Kalimantan Timur
Pembangunan Bukan Bim Salambim

Penggantian Nama Bandara dan Pembangunan Dua Sisi Berbeda
SAMARINDA - Perdebatan tentang rencana penambahan nama Bandara Sepinggan Balikpapan menjadi Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan mendapat tanggapan praktisi pendidikan, Aji Sofyan Efendi. Menurut Aji Sofyan, perdebatan ini sesungguhnya tidak perlu terjadi jika dasar-dasar sejarah lokal sudah ditanamkan sejak dini.

"Perdebatan ini menyadarkan kita, Sejarah lokal perlu diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.  Biar mereka mengenal dengan utuh dan tidak sepotong-sepotong," kata Aji Sofyan, Selasa (21/1).

Sebab saat ini, tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit anggapan yang keliru di masyarakat tentang sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, akibat mereka tidak mempelajari rentetan sejarah secara lengkap dan benar. Dalam sejumlah pemberitaan di media massa maupun media sosial yang sengaja disiapkan pengelola media, hinaan dan hujatan tidak sedikit jumlahnya. Perdebatan kian memanas, ketika kelompok masyarakat lain yang mendukung rencana penggantian itu memberi komentar balasan.

Perseteruan ini pun diakui Aji Sofyan cukup hangat di layanan sosial media internet, facebook dan twiter.   Fenomena sosial dunia maya ini pun kian tidak berbobot, karena hujatan dan cemoohan yang dilontarkan masyarakat, tidak dengan dasar pengetahuan sejarah yang benar.

"Misal, orang sibuk bersahut-sahutan di dunia maya menyebut bahwa Kesultanan Kutai pro Belanda dan sebagainya.  Saya yakin mereka sebenarnya tidak memiliki acuan tentang sejarah lokal karena memang tidak pernah diajarkan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi," tegasnya.

Bisa dipahami, karena pelajaran sejarah yang diberikan di bangku sekolah umumnya masih cenderung pergerakan perjuangan nasional. Tidak ada sejarah lokal yang diajarkan hingga saat ini dan muatan sejarah nasional masih mendominasi.

"Jika sejarah lokal diberikan sejak dini,  saya sangat yakin resistensi penolakan dan hujatan serta perdebatan soal nama bandara ini tidak akan terjadi," sambung Aji Sofyan.

Sementara ketika ditanya soal sindiran masyarakat agar Pemprov Kaltim dalam komando Gubernur Awang Faroek Ishak tidak membuang energi hanya untuk mengganti nama bandara, Aji Sofyan menyebut bahwa persoalan ini merupakan dua sisi yang berbeda dan harus dipahami secara benar dengan pikiran jernih, tidak sekadar puas karena telah bisa menyampaikan kritik dan uneg-uneg kepada pemerintah.

Sindiran dan penambahan nama itu adalah sisi lain. Penambahan nama adalah bentuk penghormatan kepada leluhur. Sementara sindiran pembangunan adalah sisi yang berbeda. Pembangunan itu on going proses, sedang dan terus dilakukan dan masyarakat harus mengawal proses pembangunan agar berada di jalur yang benar.

"Jalan rusak itu bukan hanya yang menuju Berau saja. Di lokasi lain, jalan rusak juga ada. Pembangunan kita on going proses. Semua dilakukan secara bertahap, tidak bisa sim salabim jadi. Lain halnya jika APBD Kaltim Rp50 triliun. Hari ini kita berimajinasi, besok berusaha, lusa sudah bisa terbangun," pungkas Aji Sofyan. (sul/hmsprov).

/////FOTO : Aji Sofyan Efendi



 

Berita Terkait