Pemprov Kaltim Kejar, Pemerataan Pembangunan

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat kunjungan kerja di Tabang, Kutai Kartanegara. (fajar/humasprov kaltim).

 

Pemprov  Kaltim Kejar, Pemerataan Pembangunan 

 

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak  mengatakan  Kaltim masih menjadi salah satu provinsi yang sangat luas. Berpenduduk sekitar 3,5 juta  dengan penyebaran yang tidak merata, menjadi persoalan tersendiri bagi pembangunan. Penduduk di Kaltim, ujar dia, sangat majemuk dengan beragam suku, adat istiadat dan seni budayanya yang khas. Penduduk pun terkonsentrasi di ibukota Kaltim, yakni Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Kutai Kartanegara, sedangkan di kabupaten hingga pedalaman dan perbatasan, persebaran penduduk tidak merata.

 

"Pemprov Kaltim terus berupaya untuk meningkatkan dan melakukan pemerataan pembangunan, sehingga tidak ada lagi kesenjangan ekonomi antara masyarakat perkotaan dengan di daerah pedalaman, perbatasan dan daerah terpencil. Pembangunan terus kita laksanakan dan kita perlu dukungan masyarakat," kata Awang Faroek Ishak pada Groundbreaking pembangunan jalan tambang dan aksesibilitas masyarakat di Kecamatan Tabang (Kukar), Kamis (7/9). 

 

Melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, lanjut  Awang Fraoek, Pemprov terus melakukan percepatan pembangunan di kawasan pedalaman, perbatasan dan daerah terpencil. Program pembangunan infrastruktur untuk pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari air bersih, ketenagalistrikan, jalan akses, jembatan hingga fasilitas kesehatan dan pendidikan terus dilaksanakan dan menjadi prioritas setiap tahunnya.

 

"Wilayah Kaltim sangat luas, untuk membangun tidak bisa dilaksanakan secara cepat karena ada beberapa wilayah yang sangat sulit dijangkau menggunakan transportasi air maupun darat, bahkan udara. Untuk itu, masyarakat harus bersabar, karena Pemprov Kaltim akan terus berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat," jelasnya.

 

Salah salah satu upaya yang dilakukan dalam memutus keterisolasian wilayah di Kaltim adalah dengan membangun infrastruktur jalan, seperti  kerjasama dengan pihak swasta yang akan membangun jalan yang akan menghubungkan tiga daerah Kukar, Kubar dan Kutim.

 

"Dampak multiefeknya  dengan pembanguna  infrastruktur jalan selain memutus keterisolasian antara wilayah, juga untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, oleh karena itu, diharapkan diwilayah Kaltim tidak ada lagi kecamatan dan desa yang terisolasi," paparnya.

 

Awang Faroek  berharap situasi yang aman dan kondusif di Kaltim dapat terus dipertahankan dengan terus menjalin koordinasi, kerjasama dan dukungan seluruh komponen masyarakat, sehingga pembangunan terlaksana dengan baik. Namun, pemerintah bersama masyarakat juga harus tetap waspada, khususnya terkait dengan kedaulatan negara, serta kondisi keamanan dan ketertiban di dalam masyarakat.

 

Menurut dia, seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat di Kaltim tidak boleh lengah karena ancaman bahaya senantiasa ada dan datangnya tidak terduga. Karena beberapa bulan dan tahun-tahun ke depan, Kaltim akan menghadapi berbagai agenda penting terkait dengan kegiatan pemerintahan, politik dan situasi yang tidak stabil di bidang perekonomian.

 

Karenanya, meskipun situasi tersebut melanda dunia secara global, namun dampaknya yang secara langsung juga akan bisa menerpa daerah, dengan munculnya kerawanan konflik dan kerawanan sosial berupa konflik komunal dan kekerasan horisontal, aktivitas terorisme, pertentangan agama dan kepercayaan, penyalahgunaan narkoba, tindakan makar, anarkis dan lain sebagainya.

 

"Ancaman dan bahaya dari dampak yang ditimbulkan tersebut harus kita atasi bersama dengan terus meningkatkan koordinasi dan komunikasi antara jajaran eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI/Polri, dunia usaha dan masyarakat. Semua harus bersatu padu, untuk mencegah secara dini timbulnya potensi-potensi tersebut di lingkungan masyarakat," paparnya. (mar/ri/sul/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation