Optimalkan Kunjungan Pelajar dan Masyarakat

Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara

TENGGARONG – Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan salah satu kabupaten di Kaltim yang memiliki potensi wisata dan budaya sangat besar. Bahkan, dikenal sebagai daerah yang memiliki kerajaan tertua di Indonesia.

Potensi yang dimiliki Kabupaten Kukar baik objek budaya maupun wisata harus diketahui masyarakat secara luas. Utamanya, masyarakat setempat khususnya kalangan pelajar dari jenjang taman kanak-kanak (TK/PAUD) hingga SMA bahkan mahasiswa.

Harapan itu diungkapkan Tim Penilai Panji-Panji Keberhasilan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Kaltim yang juga Rektor Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda Profesor Abdur Rachim saat peninjauan ke Tenggarong, Jumat (13/11).

Misalnya, Kota Tenggarong yang dikenal dengan sebutan Kota Raja merupakan ibukota kabupaten memiliki Museum Mulawarman yang sebelumnya merupakan kediaman atau istana Sultan Koetai, berdampingan dengan makam para raja-raja Koetai Ing Martadipura.

Termasuk Masjid Agung Jami Adji Amir Hasanuddin yang dibangun sejak pemerintahan Kerajaan/Kesultanan Kotei Kartanegara pada 1930. Juga, Kedaton Soeltan Koetai Kartanegara yang dibangun Pemerintah Kabupaten Kukar pada 2002.

“Kutai ini dikenal sebagai kerajaan tertua di nusantara dan banyak peninggalan kerajaan yang dapat dilihat masyarakat. Utamanya kalangan pelajar baik jenjang TK atau PAUD hingga mahasiswa untuk pengetahuan,” kata Abdur Rachim.

Selain itu, masih ada objek wisata edukasi yang berada tidak jauh dari Museum Mulawarman yakni Planetarium Jagad Raya yang dibangun Pemkab Kukar pada tahun 2002 melengkapi objek wisata di Kota Tenggarong.

Objek wisata dan budaya ini berada dalam satu kawasan atau di jantung Kota Raja, sehingga masyarakat yang akan melakukan kunjungan wisata tidak akan sulit untuk menjangkau salah satu objek ke objek lainnya.

Tidak jauh dari museum, masih di Kota Raja Tenggarong juga  terdapat makam-makam Sultan Koetai Kartanegara di kawasan Rondong Demang yang dijadikan kawasan wisata religi. Bergeser ke kawasan Kelurahan Sukarame terdapat Waduk Panji Sukarame sebagai wisata alam dan rekreasi.

Demikian pula, tidak jauh dari Waduk Panji Sukarame terdapat Museum Kayu yang di dalamnya terdapat berbagai informasi terkait potensi tanaman khususnya pohon kayu dan hewan khas yang dimiliki Kaltim yang tidak terdapat di provinsi lain.

Namun, tingkat kunjungan wisatawan masih sangat kurang nampak terlihat khususnya di kawasan pusat kota yang terdapat berbagai objek wisata dan budaya Kota Tenggarong. Apalagi, di hari-hari kerja atau bukan hari libur sekolah.

Menurut Abdur Rachim, kondisi kunjungan yang masih sedikit utamanya di hari kerja atau bukan hari libur dapat dilakukan stakeholders (pemangku kepentingan) terkait di sektor pariwisata dan kebudayaan Kukar.

Salah satunya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kukar dapat mengoptimalkan kunjungan para pelajar dari jenjang pendidikan TK/PAUD hingga SMA bahkan mahasiswa melalui kerjasama yang sinergi.

“Kita tidak perlulah mengandalkan kunjungan (wisatawan) dari luar. Cukup kita optimalkan kunjungan wisatawan lokal baik masyarakat maupun pelajar di Kukar melalui kerjasama yang sinergi,” saran Abdur Rachim.

 Kerjasama bisa dilakukan antara Disbudpar dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kukar untuk mengoptimalkan kunjungan para pelajar ke objek-objek wisata dan budaya di Kota Raja Tenggarong.

Rachim menjelaskan ada sebuah negara yang objek wisata dan budayanya tidak pernah sepi dari pengunjung. Kebanyakan para wisatawan itu terdiri para pelajar di negara tersebut yang setiap hari mengunjungi kawasan objek tersebut.

“Potensi objek wisata dan budaya yang dimiliki Kukar ini sangat besar dan nilai sejarahnya dunia. Para pelajar kita di sini termasuk kabupaten dan kota lainnya dapat dijadwalkan secara teratur untuk mengunjungi warisan sejarah dunia ini,” ujar Abdur Rachim.

Dia meyakinkan kerjasama yang sinergi antara Disbudpar dengan Disdik akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata dan budaya di Kukar.             “Hitung saja berapa jumlah siswa sekolah (TK-SMA). Itulah potensi wisatawan di sini,” ujar Abdur Rachim.

Tim penilai terdiri Profesor Abdur Rachim didampingi anggota lainnya. yakni Profesor Sudiran (ahli bidang kebudayaan dari Universitas Tujuh Belas Agustus Samarinda) dan Profesor Syarifah Hudayah (ahli bidang ekonomi Unmul).

Tim penilai diterima Kepala Disbudpar Kukar Sri Wahyuni dan bersempatan mengunjungi Kedaton Koetai Kartanegara, Planetarium Jagad Raya serta  Jam Bentong dan kawasan penyelamatan Orang Utan di The Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja. (yans/sul/hmsprov) 

 

/////Foto : Tim penilai panji keberhasilan bidang pariwisata menerima buku sejarah berdirinya Kerajaan/Kesultanan Koetai Kartanegara yang diserahkan Pangeran Puger atau Haji Adji Pangeran Aryo Puger. (masdiansyah/humasprov kaltim)

 

 

Berita Terkait
Government Public Relation