Menyertai Tim Penilai Panji Keberhasilan Wisata ke Berau

Warga Terlibat Langsung Dalam Kepariwisataan Berau

Beberapa rumah makan dan di berbagai kawasan nampak sejumlah banner atau pengumuman yang mempromosikan berbagai objek wisata di Kabupaten Berau, sebagai upaya mengenalkan kepada setiap pengunjung tentang keunggulan kepariwisataan di daerah ini.

Sebagian orang yang melihat banner tersebut, tentunya akan meluangkan waktu sejenak untuk membaca dan menyimak tentang promosi yang disampaikan. Dari promosi sederhana itu pastilah ada saja yang ingin tahu lebih jauh tentang berbagai objek wisata yang ditawarkan.

Kondisi itu membuktikan, peran dan kesadaran masyarakat untuk menyukseskan program kepariwisataan di Berau sudah sangat baik. Hal itu terjadi karena dampak dari pengembangan wisata sudah sangat dirasakan warga setempat.

            Prof Dr Suharno dari Universitas Mulawarman Samarinda,  mengatakan inilah salah satu dampak yang dirasakan masyarakat dari kepariwisataan, sehingga tidak segan membantu pemerintah mempromosikan berbagai objek wisata unggulan di Berau.

            Artinya pemerintah telah membuktikan bahwa pengembangan wisata di Berau sudah berdampak besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat dalam berbagai segi kehidupan, sehingga  warga juga ikut terlibat dalam promosi bahkan menjaga berbagai aset wisata, baik berupa wisata alam maupun wisata sejarah.

            Bahkan, kepariwisataan di Berau terus berkembang seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata di daerah itu. Jika awalnya  hanya mengandalkan Gugusan Kepulauan Derawan sebagai unggulan. Kini terus berkembang dengan wisata kuliner, kerajinan dan peninggalan sejarah. Terutama yang menyangkut keberadaan peninggalan Kerajaan Gunung Tabur dan Sambaliung yang bermula dari Kerajaan Barau.

            “Ini merupakan bukti bahwa keberhasilan dalam pengembangan wisata akan berdampak luas dalam kehidupan masyarakat, sebagai bentuk transformasi ekonomi masa depan dan abadi. Dengan catatan semua pemangku kepentingan konsisten menjaga dan melestarikan berbagai objek wisata, terutama wisata alam dan peninggalan sejarah,” kata Suharno, disela-sela mengujungi Museum Batiwakal yang merupakan peninggalan Kerajaan Gunung Tabur dan peningalan dari Istana Sambaliung.

            Pernyataan yang sama juga disampaikan Ketua Peneliti Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda,  Prof Dr  FL Sudiran. Dia kagum dengan semangat masyarakat Berau yang ikut peduli dengan pengembangan wisata di daerah itu. Sehingga pemerintah setempat pastinya terbantu dengan dukungan warga.

            Dia mencotohkan, peran salah satu warga Berau bernama Aji Rahmatsyah yang berinisiatif mendirikan Museum Siraja Teluk Bayur, dengan berbagai koleksi yang tidak ternilai harganya.

            Sudiran mengatakan, peran warga seperti ini harus dihargai dengan baik, karena koleksi yang dimiliki sangat berharga bahkan tidak ternilai. Karena itu perlu perhatian pemerintah baik provinsi maupun kabupaten untuk membantu warga yang dengan sukarela melestarikan berbagai peninggalan tersebut.

            “Saya sangat kagum dengan kesadaran Pak Rahmatsyah yang sukarela menjadikan rumah beserta barang koleksinya menjadi museum,  sehingga bisa dijadikan sarana pendidikan  dan pengetahuan bagi generasi penerus,” ujarnya.

            Sedangkan Rahmatsyah menyatakan, apa yang dilakukannya adalah upaya agar berbagai barang peninggalan masa lalu yang dimiliki tetap lestari dan jangan sampai sepeninggalnya, barang-barang tersebut tidak terurus bahkan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

            Dia mengaku apa yang dilakukan, hingga kini masih mengandalkan biaya sendiri dan dia berharap ada bantuan dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan penjaga  dan pengamanan barang-barang museum.

            “Saat ini untuk menjaga dan menemani pengujung yang datang,  saya lakukan sendiri. Padahal dengan usia saya yang sudah tidak muda lagi,  perlu pembantu dan untuk itu perlu honor, termasuk biaya pengamanan berbagai aset di museum ini,” kata Rahmatsyah yang usianya sudah menginjak 80 tahun.

            Hal senada juga disampaikan Kepala Seksi Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik Kaltim, Sudarsono. Menurut dia pengembangan wisata memang berdampak luas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat, bahkan akan berkembang pada kegiatan wsiata lain.

            Sebagaimana yang terjadi di Berau yang saat ini,  lebih banyak mengembangkan wisata alam, tentunya akan berkembang dengan kegiatan wisata kuliner, wisata belanja, kerajinan dan selanjutnya menumbuhkan kegiatan usaha angkutan, penginapan atau perhotelan dan lain-lain.

            “Tidak heran jika, pengembangan kepariwisataan merupakan program yang berdampak luas terhadap pengembangan ekonomi rakyat dan dampak itu akan dirasakan dalam waktu lama bahkan abadi,” kata Sudarsono.           

            Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisa Berau, Dr Rohaini mengatakan sejak lama, daerah ini sudah menyadari potensi wisata yang tersebar di sejumlah kawasan, sehingga perlu dibangun berbagai sarana pendukung untuk memudahkan akses untuk mencpai kawasan wisata tersebut.

            Pembangunan sejumlah akses, berupa jalan, bandara dan sarana penunjang angkutan air,  agar pengujung lebih mudah dan murah untuk mencapai kawasan wisata dimaksud. Lebih penting lagi adalah dengan pengembangan berbagai objek wisata akan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

            Geliat ekonomi masyarakat yang merupakan dampak dari pengembangan kepariwisataan daerah, tentunya akan berimbas pada pendapatan asli daerah, meskipun untuk mencapai hal itu perlu waktu lama,” ujarnya.

            Saat ini, Kabupaten Berau masih berupaya untuk terus mengembangkan wisata alam yang dimiliki daerah itu, antara lain berupa Gugusan Kepulauan Derwan dengan keindahan taman bawah laut. Selanjutnya Danau Labuan Cermin dengan keunikan berpadunya air laut dan air tawar serta wisata air panas dan banyak lagi kawasan wisata yang menjadi unggulan daerah bahkan nasional.

            Kepala Seksi Destinasi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Kaltim, Aidil Fauzi mengatakan, lembaga tersebut telah membentuk tim penilai Panji Keberhasilan Wisata yang melibatkan kalangan akedemisi. Dengan upaya ini diharapkan penilaian terhadap pembangunan wisata di 10 kabupaten dan kota lebih baik dan objektif.

            Dinas Pariwisata Kaltim hanya memfasilitasi, sedangkan penilaian terhadap sejumlah daerah, terkait dengan program pembangunan kepariwisataan, sepenuhnya menjadi kewenangan tim juri.

            “Tim juri atau penilai, telah melakukan kunjungan pada 10 kabupaten/kota dan kita tunggu saja hasilnya yang akan diumumkan pada Peringatan HUT ke-59 Provinsi Kaltim  pada 9 Januari 2016,” kata Aidil. (eko susanto/humasprov).

///FOTO : Tim Penilai Panji Keberhasilan Pembangunan Pariwisata, dari kiri: Prof Dr  FL Sudiran, Aidil Fauzi, Sudarsono saat meninjau Museum Siraja Teluk Bayur yang didampingi pemilik museum Aji Rahmatsyah (kemeja kuning). (Foto:eko susanto/humasprovkaltim).

 

Berita Terkait