Kalimantan Timur
Menembus Batas, Membangun Bandara di Perbatasan dan Pedalaman

Bandara Long Apung di Malinau yang kini menjadi wilayah Kalimantan Utara (foto : Dishub Prov Kaltim)

SAMARINDA. Kerinduan masyarakat pedalaman dan perbatasan, akan kemudahan akses tranportasi ke perbatasan dan pedalaman, terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kaltim.  Selain jalan darat dan sungai, akses transportasi lewat udara tak kalah penting. Meskipun pembangunan bandara merupakan kewenangan Pemerintah Pusat, perjuangan Provinsi Kaltim dalam hal ini Dinas Perhubungan dalam mewujudkan Bandara di Perbatasan dan Pedalaman tak pernah surut.

Kerinduan masyarakat tersebut bukan tanpa alasan.  Jika air sungai surut, selama transportasi darat belum tersedia, jalan udara memang alternatif satu-satunya. Begitu pula jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan, bencana alam misalnya, jalan udara menjadi transportasi tercepat untuk memobilisasi barang dan tenaga medis.

Kepala Seksi Lingkungan Perhubungan Dinas Perhubungan Kaltim Anif Fakhrudin menyebutkan ada tiga bandara di perbatasan yang telah dibangun bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Yakni, Bandara Datah Dawai di Long Pahangai, Mahakam Ulu, sedangkan dua lainnya kini menjadi wilayah Kalimantan Utara yaitu Bandara Long Apung di Malinau dan Bandara Long Bawan di Nunukan.


Bandara Long Bawan di Nunukan. (foto: Dishub Prov. Kaltim)


“Progres terakhir pada 2016, panjang landasan 1.600 meter (m) dan lebarnya 30 m. Untuk jenis pesawat Susi Air 12 penumpang sudah bisa full seat,” tutur Anif.

Menambah panjang landasan ini juga merupakan salah satu keberhasilan Dinas Perhubungan dalam berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik secara reguler maupun inisiatif, tidak lain agar Bandara dapat dilandasi jenis pesawat yang lebih besar dan lebih banyak barang dan penumpang yang terangkut. 

Anif menambahkan, jika sebelumnya panjang landasan bandara hanya 850 m, dimana dengan panjang tersebut, jumlah kapasitas penumpang dan barang sangat terbatas yakni hanya bisa memuat 8-10 penumpang, dengan bertambahnya panjang landasan, pesawat Susi Air dengan 12 penumpang bisa penuh.


Bandara Data Dawai di Long Pahangai, Mahakam Ulu. (foto : Dishub Prov. Kaltim)


“Bila terjadi paceklik kalau kemarau panjang dan tidak bisa melalui jalur sungai karena air terlalu surut, satu-satunya bisa melalui udara,” tutur dia.

Membangun bandara di perbatasan dan pedalaman merupakan program Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang menginginkan  adanya connecting moda transportasi kereta api, transportasi darat, laut dan juga udara antar wilayah kabupaten maupun kota di Kaltim. Dengan berbagai  upaya yang dilakukan oleh Pemprov Kaltim tersebut  disparitas atau kesenjangan antara pembangunan perbatasan dan wilayah lainnya akan lebih mudah diatasi. (Yuv/Ni-TimhumasProv)(*)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong