Menjaga Pangan Indonesia dari Kepungan Tambang dan Alih Komoditi


"Jaga pangan Indonesia. Kita semua harus tetap menjaga perut 267 juta rakyat Indonesia, warga Kaltim 3,7 juta jiwa"
Dadang Sudarya, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim

 

Geliat ekonomi terus berjalan, demikian tampak di Desa Cipta Graha Kecamatan Kaubun Kabupaten Kutai Timur. Tersedia lahan siap olah/tanam untuk kegiatan padi sawah seluas 300 hektar dari keseluruhan lahan sawah potensial 600 hektar – 800 hektar.

Dipatok mampu berproduksi 5 hingga 6 ton per hektar, potensi desa paling utara kabupaten kaya “emas hitam” terancam alih fungsi lahan juga alih komoditas yang dilakoni para petaninya yang dikhawatirkan beralih profesi (pekerja tambang).

Optimisme muncul di segenap jajaran pemerintah provinsi maupun kabupaten. Dan selalu memacu semangat para pelaku utama (petani) agar tetap “terangsang” selalu setia menekuni usaha bergelut lumpur dengan tidak mengganti komoditas maupun meninggalkannya beralih profesi demi menjaga “perut rakyat”.

“Pemerintah harus membangun komitmen bersama membantu alat mesin pertanian, benih, sarana prasarana serta pupuk. Jalan-jalan produksi pertanian ditingkatkan dan bendungan bisa dinormalisasi,” kata Muhammad Sahdan, petani yang dipercaya menjadi Kepala Desa Cipta Graha.

Baca Juga : Cadangan Pangan Kaltim Aman

Sahdan mengungkapkan di wilayah desanya saat ini, lahan pertanian (sawah) telah dikepung komoditas lain (kelapa sawit) dan kegiatan pertambangan batu bara. Dikhawatirkan kelapa sawit membuat petani tergiur beralih komoditas padi sawahnya. Demikian pula, pertambangan batu bara ditakutkan menggerus idealisme petani millennial akan meninggalkan sawah-sawah mereka untuk beralih profesi sebagai pekerja tambang.

“Saya dan kami semua petani di sini khawatir 15 tahun ke depan, sawah di Cipta Graha ini tinggal cerita,” ujarnya lagi.

Namun, semangat itu ternyata masih ada untuk mempertahankan lahan persawahan oleh para petani lanjut. Seperti warga Desa Bumi Rapak, tetangga Desa Cipta Graha yang terdiri para transmigran dari Bali yang menempati kawasan itu sejak 1989. Bahkan masih setia dan bertekad tidak akan meninggalkan sawah-sawahnya, hanya tergiur komoditas dan usaha lain.

Sesuai pengakuan Ketut Sutama, petani juga Ketua Kelompok Tani Bhuwana Sari Desa Bumi Rapak Kecamatan Kaubun. Dimana, mampu menghasilkan 5,5 ton hingga 6 ton per hektar gabah basah atau setara 2 ton hingga 2,5 ton beras dengan kisaran harga Rp9.000 sampai Rp9.500 per kilogram. 

Baca Juga : Kaltim Gencarkan Gerakan Percepatan Tanam Untuk Berdaulat Pangan

“Mulai transmigrasinya tahun 1989 sampai sekarang. Ya mengerjakan padi sawah. Kita di sini banyak masalah hama, obat-obatan dan pupuk. Kita masih usaha sendiri. Alhamdulillah, masih bisa bertahan dari sawit. Kami sudah komitmen mempertahankan lahan sawah di sini,” ujar Ketut yang masih berharap dukungan dan perhatian pemerintah.

Keberlanjutan usaha pertanian tanaman pangan, khususnya padi tidak akan berkesinambungan apabila sendi-sendi penunjangnya tidak tersedia. Di antaranya, benih dari para penangkar atau pembudidaya benih padi.

Salah satunya, Waluyo selain petani dan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cipta Karya Desa Cipta Graha. Juga, Direktur Gudang Padi Penangkar (GPP)/Rice Milling Unit (RMU) Gapoktan Cipta Karya.

