Melihat Lebih Dekat Keramik dan Kripik Malang

Melihat Lebih Dekat Keramik dan Kripik Malang

 

BAGAIMANA cara membuat, mengemas dan memasarkan produk keramik dan kripik menjadi agenda peserta Rakor Penyusunan Program dan Kegiatan Industri, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten/Kota se-Kaltim yang pada 25-28 Februari tadi berkunjung ke Kota Malang, Jawa Timur.

            Sangat tepat rombongan Rakor yang dipimpin Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kaltim Ir H Ichwansyah MM memilih Malang, karena menurut Kadis Perindag Kota Malang, Tri Widyani kota tersebut meskipun diarahkan sebagai kota pendidikan dan pariwisata, namun sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) tumbuh bersamaan dengan kian majunya Malang sebagai kota pendidikan dan pariwisata.

            “Malang kota kedua terbesar di Jatim, luasnya 110,57 km, penduduknya sekitar 850 ribu jiwa, selain warga Malang asli, banyak pula pendatang yang umumnya para pelajar dan mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia. Setiap hari Malang juga didatangani para pelancong, baik dari dalam maupun mancanegara. Karena itu IKM tumbuh sangat pesat dengan beragam sektor usaha,” katanya.

            Pihaknya kemudian mengarahkan kunjungan peserta Rakor ke sentra industri keramik dan pengolahan kripik buah. Lokasinya di Jl. MT Haryono XI No.47 Dinoyo yang dikelola HA Syamsul Arifin dan So Kressh di Jl. Polowijen Gang II No.359 yang dikelola Ir. Kristiawan melalui CV Kajeye Food. Kedua indsutri kecil ini terus berkembang yang tidak hanya memenuhi pasokan dalam negeri, tapi juga hingga luar negeri dengan omset miliaran rupiah.

            Produk keramik HA Syamsul Arifin beraneka ragam berupa guci dan cinderamata untuk hiasan dan buah tangan pesta perkawinan. Selain itu pihaknya juga punya binaan warga di sekitarnya dengan usaha yang sama karena sering banyaknya permintaan. Lebih menarik lagi, di sini sering pula kedatangan para pelajar dan mahasiswa yang bermain dan belajar membuat keramik.

            ”Permintaan dari luar negeri juga banyak. Mereka sangat tertarik dengan desain dan kami bisa membuatkan desai sesuai permintaan,” kata HM Syamsul Arifin sembari menunjukkan mug bergambar kincir angin yang merupakan bangunan khas Belanda, pesanan seseorang warga Belanda yang berencana melaksanakan acara pernikahan. Nantinya mug tersebut dijadikan sebagai cindermata untuk undangan yang hadir.

            Produk keramik dibuat sedemikian rupa dengan kualitas yang sangat baik. Karena itu, tidak ada yang menyangka jika mug bergambar kincir angin itu buatan Malang, bukan dari Belanda. Mengenai bahan umumnya terbuat dari tanah liat (clay) dengan bermacam jenisnya. Salah satunya ada yang didatangkan dari Kalimantan.

            Sementara itu produk kripik dengan merk So Kressh sudah menjangkau luar negeri. Industi ini tidak bisa beriklan di TV nasional karena biayanya sangat mahal, akan tetapi pihaknya justru bisa beriklan di luar negeri. Yakni pembeli (buyer) dari China mengiklankan So Kressh di TV setempat dalam rangka meningkatkan pemasaran.

            Menurut salah seorang pekerja, industrinya terus berkreasi dan kini sudah mampu membuat bermacam jenis kripik buah dan manisan buah seperti dari bahan buah nangka, apel, melon, semangka, belimbing, nanas, rambutan, jambu, lengkeng, kesemek, salak, mangga, pepaya, jamur, wortel, pisang, sayur dan ubi ungu.

            Berkat kerja keras dan prestasi yang dicapai, industri kripik ini tahun 2013 mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden RI yang ketika itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono.

Kadis Perindagkop dan UMKM Kaltim Ir H Ichwansyah MM mengapresiasi kedua industri ini dan mengharapkan kepada para peserta Rakor maupun para pelaku usaha di Kaltim dapat mengambil manfaat kunjungan tersebut.

”Kaltim perlu banyak belajar dan melihat keberhasilan serta prestasi yang dicapai Malang,” kata Ichwansyah pada pertemuan dengan jajaran Perindag Kota Malang sebelum menuju dua lokasi industri yang dituju. (hadri/humasprov kaltim/hmsprov).

//Foto: Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kaltim Ir H Ichwansyah MM  (tengah) di lokasi industri keramik HA Syamsul Arifin (baju putih). (hadri/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait