Penjelasannya Lengkap, Pengunjung Puas

Kaltim belajar ke Gedung Agung Yogyakarta

SATU istana kepresidenan yang memiliki sejarah sangat penting dalam perjalanan bangsa ini ada di Kota Yogyakarta. Istana Kepresidenan Yogyakarta atau juga dikenal dengan sebutan Gedung Agung itu terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani atau beberapa langkah dari kawasan Malioboro.  
Secara admnistrasi kewilayahan, Istana Kepresidenan Yogyakarta berada di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Gedung bersejarah yang dibangun pada era Residen ke-18 Yogyakarta, Anthonie Hendriks Smissaert ini pun menjadi target kunjungan orientasi lapangan rombongan Bakohumas Kaltim.
Selain memiliki catatan sejarah bangsa yang sangat penting, rombongan juga ingin melihat lebih dekat pengelolaan Istana Kepresidenan yang dibangun diatas lahan seluas 42.889 m2 di jantung Kota Yogyakarta tersebut.
Istana Kepresidenan Yogyakarta menjadi Istana Kepresidenan ketiga yang dikunjungi rombongan Bakohumas Kaltim setelah Istana Kepresidenan Bogor dan Istana Kepresidenan Cipanas, dua tahun sebelumnya.  
Seperti kunjungan ke Istana Kepresidenan lainnya, setiap pengunjung harus melewati pos pemeriksaan keamanan yang dilengkapi pintu metal detector. Untuk kepentingan keamanan dan ketertiban di lingkungan istana, semua pengunjung tidak diperkenankan membawa tas. Handphone dan kamera digital untuk pengambilan foto, diperkenankan hanya di area luar istana. Sementara situasi di dalam istana tidak boleh diabadikan, baik dalam bentuk film maupun foto. Tidak ada penjelasan tentang larangan tersebut.
Rombongan Bakohumas Kaltim yang dipimpin Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Kaltim, S Adiyat selama kunjungan ke Istana Kepresidenan Yogyakarta ini dipandu seorang staf Sekretariat Negara, yang memang bertanggung jawab atas pengelolaan seluruh Istana Kepresidenan di Indonesia.
Penjelasan dari  seorang pemandu ini dilakukan di semua Istana Kepresidenan untuk memberikan pemahaman tentang sejarah dan apa saja yang terjadi di sekitar istana. Penjelasan juga diberikan terkait barang-barang yang ada di luar dan di dalam bangunan-bangunan di lingkungan istana.
Dibangun pada Mei 1824, kehadiran gedung ini dimaksudkan untuk memberi kesan berwibawa bagi para Residen Belanda yang bertugas di Yogyakarta. Arsitek bangunan ini  bernama, A. Payen yang lebih kuat menggunakan gaya arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan sentuhan tropis.   Pada 1825 hingga 1830 saat pecah perang Diponegoro, proses pembangunan gedung ini terhenti. Pembangunan baru dilanjutkan saat perang usai, sekitar tahun 1832.
Bangunan ini porak poranda saat terjadi dua kali gempa hebat di hari yang sama pada 10 Juni 1867. Bangunan ini berdiri kembali pada 1869. Hingga saat ini, gedung tersebut menjadi gedung induk di komplek  Istana Kepresidenan Yogyakarta dan disebut dengan nama Gedung Negara.
Pada 19 Desember 1927,  status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Penguasa tertinggi Belanda kala itu, bukan lagi residen, tapi gubernur. Sejumlah gubernur Belanda yang pernah bertugas di sini diantaranya adalah   JE Jasper (1926-1927), PRW van Gasseler Verschhuur (1929-1932), HM De Kock (1932-1935), J Bijlevel (1935-1940), serta L Adam (1940-1942). Selanjutnya, pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan untuk kediaman penguasa Jepang di Yogyakarta, Koochi Zimmukyoku Tyookan  
“Pelayanan staf yang bertugas di sini sangat baik. Kita hampir-hampir tidak perlu bertanya lagi karena penjelasan secara detil telah diberikan oleh staf pemandu dengan menggunakan pengeras suara,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Kaltim, S Adiyat yang memimpin rombongan.
Di depan gedung utama istana, pemandu sudah memberi penjelasan bahwa dari sisi penamaan, Istana Kepresidenan Yogyakarta juga dikenal dengan nama Gedung Agung. Penamaan ini sangat terkait dengan fungsi gedung utama sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung Negara.
