Pembangunan Infrastruktur Prioritas Utama

Kaltim Summit II 2013 Dalam Mewujudkan Visi Kaltim 2030 (12-Habis)

Guna membentuk postur konektifitas multimoda dari matra darat, laut dan udara, dilaksanakan pembangunan proyek-proyek infrastruktur prioritas utama. Infrastruktur ini merupakan fondasi transformasi sosial ekonomi dan akan menjadi simpul yang menggerakkan perekonomian dan menciptakan multiplier effect bagi wilayah Kaltim.
Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda (99,02 kilometer). Jalan tol pertama di Pulau Kalimantan ini tidak hanya dibangun untuk menghubungkan Balikpapan dan Samarinda saja. Kedepan, pembangunan akan dilanjutkan hingga ke Kutai Timur (KIPI Maloy) dan ke Kutai Kartanegara.
Proyek Jalan Tol merupakan proyek dengan orientasi jangka panjang yang  diproyeksikan untuk mengatasi arus distribusi barang dan penumpang yang akan melonjak seiring dengan meningkatnya kegiatan industri pada tahun 2030 mendatang.
Pembangunan Terminal Peti Kemas Kariangau, Balikpapan. Pelabuhan Internasional Peti Kemas Kariangau mulai dibangun pada 2008, diatas tanah seluas 75,5 hektare. Saat ini pelabuhan tersebut telah mulai beroperasi dan merupakan infrastruktur penunjang dari Kawasan Industri Kariangau (KIK) Balikpapan. Kapasitas Terminal Peti Kemas Kariangau adalah sebesar 250.000 TEUs, dengan rencana pengembangaan hingga 600.000 TEUs.
Pelabuhan Kariangau diproyeksikan akan menjadi pelabuhan internasional hub terbesar di Kaltim, dan akan menerapkan konsep Green Port. Pengembangan Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Pengembangan bandara internasional ini merupakan investasi PT Angkasa Pura I dengan nilai Rp1,6 triliun.
Saat ini Bandara Sepinggan memiliki luas terminal 14.547 m2, dengan kapasitas 1,7 juta penumpang/tahun, tanpa garbarata. Proyek pengembangan Bandara Sepinggan akan memperluas areal bandara menjadi 110.000 m2 dengan kapasitas terminal 10 Juta penumpang/tahun.
Dengan kondisi ini, Sepinggan akan menjadi Bandara terbesar di Indonesia Wilayah Timur.Pembangunan Bandara Kalimarau, Berau. Bandar Udara Kalimarau dibangun guna mendukung Kawasan Industri Pariwisata di Kabupaten Berau. Pembangunannya didanai oleh APBN, APBD Provinsi, serta APBD Kabupaten Berau, dengan nilai investasi sebesar Rp460 miliar.
Saat ini Bandara Kalimarau telah beroperasi, dengan landas pacu 2250 x 30 meter (yang sudah memiliki ijin operasional dari Kementerian Perhubungan). Luas Bangunan terminal baru Bandara Kalimarau adalah 9.000 m2.
Pada 2030, Bandara Kalimarau akan melayani penerbangan skala internasional.Pembangunan Bandara Samarinda Baru (BSB). Nilai investasi pembangunan Bandara Samarinda Baru yang merupakan relokasi dari Bandara Temindung Samarinda adalah sebesar Rp1,9 triliun, dimana Pemprov Kalltim telah mengalokasikan dana sebesar Rp696 miliar melalui skema pembiayaan kontrak tahun jamak (2011-2013).
Terminal penumpang BSB memiliki daya tampung 2,5 juta penumpang/tahun. Saat ini izin pembangunan landas pacu tahap pertama adalah seluas 1.600 x 45 meter (ijin dari Dirjen Perhubungan Udara). Terbangunnya BSB menjawab kebutuhan Kota Samarinda akan prasarana transportasi udara yang representatif sebagai Ibukota Provinsi Kaltim.
Pembangunan Jembatan Mahakam IV (Jembatan Kembar) Samarinda. Panjang bentang Jembatan Mahakam IV adalah 400 meter dengan lebar 17,02 meter, dan tinggi clearance vertikal sepanjang 17,5 meter. Jembatan ini akan menghubungkan sisi utara dan selatan Kota Samarinda sehingga kemacetan yang kerap terjadi di Jembatan Mahakam lama dapat teratasi.
Pembangunan lainnya adalah Pelabuhan Internasional Maloy di Kutim ang terintegrasi dengan kawasan industri, yaitu akan dibangun pelabuhan berskala internasional, dengan rencana pengembangan empat pelabuhan, yakni pelabuhan CPO, pelabuhan Cargo, serta pelabuhan batu bara.
Pada 2030, dengan terbangunnya infrastruktur penunjang dan sistem transportasi yang baik, kondisi yang diharapkan adalah lahirnya pusat-pusat pertumbuhan baru sebagai multiplier effect dari pusat industri unggulan saat ini. Peningkatan status ruas-ruas jalan baik nasional maupun provinsi.
Seluruh kecamatan telah terhubung dengan jaringan jalan yang mantap.Jaringan kereta api telah beroperasi (pengangkutan komoditas sumber daya alam dan penumpang). ALKI II telah berfungsi optimal sebagai jalur perdagangan internasional.
Pelabuhan laut menjadi prasarana utama yang menggerakkan ekspor di Kaltim. Bandar Udara telah berfungsi optimal baik skala internasional, nasional, regional dan lokal Kaltim. Sistem transportasi multimoda telah beroperasi. (heru rinaldi/hmsprov)

//Foto: BANDARA IBUKOTA. Pembangunan Bandara Samarinda Baru. (dok/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait
Government Public Relation