“Penyediaan benih untuk kami di sini, stok yang ada 25 ton. Kemarin milik petani terjual 40 ton. Kebutuhan ratusan ton benih, sementara kapasitas gudang 50 ton. Harapannya, ada dukungan  pemerintah memperluas gudang penangkar, sehingga mampu memenuhi kebutuhan benih petani kita di sini,” harap Waluyo.

Atas komitmen dan kerja keras para petani di Kecamatan Kaubun ini, Kepala Dinas Pertanian Kutai Timur Sugiono menegaskan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur selalu memperhatikan kebutuhan para petani. Dukungan dan perhatian pemerintah terlihat dari alokasi anggaran untuk sektor pertanian tanaman pangan.

Baca Juga : Pak Camat Pak Kades, Tolong Jaga Lahan Jangan Sampai Alih Fungsi

Terlebih di saat terjadi wabah mematikan (virus corona/Covid-19) yang telah menghantam ratusan negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia dan Kalimantan Timur terkhusus Kabupaten Kutai Timur.

“2020 kemarin ini, kita totalnya dapat Rp42 miliar bersumber APBN, APBD I maupun APBD II. Kalau, khusus APBD II kurang lebih Rp30 miliar. Tapi karena ada kasus Covid dipangkas 50 persen anggaran untuk kesehatan dan bantuan sosial, sehingga sisa Rp15 miliar. Namun, dapat tambahan anggaran Rp3 miliar untuk penanganan dampak ekonomi. Jadi total anggaran kita Rp18 miliar lebih,” sebut Sugiono.

Dirinya meyakini dan percaya, ke depan hikmah Covid-19 ini membuat pemerintah daerah semakin sadar. Bahwa, sektor pertanian tidak boleh dipandang sebelah mata bahkan menjadi program prioritas.

Sementara Plt Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Dadang Sudarya mengungkapkan potensi lahan dan produksi padi Desa Cipta Graha cukup besar. Dimana, lahan siap tanam sekitar 300 hektar dari potensi lahan 600 hektar. dan mampu berproduksi 5 – 6 ton per hektar.

Baca Juga : Kaltim Bakal Jadi Sentra Pisang Kepok Grecek

Demikian pula, desa tetangganya di Kecamatan Kaubun, memiliki potensi lahan 600 hektar hingga 700 hektar dengan produktivitas mencapai 7,5 ton per hektar. Lahan persawahan Desa Bumi Rapak dikelola 14 kelompok tani, sehingga Kecamata Kaubun digadang-gadang menjadi salah satu sentra tanaman pangan, khususnya padi.

“Ini Gerakan Percepatan Tanam Padi tahun 2020 untuk periode Asep (April-September). Alhamdulillah program kita disambut baik kabupaten Kutai Timur dan dicoba di kabupaten-kabupaten lainnya. Saat ini untuk Desa Cipta Graha ada 300 hektar percepatan tanam padi,” ungkap Dadang Sudarya.

Ditambahkannya, realisasi tanam periode April – Mei untuk Kutai Timur mencapai 1.600 hektar sedangkan Kaltim sebesar 13.301 hektar. Target Asep sebesar 34.523 hektar. Terdiri Paser 3.419 hektar, Kutai Barat 884 hektar, Kutai Kartanegara 11.162 hektar, Kutai Timur 4.150 hektar, Berau 3.902 hektar, Penajam Paser Utara 9.039 hektar, Balikpapan 32 hektar, Samarinda 1.916 hektar dan Bontang 21 hektar.

“Di tengah-tengah pandemi Covid-19, alhamdulilah para petani kita tetap melakukan gerakan tanam. Tetap bekerja di lapangan. Meski pun di dalam merebaknya wabah virus corona, perut kita harus tetap diisi. Jaga pangan Indonesia. Kita semua harus tetap menjaga perut 267 juta rakyat Indonesia, maka kita harus menjaga ketahanan pangan ini,” pesan Dadang Sudarya. (masdiansyah/samsul arifin/ humasprov kaltim) 

 

Tonton Juga :

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong