P2TP2A Kaltim Sosialisasi Soal Pilpres Kepada Perempuan

P2TP2A Kaltim Sosialisasi Soal  Pilpres Kepada Perempuan

 

SAMARINDA - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltim bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), mendorong kaum perempuan untuk tidak Golput (golongan putih) pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli tahun ini.

"P2TP2A terus mendorong dan menyerukan kaum perempuan di Kaltim untuk menyalurkan hak pilih dan jangan mudah terpengaruh dengan adanya isu-isu yang tidak bertanggung jawab," kata Ketua P2TP2A Kaltim Eka Komariah Kuncoro, saat membuka Sosialisasi Pilpres bagi Kaum Perempuan di Sekretariat bersama P2TP2A Kaltim di Samarinda, Rabu (2/7).

Menurut dia, Pilpres sangat penting dan strategis. Karena itu dia menyerukan agar kaum perempuan menggunakan hak pilih secara cerdas untuk menentukan pemimpin bangsa lima tahun ke depan.

"Saat Pilpres nanti, semua kaum perempuan harus memilih jangan tidak memilih karena suara perempuan akan sangat berperan dalam pesta demokrasi ini," ujarnya.

Dia melanjutkan, kegiatan ini digelar karena ada keterkaitan antara kaum perempuan dengan Pilpres. Sebab, menurut Komariah Kuncoro, tindak kekerasan kepada kaum perempuan saat penyelenggaraan Pemilu masih terjadi karena perbedaan pandangan politik.

 "Kaum perempuan tidak jarang mengalami ancaman fisik maupun psikis. Dengan kegiatan ini salah satu yang ingin dicapai agar jangan sampai terjadi tindak kekerasan terhadap kaum perempuan," jelasnya.

Hal lain yang ingin dicapai, agar seluruh kaum perempuan memilih dengan tidak merasa ketakutan, sekaligus kegiatan ini menyosialisasikan P2TP2A kepada masyarakat, mengingat saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan organisasi ini.

Bahkan masih banyak kaum perempuan yang menjadi korban kekerasan bingung kemana harus mengadukan nasib untuk mendapatkan pembelaan dan perlindungan.

"Oleh karena itu kami menyiapkan berbagai media komunikasi bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pada P2TP2A," imbuhnya.

Dijelaskan, pada 2009 hingga 2014, pihaknya sudah menangani sekitar 200 kasus korban kekerasan baik terhadap perempuan maupun anak. (sar/es/hmsprov).

///FOTO :  Eka Komariah Kuncoro(ist)

 

Berita Terkait