Sejarah penting istana ini terjadi ketika pada 6 Januari 1946, pusat pemerintahan Republik Indonesia  yang masih belum genap setahun dipindahkan ke Yogyakarta. Gedung Agung pun menjadi kediaman Presiden Soekarno, presiden pertama Indonesia bersama keluarganya. Sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan keluarga tinggal di gedung yang sekarang menjadi markas Korem 072/Pamungkas, tidak jauh dari istana.
Sejumlah peristiwa bersejarah terjadi di istana ini. Ruang utama gedung ini diberi nama Ruang Garuda.  Di ruang inilah Presiden Soekarno melantik Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juli 1947. Jenderal Soedirman didaulat menjadi pucuk pimpinan tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia. Lima kabinet pemerintahan Indonesia yang masih muda itu pun  dibentuk dan dilantik di istana ini.
Satu ruangan di sisi kiri bagian depan Ruang Garuda diberi nama Ruang Soedirman. Nama ini dipilih karena di ruang itulah Jenderal Soedirman memohon ijin kepada Presiden Soekarno untuk meninggalkan pusat kota Yogyakarta dan bergerilya bersama rakyat dan tentara Indonesia. Sementara satu ruang di sisi kanan depan Ruang Garuda diberi nama Ruang Diponegoro sebagai penghormatan atas jasa dan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah.
Saat terjadi Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, presiden, wakil presiden dan perdana menteri Indonesia diasingkan oleh Belanda ke Brastagi dan Bangka. Mereka baru  kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949 dan istana ini kembali difungsikan.  Namun sejak 28 Desember 1949 pusat pemerintahan kembali dipusatkan di Jakarta.
Hingga kini tidak kurang dari 65 kepala Negara, termasuk kepala pemerintahan dan tamu-tamu Negara singgah dan menginap di Gedung Agung ini. Tamu Negara yang pertama berkunjung adalah Presiden Rajendra Prasad dari India (1958).
Pada tahun-tahun berikutnya menyusul Raja Bhumibol Adulyadej dari Muangthai dan Presiden Ayub Kan dari Pakistan pada tahun 1960. Berikutnya Perdana Menteri Ferhart Abbas dari Aljazair (1961). Presiden D Macapagal dari Filipina (1971), Ratu Elisabeth II dari Inggris (1974), Perdana Menteri Srimavo Bandaranaike dari Srilangka (1976). Perdana Menteri Lee Kuan Yew dari Singapura (1980), Yang Dipertuan Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam (1984), Ny Marilyn Quayle, istri Wakil Presiden Amerika Serikat (1984), Presiden F. Mitterand dari Perancis (1988), Pangeran Charles bersama Putri Diana dari Inggris (1989) dan Kepala Gereja Khatolik Sri Paus Paulus Johannes II (1989).
Kunjungan semacam ini terus berlanjut hingga era 90an dan saat ini. Selain dalam rangka kunjungan resmi kenegaraan, para tamu Negara ada pula yang melakukan lawatan tak resmi dalam rangkaian menikmati wisata budaya ke Candi Borobudur dan candi-candi lain di sekitar Yogyakarta.
“Peristiwa penting lain terjadi ketika 5 Desember 2005, Presiden SBY melakukan reshufle kabinet dan mengumumkannya di Ruang Garuda ini. Demikian pula saat terjadi gempa bumi dahsyat 27 Mei 2006, Presiden SBY memilih berkantor di sini demi efektifitas dan efisiensi pemerintah dalam penanggulangan bencana di sini,” jelas sang pemandu.
Rombongan juga berkesempatan menyaksikan bagian-bagian lain istana diantaranya Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu dan Wisma Saptaprala yang disiapkan untuk para wartawan. Rombongan juga menikmati berbagai karya lukis  yang dipajang di Kompleks Seni Sono (ruang museum/pameran). Di sepanjang jalan diantara ruang-ruang istana juga dipajang deret foto kegiatan presiden dan wakil presiden.
Setelah puas mendapat penjelasan dalam kunjungan ke Istana Kepresidenan Yogyakarta ini, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Keraton Ngayogyokarto untuk melihat pengelolaan wisata budaya keraton dan kemudian melanjutkan kunjungan ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan. (sul/hmsprov)

//Foto: GEDUNG BERSEJARAH. Rombongan Bakohumas Kaltim saat berkunjung ke Gedung Agung Yogyakarta. (samsul/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait