Petani Diajak Kembangkan Kawasan Usaha Agrobisnis Terpadu

KUTAI BARAT – Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim terus  mengembangkan Kawasan Usaha Agrobisnis Terpadu (KUAT) yang menggabungkan usaha perkebunan, pertanian, kehutanan dan perikanan yang dipadukan dengasn sektor lainnya.
Konsep KUAT akan dikembangkan di kalangan petani  sehingga petani tidak saja menanam satu jenis komoditi unggulan, tetapi dapat mengkombinasikan dengan produk pangan dan hortikultura, yakni sayuran, buah-buahan, mina padi dan lainnya.
“Warga desa di sini telah menanam kelapa sawit sebagai mata pencaharian dan sumber pendapatan utama. Kemudian lahan-lahan kosong diolah untuk ditanam singkong, kacang tanah dan tanaman lainnya. Itulah yang disebut Kawasan Usaha Agrobisnis Terpadu atau KUAT,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim H Ibrahim usai panen ubi kayu dalam rangkaian kunjungan kerja di Desa Siram Makmur, Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat, Sabtu (19/5).
Ibrahim juga mengharapkan agar petani memelihara hewan ternak sapi agar  dapat diambil kotorannya dan dijadikan pupuk organik dan bio gas, sebagai salah satu cara untuk mengatasi mahalnya harga pupuk dan pestisida saat ini. Selain itu kotoran hewan dapat dimanfaatkan untuk gas rumah tangga.
Menurut Ibrahim, Dinas Pertanian Tanaman Pangan bekerjasama dengan Universitas Mulawarman akan menyelenggarakan seminar tentang ubi kayu di Samarinda pada Juni mendatang. Sehingga seluruh potensi, hasil produk olahan ubi kayu dan produk-produk turunan lainnya dapat dikembangkan di Kaltim.
“Pemerintah pusat dalam waktu dekat  akan memberikan bantuan mesin pengolah ubi kayu. Bantuan ini masih dalam proses lelang di Jakarta. Ketika bantuan telah tiba, kami akan langsung memberikan bantuan mesin tersebut untuk warga desa Siram Makmur,” ujarnya.
Tanaman singkong di Kaltim telah ditanam di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kecamaratan Kota Bangun dan Muara Kaman Kab.Kutai Kartanegara dan di Kecamatan Bongan, Kutai Barat.
Produk akhir dari ubi kayu ini berupa tepung singkong yang kini harganya  mencapai Rp6.000 per kilogram. Selain itu ubi kayu juga dapat dijadikan bio ethanol yang dapat digunakan untuk campuran bensin kendaraan.
Dijelaskan, saat ini telah tersedia Kredit Pangan Sejahtera yang diluncurkan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim, sehingga petani melalui kelompoknya  dapat mengajukan pinjaman untuk pengembangan usaha pertanian.
Sementara itu, Pj. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Kaltim, Abu Helmy mengatakan bahwa Pemrov Kaltim terus berupaya mensejahterakan petani melalui pembangunan pertanian.
“Pak Gubernur berpesan agar masyarakat dapat hidup rukun, damai dan terus menjaga keamanan serta terus meningkatkan persaudaraan diantara warga.  Sehingga petani dapat sejahtera dan makmur melalui sektor pertanian,” harapnya.
Kecamatan Bongan memiliki luas 227,793 kilometer persegi terdiri dari 16 kampung dengan jumlah penduduk sebanyak 8.500 jiwa yang  mayoritas bermata pencaharian sebagai petani.  
Dari luas wilayah, 28.000 hektare (ha) lahan digarap swasta dengan jumlah tanaman pangan seluas 17.000 ha dan tanaman kelapa sawit seluas 5.286 ha.  Setelah dikenalkan pada tanaman ubi kayu, petani setempat yang tergabung dalam 65 kelompok tani mengalokasikan lahan seluas 700 ha untuk pengembangan tanaman ubi kayu. (yul/hmsprov).

////Foto : Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, H Ibrahim bersama masyarakat  Desa Siram Makmur, Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat, saat melakukan panen ubi kayu, Sabtu lalu.(yuliawan/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait
Government Public Relation