Pemerataan Pengembangan Kota


SAMARINDA – Kepadatan penduduk Kota Samarinda menjadi perhatian khusus Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak dan menyarankan agar  Pemkot bisa mengendalikan permukimaan penduduk, sehingga tidak  terlalu padat di kawasan perkotaan. Hal itu dilakukan dengan mengarahkan permukiman di wilayah Samarinda Selatan dan Samarinda Utara atau sejumlah kawasan yang penduduknya masih dinilai minim.

Hal itu dijelaskan gubernur pada saat pertemuan dengan Walikota Samarinda, H Syaharie  Jaang  yang juga dihadiri Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif dan Ketua Bappeda Kaltim, H Zairin Zain dan sejumlah kepala SKPD terkait. Hadir pula  sejumlah wartawan, yang berlangsung di Ruang Kerja Gubernur Kaltim, Senin, (13/6). 

Menurut dia, Samarinda dengan luasan yang terbatas dan pertumbuhan penduduk cukup tinggi serta pemukiman yang  terfokus di kawasan perkotaan diperlukan ketegasan pemerintah kota untuk mengendalikan permukiman.

“Samarinda sudah terlalu padat, sehingga perlu  pengendalian terkait dengan permukiman penduduk yang diarahkan pada sejumlah kawasan yang dinilai masih minim penduduk. Sekaligus dalam upaya pemerataan pengembangan wilayah, terutama yang terkait dengan permukiman warga,” katanya.

Jika ada pendatang baru, ijin tinggal bisa diberikan untuk wilayah Samarinda Seberang. Karena Samarinda Seberang masih memiliki kawasan  kosong sehingga dapat dimanfaatkan untuk permukinan maupun kegiatan lain. Selain itu, Samarinda sebagai Ibukota Provinsi Kaltim harus mampu mengembangkan diri,  dengan membangun kawasan Kota Satelit. “Terbentuknya Kota Satelit akan memudahkan pemerintah mengatur, terutama yang berkaitan dengan permukiman penduduk,” katanya.

Apalagi, Samarinda sudah memiliki tiga jembatan yang menghubungkan kawasan Samarinda Kota dengan Samarinda Seberang.  Yakni  Jembatan Mahakam Ulu di kawasan Loa Buah dengan Loa Janan. Jembatan Mahakam serta Jembatan Mahkota II yang menghubungkan Sungai Kapih dengan Palaran.

“Sebentar lagi ada jembatan keempat yakni Jembatan Kembar di sebelah Jembatan Mahakam. Tentu infrastruktur ini sangat strategis mendukung pengembangan Kota Samarinda dan saya kira tidak ada masalah mau tinggal dimana saja karena ada jembatan,” ungkapnya.

Awang meminta Bappeda bersama instansi terkait segera menyusun tata ruang kota dan menetapkan kawasan-kawasan sesuai peruntukkan. “Saya yakin Samarinda mampu berbenah diri dan bersaing dengan kota-kota lain,  menjadi kota yang lebih baik dan nyaman bagi warga,” harap Awang.

 

Mendukung

 

Sementara itu, Pemkot Samarinda mendukung pengembangan kota ke wilayah selatan Kota Samarinda yakni Samarinda Seberang. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa pengembang masuk ke wilayah selatan Kota Samarinda yakni dari Sinar Mas dan Citraland.

"Jadi tidak ada masalah kalau pengembangan kota diarahkan  ke wilayah selatan. Kami sangat mendukung itu. Kami akan berikan percepatan perizinan jika ingin mengembangkan di kawasan selatan," kata Walikota Samarinda, Syaharie Jaang dalam pertemuan tersebut.

Menurut dia, untuk  akses atau sarana pendukung wilayah selatan sudah dikerjakan, yakni  percepatan pembangunan Jembatan Mahkota II dan Jembatan Kembar yang akan menjadi magnet bagi orang yang ingin berinvestasi ke Samarinda Seberang.

"Dengan dua jembatan itu, akan mengurangi kemacetan. Sehingga siapapun yang mau berinvestasi ke seberang itu sudah tidak ada masalah. Apakah untuk pengembangan properti, mall dan pusat hiburan serta kawasan perbelanjaan," katanya.

Mengenai Balai Kota yang diusulkan pindah,  Jaang mengatakan bahwa tidak ada masalah jika dipindahkan ke Samarinda Seberang. "Prinsipnya kami tidak ada masalah jika Balai Kota dipindahkan. Pemkot sudah mengadakan simposium atau seminar, saya kira setelah dikaji, silahkan saja digulirkan. Selanjutnya dibangun pada saat walikotanya siapa ya tidak ada masalah. Tetapi yang penting kita  punya perencanaan untuk memindahkan Balai Kota," katanya. (yans/sul/es/humasprov).

Berita Terkait