor. Sedangkan ayam ras petelur pada 2011 sekitar 1.342.571 ekor menjadi 1.587.496 ekor pada 2012 dan diprediksi meningkat 1.619.246 ekor pada 2013.
“Produksi ayam kita yang terdiri dari ayam ras petelur maupun ayam pedaging serta ayam kampung (buras) terus meningkat secara tajam bahkan saat ini mengalami surplus,” jelas Dadang.
Produksi atau populasi tertinggi ayam buras pada 2012 terdapat di Kutai Kartanegara mencapai 2.479.621 ekor dan terkecil Kabupaten Tana Tidung hanya 3.742 ekor. Ayam ras petelur Kutai Kartanegara 1.171.469 ekor dan ayam ras pedaging 10.670.925 ekor.
Sedangkan produksi daging ayam pada 2012 untuk ayam buras sekitar 6.309,5 ton diperkirakan meningkat pada 2013 sebesar 6.467,2 ton. Ayam ras petelur pada 2012 sebesar 714,4 ton diperkirakan menjadi 732,3 ton pada 2013. Ayam ras pedaging sekitar 38.244,1 ton pada 2012 menjadi 39.200,2 ton pada 2013.
Selain itu, produksi telur juga meningkat tajam untuk ayam buras pada 2011 sekitar 3.597,4 ton menjadi 3.942,3 ton pada 2012 dan diprediksi  4.021,1 ton pada 2013. Telur ayam petelur pada 2011 sebesar 9.656,2 ton menjadi 12.239,4 ton pada 2012 dan perkiraan 2013 mencapai 12.484,2 ton.
Sehingga total produksi telur ayam yang mampu dihasilkan sejak 2011 adalah 14.439,6 ton meningkat menjadi 17.391,8 ton pada 2012 dan diperkirakan pada 2013 ini mampu diproduksi sekitar 17.739,6 ton.
“Karena produksi ayam maupun telurnya mengalami surplus, kita jual keluar Kaltim untuk memenuhi kebutuhan dan kecukupan ayam di daerah lain. Kami terus memacu daerah dengan pelaku usaha untuk bersama-sama mengembangkan kegiatan peternakan sehingga swasembada dapat diwujudkan,” ungkap Dadang Sudarya.(masdiansyah/hmsprov).

///FOTO : Gubernur Awang Faroek Ishak saat menyerahkan bantuan sapi kepada masyarakat sebagai upaya menggairahkan usaha peternakan oleh rakyat di Kaltim.(dok/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait