Menunggu Tuah Jembatan Mahakam IV


"Kehadiran jembatan Mahakam IV diharapkan mampu mengurai kemacetan dari dan menuju Kota Samarinda. Jembatan Mahakam IV semoga akan memberi kemanfaatan yang jauh lebih besar bagi kemajuan Samarinda dan Kalimantan Timur"

Sabtu, 2 Agustus 1986, langit cerah menyapa warga Samarinda yang merasakan kegembiraan luar biasa. Akhir pekan pembuka di bulan kemerdekaan itu, Presiden Soeharto secara khusus datang ke ibukota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk meresmikan Jembatan Mahakam. Presiden didampingi Menteri Pekerjaan Umum ketika itu,  Soeyono Sosro Darsono.

 Ribuan warga menikmati eforia luar biasa menyaksikan peresmian  jembatan pertama menyeberangi Sungai Mahakam. Kegembiraan   bercampur keinginan besar mereka untuk melihat lebih dekat sosok pemimpin kharismatik yang mereka kagumi saat itu, Presiden Soeharto.

Tak jauh dari Pak Harto, gubernur Kaltim saat itu, H Soewandi tak henti menebar senyum. Suksesor Gubernur Ery Soeparjan ini pun merasa sangat gembira karena tiang pertama Jembatan Mahakam  yang dipancangnya pada 6 Oktober 1983 akhirnya benar-benar rampung dan bisa segera dinikmati warga Samarinda dan rakyat Kalimantan Timur.

Sejak saat itu, arus transportasi penumpang dan barang menjadi lebih lancar. Pemilik kendaraan bermotor pun tidak perlu repot lagi mencari tumpangan kapal-kapal fery  di dermaga khusus hanya untuk menyeberang dari dan menuju Samarinda kota. Jalur untuk para pejalan kaki pun disediakan di sisi kiri dan kanan Jembatan Mahakam.

Sebelumnya, untuk menyeberang masyarakat harus menumpang ketinting atau perahu tambangan, atau kapal fery bagi yang memiliki kendaraan bermotor. Setelah Jembatan Mahakam beroperasi, aktifitas ekonomi Samarinda pun melaju semakin kencang. 

Jalan Pendekat Sisi Samarinda Kota

 

 Pembangunan Jembatan Mahakam sendiri digagas oleh gubernur Kaltim H Ery Soeparjan, termasuk menentukan titik lokasi pembangunan Jembatan Mahakam pada tahun 1982.

Jembatan dengan panjang 400 meter, lebar 10 meter dan tinggi 5 meter itu dibangun oleh PT Hutama Karya dengan total dana pembangunan mencapai Rp 7,2 miliar. Terbilang sangat mahal dibanding pembangunan jembatan umumnya di Indonesia pada kisaran tahun-tahun tersebut.  

Mahalnya biaya pembangunan Jembatan Mahakam saat itu diantaranya disebabkan oleh tingginya tingkat kesulitan dan kerumitan pembangunan jembatan karena kedalaman sungai dan konstruksi jembatan yang menggunakan rangka baja dengan sistem Hollandia Kloos, bantuan Pemerintah Belanda. Baja-baja yang dipasang adalah baja-baja pilihan yang tidak mudah berkarat.

Sekira dua puluh tahun kemudian, seiring perkembangan jumlah penduduk dan pertumbuhan  ekonomi, industri, jasa dan pariwisata di Kalimantan Timur dan khususnya Kota Samarinda, Jembatan Mahakam yang semula terasa luas, semakin hari terasa semakin menyempit akibat kian membludaknya jumlah kendaraan bermotor, mulai roda dua, roda empat dan seterusnya, bahkan angkutan alat berat. Beberapa kali bahkan rangka-rangka jembatan tersenggol kendaraan pengangkut alat berat, sementara pilar-pilar penyangga dan pengamannya di bawah jembatan tidak kurang sudah 6 kali diseruduk ponton pengangkut batu bara dan lainnya.  

Sejak beberapa tahun lalu, polisi bahkan menutup arus lalu lintas dari jembatan langsung ke arah Jalan Slamet Riyadi, karena seringnya terjadi kemacetan di atas jembatan. Arus lalu lintas diarahkan menuju bigmall, sebelum berbelok di simpang Jalan R Soetami. Dari arah Samarinda kota polisi pun secara rutin mengatur antrian kendaraan roda dua dan roda empat untuk mengurangi risiko kemacetan.

Kehadiran Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Sengkotek dan Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II di Palaran, ternyata juga tidak cukup untuk mengurai kemacetan di Jembatan Mahakam.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, serta cara pandang yang  jauh ke depan demi kemajuan dan pergerakan kota Samarinda dan Kalimantan Timur, maka Gubernur Awang Faroek Ishak (2008-2018)  berketetapan hati untuk membangun Jembatan Mahakam IV, persis di sisi Jembatan Mahakam.

“Jembatan Mahakam sudah tidak mungkin lagi membendung laju aktifitas kota. Dan  Jembatan Mahakam IV akan menjadi solusi, sekaligus jawaban dari kebutuhan masa depan demi kemajuan Samarinda dan Kalimantan Timur,”  kata Awang Faroek Ishak, kala itu.

Jembatan Mahakam IV dibangun dengan panjang bentang 220 meter, lebar 16,9 meter, tinggi clearance 22 meter. Pembiayaannya menggunakan  APBD Kaltim 2012-2013 dan dilanjutkan dengan multi years contract (MYC) 2015-2018. 

Jembatan ini menghubungkan  Kecamatan Sungai Kunjang dengan Kecamatan Samarinda Seberang. Kehadiran jembatan ini, di masa depan diharapkan mampu mengurai kemacetan dari dan menuju Kota Samarinda.  Apalagi dari sisi seberang maupun kota, jalur pendekatnya dibuat menyerupai jalan layang.

Adapun anggaran jalan pendekat sisi Samarinda Kota senilai Rp227,7 miliar dan sisi Samarinda Seberang Rp228,8 miliar. Sementara bentang tengah diperkirakan sekitar Rp184,2 miliar.  Total anggaran dibutuhkan untuk Jembatan Mahakam IV mencapai Rp640 miliar . 

Bentang tengah jembatan ini digarap PT Waskita Karya. Diperlukan tambahan dana sekitar Rp27 miliar melalui APBD Perubahan 2019 untuk pengaspalan sepanjang 38 meter dari redesign, uji beban dan railing serta pekerjaan minor lainnya. 

“Kami terus berkoordinasi dengan Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan (KKJT). Uji beban direncanakan bulan Mei ini. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan tahun ini Jembatan Mahakam IV sudah bisa segera diresmikan dan beroperasi,” kata Kepala Dinas PUPR dan Pera Kaltim HM Taufik Fauzi.

Semoga, kehadiran Jembatan Mahakam IV tidak kalah menggembirakan dari kegembiraan yang dirasakan warga Kaltim saat peresmian Jembatan Mahakam oleh Presiden Soeharto, 33 tahun silam. Terpenting, semoga kehadiran Jembatan Mahakam IV akan memberi kemanfaatan yang jauh lebih besar bagi kemajuan Samarinda dan Kalimantan Timur pada umumnya.  (*)

Tonton Juga :

Penulis : Syamsul Arifin

Fotografer : Fathur Al Qadrie 

Info Grafis : Arief Murthada

 

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation