Orang Tua dan Guru Tingkatkan Kepekaan

Cegah Kekerasan Terhadap Anak

SAMARINDA – Maraknya tindak kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang-orang terdekatnya harus menjadi perhatian khusus para orang tua dan guru sebagai langkah antisipasi agar kekerasan terhadap anak itu tidak terus berlanjut.

“Kita prihatin, akhir-akhir ini kasus kekerasan yang menjadikan anak-anak sebagai korban terus meningkat. Bahkan ini sudah menjadi darurat kekerasan terhadap anak. Kondisi ini menuntut kepekaan  orang  tua dan guru agar terus ditingkatkan,” kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB (BPPKB) Kaltim Hj Ardiningsih, pekan lalu.

Menurut dia, prilaku anak yang sudah terlihat tidak seperti  biasanya ataupun sikap dan kondisi tubuhnya yang berubah harus segera menjadi perhatian para orang tua saat di rumah serta kepedulian guru saat di sekolah.

Ardiningsih mengakui tidak dapat dipungkiri kasus-kasus kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga atau rumah tangga dan lingkup sekolah yang seharusnya menjadi wilayah paling aman bagi anak-anak.

Bahkan sebagian orang sudah berani mengatakan, bahwa Indonesia saat ini sudah layak disebut dengan status darurat kekerasan terhadap anak. Sebab, tidak sedikit kekerasan terhadap anak itu mengakibatkan cidera dan trauma yang  berkepanjangan, bahkan kematian.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak dan pada dasarnya pemerintah terus berupaya melakukan penyadaran serta pemahaman bagi pihak-pihak terkait tentang pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli pencegahan kekerasan terhadap anak.

Utamanya terhadap perlindungan bagi kaum perempuan dan anak-anak yang sering menjadi korban kekerasan baik dalam rumah tangga maupun lingkungan sekitarnya. Upaya itu menurut Ardiningsih tidak mungkin semata-mata hanya mengandalkan pemerintah.

“Tetapi bagaimana kita semua secara bersinergi meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan bagi perempuan dan anak. Ketahanan dalam keluarga juga perlu terus ditingkatkan,” jelasnya.

Ardiningsih mengemukakan kasus kekerasan terhadap anak mengakibatkan cedera fisik dan mental bahkan tidak sedikit anak yang meregang nyawa akibat kebuasan pelaku kekerasan termasuk kekerasan seksual. 

“Mungkin kita perlu melakukan upaya-upaya yang implementatif dan langsung menyentuh masyarakat. Memang kemajuan teknologi informasi salah satu pemicu terjadinya kasus-kasus tersebut,” ungkap Ardiningsih.

Namun dia berharap para orang tua dan guru merupakan garda terdepan perlindungan terhadap anak harus peduli dan peka terhadap perubahan prilaku dan sikap, termasuk apabila ada perubahan fisik pada anak. 

"Kita tidak saling menyalahkan tetapi bagaimana saling introspeksi dan mendukung upaya-upaya pencegahan sejak dini kemungkinan terjadinya kasus kekerasan terhadap anak baik di lingkup keluarga, masyarakat juga sekolah,” harap Ardiningsih. (yans/sul/hmsprov)

//Foto: Pertemuan BPPKB Kaltim membahas perlindungan terhadap perempuan dan anak. (dok/humasprov kaltim).

 

 

Berita Terkait