Petani Harus Berdaya Saing Masuki MEA

SAMARINDA - Diberlakukannya perdagangan bebas masyarakat ekonomi Asean (MEA)  sejak 1 Januari 2016  menjadi tantangan bagi di Indonesia tidak terkecuali petani Kaltim.

Tantangan itu disampaikan Kepala UPTB Badan Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Kaltim Syarfiddin pada Pelatihan Teknis bagi Fasilitator BP3K (Balai Pelatihan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Auditorium UPTB Bapeltan Sempaja Samarinda.

“Betapa tidak, perdagangan bebas di berbagai lini juga berimbas pada sektor pertanian, terutama pertanian. Agar tidak tersingkir maka petani Kaltim wajib berdaya saing dan terampil,” kata Syarfiddin saat mewakili Kepala BKPP Kaltim, Rabu (10/2).

Menurut dia, saat diberlakukan MEA maka semua negara Asean akan bebas melakukan perdagangan termasuk didalamnya pertukaran pekerjaan termasuk di sektor pertanian.

Disebutkannya, banyak negara anggota Asean seperti Thailand, Malaysia dan  Singapura yang ingin bekerja di Indonesia. Mereka melihat Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan.

Diakuinya, saat ini pekerja sektor pertanian negara-negara Asean itu belajar bahasa agar bisa masuk ke Indonesia  dan bekerja di bidang pertanian.

Selain itu, sejak 10 tahun lalu mereka mempersiapkan diri agar dapat berbaur dengan masyarakat Asean yang semakin terbuka dan maju.

Pekerja-pekerja sektor pertanian tersebut umumnya berasal dari negara-negara agraris yang mirip dengan Indonesia. misalnya, Thailand, Myanmar, Vietnam, Malaysia dan Singapura.

Karenanya, Syarfiddin menekankan pentingnya pelatihan bagi para penyuluh agar dapat mendampingi para petani di lapangan.

“Apalagi kemajuan teknologi di bidang pertanian semakin maju dan memerlukan pendampingan untuk mengawal keberhasilan swasembada pangan Kaltim,” ungkap Syarfiddin.

Pelatihan teknis bagi Fasilitator Balai Pelatihan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan diikuti 30 peserta berasal dari kabupaten/kota di Kaltim dan Kalimantan Utara.(yans/hmsprov)

Berita Terkait