Perlindungan Tanaman Diarahkan Pola PHT

SAMARINDA – Pelaksanaan perlindungan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menerapkan konsep Integrated Pest Control atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian ini harus diintensifkan sebagai upaya untuk menekan populasi atau intensitas serangan OPT (Organisme Penggangu Tanaman).
“Peranan pengendalian non kimiawi seperti pengendalian hayati dengan memanfaatkan agen hayati bersama kultur teknis lainnya lebih banyak dikembangkan  sehingga tidak bergantung pada pestisida sintesis,” kata Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Etnawati didampingi Kepala UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan Supriyadi, Rabu (18/9).
Menurut dia, pestisida sintesis secara terus menerus akan menimbulkan resistensi terhadap hama penyakit, sehingga perlu adanya pestisida pengganti  seperti menggunakan agen hayati.
Diakuinya, keberhasilan pembangunan perkebunan memerlukan dukungan seluruh komponen perkebunan terkait upaya meminimalisir kerusakan dan kehilangan mutu hasil akibat gangguan serangan OPT serta dampak perubahan iklim dan kebakaran lahan/kebun.
Beberapa produk pertanian termasuk perkebunan ditolak Negara pengimpor karena tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan akibat terbawanya serangga, jamur dan kotoran serta residu pertisida diatas ambang batas yang ditentukan.
Kondisi ini akibat belum bakunya penerapan GSP (good agricultural practices) pada tingkat usaha tani serta belum optimalnya penerapan quality control (pengawasan kualitas) pada seluruh rantai perdagangan.
“Pengendalian OPT harus diusahakan agar dapat menekan populasi dan serangan hama tersebut secara maksimal dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman dan lingkungan, tetapi mampu meningkatkan produksi yang maksimal,” ungkapnya.
Dijelaskan, patogen merupakan hama OPT yang sering menyerang tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit, kakao, lada dan kopi serta kelapa dalam. Tanaman tersebut mendapat serangan dengan intensitas sedang sampai berat atau mengakibatkan tanaman mati.
“Patogen  dapat menyerang seluruh bagian tanaman dan serangan paling membahayakan dan mematikan adalah pada pangkal batang atau akar yang tampak pada kelayuan tanaman yang terjadi secara cepat bahkan kematian tanaman,” ujarnya. (yans/hmsprov)
 

Berita Terkait