Kalimantan Timur
Menjaga Hutan Kalan Bilem

Foto:fathur/humaskaltim

BARANG TONGKOK - Hari ketiga kunjungan jurnalistik di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) berlanjut ke Kampung Lakan Bilem.

 

Lakan Bilem merupakan kampung yang sudah menyepakati  pelaksanaan program Forest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF-CF). Sedangkan Kampung Intu Lingau menjadi salah satu dari  150  usulan program kampung iklim (Proklim)+ di Kaltim.

 

Komitmen tertulis untuk menjaga hutan desa seluas 200 hektar oleh warga Lakan Bilem sudah dimulai sejak tahun 2012 dalam sebuah peraturan desa tentang perlindungan hutan.

 

Aturan ini harus dibuat karena mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat berasal dari hutan, seperti rotan, damar dan kayu.

 

"Periode pertama kepemimpinan, saya sudah mengajak masyarakat untuk menjaga hutan. Meskipun kita berladang, hutan tetap harus kita jaga," kata Petinggi Kampung Lakan Bilem Yosianus Moja di Bumi Perkemahan Batuq  Bura Kampung Lakan Bilem, Minggu (13/12/2020).

 

Diakuinya, di awal memang sulit, karena tidak semua masyarakat bisa menerima rencana tersebut. Mereka pun mulai berinisiatif mengembangkan eko wisata Sungai Lakan di areal Bumi Perkemahan Batuq Bura.

 

Saat ini lanjut Yosianus, masyarakat Kampung Lakan Bilem sudah memberi dukungan, karena memahami dan menikmati manfaat dari aktivitas menjaga hutan, salah satunya dari wisata Sungai Lakan yang kini menjadi destinasi baru warga Kubar selain Gunung S dan wisata jantur (air terjun) dan Danau Acco.

 

Soal insentif dari FCPF-CF, Yosianus menegaskan, komitmen masyarakat Lakan Bilem tidak akan berubah.

 

"Ada atau tidak insentif dana FCPF Carbon Fund, kami akan tetap menjaga hutan," tegasnya. (sul/humasprov kaltim)

Berita Terkait