Kalimantan Timur
Menikmati Rayuan Doyam Seriam

Foto: fathur/humasprovkaltim

Empat roda Toyota Land Cruiser FJ40 itu terus berputar. Medan terjal menanjak bukan masalah, meski mesinnya dibuat tahun 1976. Tenaganya masih sangat besar, sekuat semangat Erawan, sang pengemudi. Erawan adalah petugas yang dipercaya Pemerintah Desa Modang untuk menjaga hutan mereka yang masih tersisa. 

 


Menikmati perjalanan dengan alur berkelok, sedikit berbatu bercampur tanah menjadi pengalaman menarik. Mencapai hutan ini memang tidak mudah, karena kondisi jalan yang kurang baik. Itu pula yang dirasakan para wartawan yang mengikuti kunjungan jurnalistik dalam rangka peningkatan pemahaman kesadartahuan publik untuk menjaga hutan dalam program FCPF Carbon Fund, Minggu (15/11).

 

 

Mesin tua hardtop FJ40 dengan penggerak  empat roda (four wheel drive/4WD) yang dikemudikan Erawan itu terlihat masih sangat kuat, meski di dalam kabin terdapat 16 penumpang dengan kondisi tanjakan curam berkilo-kilo meter. Demi keamanan penumpang, kabin terbuka itu dirancang khusus. Kendaraan ini disetel dengan penggunaan premium 1:5 (1 liter untuk 5 kilometer), meski demi keamanan kadang diubahnya dengan setelan 1:3 jika harus memuat penumpang lebih banyak.

 

 

Dari jalan poros Penajam-Tanah Grogot (depan Kantor Desa Modang), jarak Kawasan Taman Keanekaragaman Hayati Kabupaten Paser ini sekitar 12 kilometer. Sebagian besar adalah tanjakan curam.  Di sini, kawasan hutan alam masih terjaga dengan sangat baik.

 

 

Pemerintah Desa Modang bersama warga dan masyarakat adat setempat sudah membangun komitmen kuat untuk menjaga dan melindungi tutupan hutan mereka. Mereka tidak akan merelakan hutan habis dan hanya menjadi cerita bagi anak cucu mereka kelak.

 

 

“Hutan kami seluruhnya masih sekitar 6 ribu hektar, termasuk hutan mangrove. Dan yang saat ini sudah kami sepakati untuk dijaga agar tidak diganggu ada sekitar 1.600 hektar,” kata  Kepala Desa Modang, Syahrudin yang ikut mendampingi para wartawan dalam trip yang sangat menegangkan itu.

 

 

Kesepakatan itu terdiri dari 1057 hektar untuk hutan hayati, termasuk di dalamnya Air Terjun Doyam Seriam. Sementara 600 hektar lainnya akan diperuntukkan bagi hutan desa atau perhutanan sosial.

 

 

Hingga saat ini berbagai tumbuhan hutan masih terjaga baik di dalam kawasan Taman Keanekaragaman Hayati (Kahati) ini. Ada agatis, bengkirai, juga ulin. Ribuan flora dan fauna hidup dalam kawasan yang masih tampak hijau alami, meski di masa lalu perambahan sempat terjadi, dan beruntung warga segera mecegahnya.

 

 

Rencana perusahaan masuk ke hutan mereka pun bukan hanya sekali. Baik berlatar tambang maupun perkebunan. Tapi mereka kokoh bertahan menolak rencana-rencana itu.

“Kalau hutan ini kita habiskan, anak-anak cucu tidak akan bisa lihat lagi yang namanya kayu ulin dan bengkirai. Hanya cerita, di sini pernah ada kayu ulin, bengkirai, agatis, ada burung enggang. Tapi mereka sudah tidak bisa melihatnya, karena hutan sudah musnah. Itulah mengapa kami berusaha sekuat tenaga untuk menjaga hutan ini,” tegas Syahrudin.

 

 

Soal ‘rayuan’ untuk menggunduli hutan ini pun dirasakan Erawan yang dikenal sangat keras menjaga hutan desanya. “Rayuan seperti itu sudah tidak terhitung Pak. Tapi saya tidak pernah tergoda. Kami ingin hutan tetap lestari sampai anak-anak cucu nanti,” tandas Erawan.

 


Kawasan Taman 
Keanekaragaman Hayati Kabupaten Paser ini diperkuat dengan SK Bupati Kabupaten Paser Nomor 522.51/KEP-123/2015 dan Surat Gubernur Kaltim Nomor 522.51/5517/Ek.  Sebagai penjaga kawasan ini, Erawan juga menyebutkan potensi lain kawasan. Selain untuk penelitian, juga untuk wisata. 

 

 

Di dalam kawasan ini terdapat air terjun yang sangat indah dan alami, yakni Air Terjun Doyam Seriam. Air terjun ini memiliki 8 riam dengan 14 kolam. Sebelumnya, kawasan wisata ini sangat diminati, tapi setelah kondisi jalannya mulai rusak, tempat wisata alam ini mulai sepi pengunjung.

 

 

Air Doyam Seriam ini sangat bersih, segar, dingin dan masih alami. Tidak ada aktivitas yang  merusak aliran Sungai Seriam ini. Kepala Desa Modang Syahrudin pun tidak ragu meminum air jernih yang mengalir dari anak Gunung Gelo tersebut. Suasana alam yang hijau terasa nyaman dengan kicauan burung dan binatang hutan di sana.  Bagi peminat wisata alam pasti akan menikmati sentuhan hutan perawan di kawasan ini.

 

 

“Mudah-mudahan pemerintah segera memberikan bantuan untuk membangun jalan yang baik agar akses ke tempat wisata ini bisa lebih baik lagi seperti dulu. Potensi wisata air terjun dan wisata hutan di sini sangat menjanjikan,” ucap Syahrudin meyakinkan.

 

 

Desa Modang juga menyimpan hutan mangrove yang masih perawan sekitar 500 hektar di bibir Sungai Pekeso dan Sungai Rangan. “Kami akan pertahankan mangrove yang masih alami ini agar tidak digunakan menjadi tambak atau yang lainnya,” tegas Syahrudin yang baru tiga tahun memimpin Desa Modang di Kecamatan Long Ikis. (Sul/humasprovkaltim)

Berita Terkait