Peningkatan Bandara Dukung Terwujudnya Konektivitas Antarwilayah
SAMARINDA–Pembangunan bandara (bandar udara) menjadi salah satu program prioritas Pemprov seiring upaya mewujudkan konektivitas antarwilayah di Kaltim. Sejumlah bandara di Kaltim terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan trasportasi udara yang semakin berkembang pesat.
“Kita berupaya mewujudkan pembangunan jembatan udara (interkonektivitas) di Kaltim yang juga harus didukung dengan fasilitas bandara yang baik,” ujar Gubernur Awang Faroek Ishak belum lama ini.
Beberapa bandara besar di Kaltim saat ini telah ditingkatkan pembangunannya. Diantaranya, Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan. Pada triwulan pertama 2013 progress pembangunan telah mencapai 65 persen, meliputi pembangunan gedung terminal penumpang menjadi seluas 110.000 meter persegi dengan 11 unit garbarata, pembangunan gedung parkir dan apron serta infrastruktur lainnya. 
Kemudian, pengembangan Bandara Kalimarau Berau telah dilaksanakan melalui perpanjangan landasan pacu dari 1.850 meter menjadi 2.250 meter sehingga dapat didarati oleh pesawat Boeing 737-300 dan Airbus A-319. Juga telah dibangun terminal penumpang seluas 9.000 meter persegi dilengkapi dua unit garbarata yang telah diresmikan oleh Presiden SBY pada Oktober 2012.
Selanjutnya, pengembangan Bandara Juwata Tarakan, dilakukan pembangunan apron dengan konstruksi sarang laba-laba, terminal penumpang dilengkapi empat unit garbarata dan pembangunan landasan pacu baru (paralel runway). Saat ini Bandara Juwata telah dapat didarati pesawat Boeing 737-900ER dan Airbus 320.
Sebagai pengganti Bandara Temindung Samarinda juga dibangun Bandara Samarinda Baru (BSB) melalui program Multiyears Contract (MYC) 2011-2013 sebesar Rp696 miliar untuk fasilitas sisi darat dengan sumber dana APBD Kaltim dan hingga akhir Juli 2013 progress pembangunan mencapai 65 persen.  
Sedangkan untuk sisi udara (runway dan air traffic control/ATC), Pemprov Kaltim beberapa waktu lalu menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Persada Investment (PI) yang merupakan anak perusahaan Panin Group. Dalam MoU tersebut, PT PI diberikan waktu tiga bulan untuk menyiapkan perjanjian kerja sama (PKS)
“BSB akan menggantikan peran dari Bandara Temindung yang saat ini sudah tidak layak karena sudah dikepung oleh pemukiman penduduk. Semoga pembangunan BSB dapat segera diselesaikan dan Samarinda sebagai ibukota Kaltim akan segera memiliki sebuah bandara yang representatif,” harapnya.
Dalam rangka mendukung pengembangan sektor pariwisata di kawasan Kepulauan Derawan, Sangalaki, Maratua dan Kakaban, Kabupaten Berau, juga dilakukan pembangunan Bandara Maratua, yang telah dilaksanakan sejak 2011 dengan pematangan lahan untuk pembangunan landasan pacu 1.400x30 meter.
Selain itu, Pemprov bekerjasama dengan TNI AD melalui Operasi Bhakti Kartika Jaya telah melakukan pembangunan dan pengembangan tiga bandara di kawasan perbatasan, yakni di Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai, dengan total anggaran Rp400 miliar melalui pola MYC yang bersumber dari APBD Kaltim.
“Masing-masing landasan pacu bandara dikembangkan dari sebelumnya 750 x 23 meter menjadi 1.600 x 30 meter, sehingga kedepan paling tidak dapat didarati pesawat jenis Hercules dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. Pembangunan bandara di Maratua dan kawasan perbatasan ini juga merupakan salah satu wujud komitmen Pemprov membangun kawasan perbatasan/pulau terluar,” tambahnya.
Disamping itu, kabupaten/kota lainnya di Kaltim juga berkeinginan untuk membangun bandara dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi di daerah masing-masing, seperti Bandara Sangatta dan Paser, serta Bontang. Sebelumnya telah ada Bandara RA Bessing di Malinau, Bandara Melalan di Kutai Barat dan Bandara Nunukan. (her/hmsprov)
 
//FOTO : Pembangunan bandara terus digenjot untuk mewujudkan konektivitas antar wilayah di Kaltim.(dok/humasprov kaltim)
 
Berita Terkait