Menikmati Danau Nyadeng di Tengah Hutan Karst

Kunker BLH dan TNC ke Kabupaten Berau (2)

 

Usai melakukan pertemuan dengan jajaran pengurus Kampung Merabu, rombongan BLH dan TNC Kaltim segera bergegas berkeliling kampung untuk melihat langsung kegiatan masyarakat, berupa pengembangan ternak sapi, pemeliharaan bebek, ayam, usaha pertanian, tanaman sayur-mayur dan pembibitan karet.

Sesuai jadwal, sekitar pukul 14.00 waktu setempat, rombongan kembali diantar warga untuk melihat Danau Nyadeng, yang merupakan salah satu potensi wisata menarik di kawasan tersebut.

Anggota rombongan tidak terkecuali dari luar negeri, yakni Nancy Bird Sall dan Bill Savedorf dari Centre for Green Developmant (CGD) dan sejumlah anggota TNC dari Brazil, yakni Rodrigo Fariera dan Marcio Sztutman, kemudian dari Meksiko, yaitu Leticia Gutierrez dan LG Lorandi. Termasuk Janique Francis dari Amerika, dari Kanada Lara Yacok

dan Joe Kiesecker.

Demikian juga dari BLH Kaltim, yakni Kepala BLH, Riza Indra Riyadi, Syahrir dan Nurdin, bersama anggota TNC Kaltim, yaitu Niel Makinuddin, Taufiq Hidayat dan Edy Sudiono. Mereka siap menikmati keindahan Danau Nyadeng.

    Sementara itu, sejumlah perahu kayu bermesin yang biasa disebut warga setempat “ketinting”  siap mengantar ke Danau Nyadeng melalui Sungai Lesan yang masih terlihat pasang, karena di hulu sungai diguyur hujan. Satu persatu perahu ketinting yang mengangkut tiga hingga empat penumpang bergerak ke arah timur Kampung Merabu menuju Danau Nyadeng yang dikenal berair jernih dan sangat dingin.

    Dari kampung Merabu ke Danau Nyadeng ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit, sepanjang pejalanan disuguhi pemandangan alam berupa kawasan hutan yang masih lebat di sisi kiri dan kanan sungai.

Selain dapat menikmati indahnya hutan yang asri, sesekali juga bisa menyaksikan kumpulan monyet bermain di antara rimbunan pohon yang berdiri gagah di sepanjang tepian sungai. Bukan itu saja, pengunjung juga disuguhi indahnya burung Enggang serta burung Elang dibalik pepohonan, sehingga tanpa terasa  perjalanan sekitar 30 menit berakhir dan sampailah di tepi sungai dan tampak di daratan tertulis papan nama “Selamat Datang di Danau Nyadeng”.

    Tetapi jangan salah, ternyata itu baru sampai di papan namanya saja, karena untuk sampai ke Danau Nyadeng, kita harus berjalan sekitar 20 menit lagi menyusuri kawasan hutan yang masih cukup asri

    Sepanjang perjalanan, terdapat aliran sungai yang airnya sangat jernih, selain itu nampak jelas kawasan hutan tersebut adalah hutan karst, terlihat dari bebatuan kapur di kiri dan kanan jalan, bahkan nampak terlihat gunung karst menjulang tinggi dibalik pepohonan hutan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,2 kilometer, akhirnya rombongan sampai ke lokasi Danau Nyadeng yang selama ini hanya mendengar cerita tentang keindahan danau di tengah hutan karst yang luasnya sekitar satu hektare.

    Airnya yang begitu jernih, membuat kumpulan ikan di bawah permukaan danau terlihat jelas, salah satunya ikan sapan yang merupakan komoditas unggulan di kawasan itu. Bahkan nampak pula bebatuan di dasar danau.

    Sejumlah anggota rombongan yang sudah menyiapkan pakaian ganti tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung terjun ke danau, tidak terkecuali anggota CGD dan TNC dan benar, ternyata airnya sangat dingin. Apalagi kondisi cuaca tampak mendung, membuat air danau semakin dingin.

    Provincial Governance Senior Manager TNC, Niel Makinuddin, mengatakan kawasan karst memang berfungsi untuk menangkap dan menyerap air hujan yang kemudian dialirkan ke dataran rendah atau aliran sungai.

    Sehingga keberadaan hutan karst sangat berarti bagi kawasan di sekitar, termasuk yang berada di Kampung Merabu, sehingga tidak sekedar sebagai tempat bersarangnya burung walet.

    “Fungsinya justru lebih besar bagi kehidupan manusia, terutama yang terkait dengan penyedia air tawar dan kehidupan organisme alam lain,” kata Niel.

    Karena itu, TNC bersama BLH Kaltim sangat berkepentingan memberi dukungan bagi warga Kampung Merabu untuk mempertahankan kawasan hutan karst di daerah tersebut. Selain sebagai penyimpan air, hutan karst juga menjadi tempat tinggal satwa liar, antara lain orangutan, burung Enggang, kera, burung walet dan lain-lain.

    Selain itu gunung karst juga menyimpan kekayaan berupa goa-goa yang di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit yang dapat menjadi daya tarik wisata di daerah ini. Sehingga daerah bisa membuat paket wisata berupa khasanah budaya yang dimiliki warga yang tinggal di sekitar  kawasan karst  dan penelitian di hutan karst serta berbagai goa di gunung karst. (eko susanto/sul/hmsprov-bersambung).

 

Foto: Keindahan Danau Nyadeng yang berada di tengah Hutan Karst. (fadliansyah/humaspro kaltim).

 

Berita Terkait